Mahasiswa Indonesia di Italia: Bertahan di Tengah Wabah Virus Covid-19

Oleh: Yasmin Mauliddina dan Firda Fadhilah

Italia, relawan.id – Hingga 23 Maret 2020, Italia menjadi negara nomor satu di Eropa dengan kasus Covid-19 terbanyak, kedua terbanyak setelah China. Awal terjadinya kasus Covid19 di Italia adalah 3 kasus pada 21 Februari 2020. Awalnya berpusat di Casalpusterlengo dan sekitarnya. Tak lama virus itu menyebar, pemerintah Italia menutup daerah tersebut.

Kemudian pada 8 Maret 2020 ditetapkan status lockdown untuk wilayah Lombardia yang di dalamnya termasuk Milan sebagai ibu kotanya dan Casalpusterlengo sebagai pusat awal wabah. Satu hari kemudan pada 9 Maret 2020, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte menetapkan status national lockdown, menutup seluruh wilayah Italia.

Hingga saat ini, 23 Maret 2020, tercatat 59.138 kasus Covid-19 di Italia. Tingkat kematian di Italia bahkan melebihi China (3.4%). Tingginya angka harapan hidup di Italia menyebabkan banyaknya penduduk berusia tua lebih rentan terjangkit virus ini. Rumah sakit yang menjadi rujukan diantaranya RS Sacco, RS San Raffaele, dan RS Bergamo Papa Giovanni XXIII. Di RS Bergamo inilah kasus Covid-19 terbanyak per 22 Maret 2020.

Sebanyak 300 pasien meninggal dalam sehari, kamar jenazah dan tempat kremasi penuh, sehingga sebagian diangkut oleh mobil militer ke luar kota. Bergamo sendiri masih di dalam region Lombardia. Italia mendapatkan bantuan dari China berupa tenaga medis dan lebih dari 17 ton alat-alat kesehatan pada 19 Maret lalu.

Hingga saat ini tidak ada obat yang spesifik untuk Covid-19. Namun vaksin untuk Covid-19 sedang dikembangkan. Menggunakan teknik yang lebih baik dibanding sebelumnya, vaksin ini lebih cepat dari sisi produksi. Vaksin yang disebut mRNA-1273 ini sudah mencapai tahap percobaan klinis.

Kondisi Italia yang terpapar Covid-19 ini mempengaruhi kegiatan bisnis, proses belajar, kegiatan keagamaan, perkantoran, dan transportasi.

Kegiatan akademik

Kegiatan akademik untuk sekolah dan universitas, yang seharusnya dimulai tanggal 24 Februari 2020, ditunda menjadi 3 Maret 2020. Namun keadaan tidak juga membaik, hingga akhirnya sekolah diliburkan mulai 4 Maret 2020.

Sementara itu, sebagai langkah untuk tetap mengadakan kegiatan kampus, terutama di jenjang universitas, pihak kampus menyelenggarakan sistem online class, dimana mahasiswa dapat mengakses dan mengikuti kelas secara sistem daring agar kegiatan kampus tetap berjalan. Perangkat lunak seperti skype, email, Microsoft Teams juga dimanfaatkan untuk bisa memfasilitasi kegiatan kampus secara jarak jauh.

Sistem wisuda juga diselenggarakan secara daring untuk menghindari adanya kerumunan dan perayaan yang melibatkan orang banyak. Sebagai contoh, wisuda kedokteran dan keperawatan di University of Milan yang diselenggarakan Maret lalu. Rektor Univeristy of Milan, Elio Franzini, memfokuskan kelulusan beberapa jurusan agar bisa membantu tenaga medis saat ini.

Kegiatan perkantoran

Beberapa sektor bisnis terutama kantor-kantor, juga menerapkan work-from-home (WFH). Di awal-awal pertama kali terkena outbreak Covid-19, wacana WFH sudah direncanakan, namun sistem ini belum sepenuhnya berjalan. Di tanggal 24 Februari – 7 Maret 2020, penetapan WFH ini masih bersifat optional, masih ada karyawan yang pergi ke kantor, baik untuk menyelesaikan administrasi, hukum, dan teknis terkait dengan fasilitas laptop, akses, dan jaringan akses internet. Kemudian, mulai tanggal 9 Maret 2020 ketika terjadi national lockdown, sistem WFH ini diterapkan di mayoritas kantor.

Kegiatan keagamaan

Kegiatan keagamaan seperti shalat Jumat pun ditiadakan. Begitupun dengan misa gereja, dan kegiatan beribadah lainnya yang menggunakan ruang publik. Pengajian rutin Komunitas Muslim Indonesia Milan (KMIM) yang biasanya rutin diadakan sebulan dua kali, juga dihentikan untuk sementara waktu, untuk mencegah penyebaran kasus Coronavirus ini.

Kondisi layanan publik

Pada tanggal 11 Maret 2020, pemerintah mengeluarkan peraturan baru dengan menutup semua toko, bar, restoran, pusat olahraga, dan hanya supermarket dan apotek yang diizinkan beroperasi. Peraturan ini juga tetap mengacu peraturan yang sebelumnya bahwa harus ada jarak 1 meter antar pengunjung supermarket, dan adanya pembatasan jumlah pengunjung yang masuk sekitar 10 orang. Oleh karena itu, antrean terjadi di luar supermarket, bukan dikarenakan panic buying, tapi adanya pembatasan jumlah pengunjung.

Transportasi publik seperti bus dalam kota dan kereta bawah tanah (Metro) masih beroperasi. Di Metro, tiap penumpang menjaga jarak aman 1 meter, biasanya mengosongkan 2 kursi di sebelahnya atau berdiri. Bus juga menggunakan pembatas antar penumpang dan pengemudi agar tidak berdekatan dan tidak memfungsikan pintu paling depan dekat pengemudi.

Meski masih beroperasi, transportasi publik ini terlihat sangat sepi dan frekuensinya lebih jarang dibanding kondisi normal. Sesuai peraturan Kementerian Kesehatan, pihak penyedia transport publik yakni ATM Milano, membersihkan transport publik lebih dari sebelumnya.

Kabar terbaru dari KBRI Roma

KBRI per tanggal 20 Maret 2020 menghimbau pelancong WNI di Italia agar segera kembali ke Indonesia. Untuk pelajar dan pekerja dihimbau untuk tetap tinggal. Di minggu pertama kasus Covid19 muncul di Italia, pihak KBRI telah aktif untuk melakukan pemutakhiran data diri WNI dengan menyebarkan formulir online.

Dengan begitu, data teraktual mengenai WNI di Italia dapat dipantau untuk antisipasi keadaan darurat di masa mendatang. Pihak KBRI meyakini bahwa sistem kesehatan di Italia menjamin perlindungan kesehatan pada WNA-nya sehingga WNI tetap aman dan tidak perlu opsi pemulangan WNI dari Italia.