Tips Mengelola Keuangan di Era Krisis Wabah Covid-19

Jakarta, relawan.id – Seiring dengan penyebaran virus corona atau Covid-19 yang kian bahaya, banyak sekali dampak yang diakibatkan oleh pandemi ini. Salah satunya adalah dampak ekonomi yang cukup signifikan. Oleh karena itu masyarakat harus bisa mempersiapkan diri dengan pintar dan efisien baik dari segi materiil maupun finansial.

Untuk menghadapi hal itu, Financial Planner, Masyarakat Ekonomi Syariah Ahmad Gozali mengatakan saat hal ini terjadi masyarakat tidak terlalu sibuk meratapi keadaan, sehingga lupa untuk segera maju. Oleh karena itu dibutuhkan rencana untuk bangkit dan maju.  

“Jadi yang pertama sekarang adalah bangun dari keterpangahan kita. Kita kaget kadang-kadang dengan apa yang terjadi, sehingga kita bingung mau ngapain, akhirnya kita tak mengambil tindakan apapun. Sekarang coba evaluasi bisnis anda. Kalau kita berbicara evaluasi bisnis, saya selalu sampaikan gunakan tool yang ada, yaitu laporan keuangan kita,” ujar Ahmad Gozali, Sabtu (28/3/2020).

Pada laporan keuangan tersebut, Ahmad meminta yang harus dikejar pada kondisi ini adalah cash flow, karena cash flow jauh lebih penting dibandingkan profit. Sehingga, yang bakal menang melawan kondisi ini adalah yang memiliki paling banyak amunisinya bukan yang paling untung.

“Pertama dilaporan keuangan anda pastikan bahwa sekarang yang anda kejar adalah cash flow. cash flow jauh lebih penting dibandingkan profit. Jadi yang anda kejar sekarang adalah cash flow bukan profit karena yang paling banyak amunisinya itulah yang menang, bukan yang paling untung dan mulai sekarang perhatikan betul berapa jumlah cash anda di neraca, tengok neraca anda sekarang, lihat rekening kita,” jelasnya.

Selain itu, Ahmad meminta untuk melihat berapa saldo cash dibandingkan pengeluaran bulanan, hal itu penting dilakukan untuk mengukur seberapa lama kita bisa bertahan dalam kondisi yang tidak menyenangkan ini, seberapa lama cadangan range kita untuk menghadapi kondisi ini, satu bulan, dua bulan, tiga bulan atau empat bulan.

“Prediksi pertama kita mungkin berpikir dua minggu atau tiga minggu kondisi ini akan selesai, tapi melihat kondisi sekarang rasanya dua bulan atau tiga bulan dari sisi kesehatan, dari sisi ekonomi recoverynya akan lebih lambat lagi. Maka dari itu, untuk menghadapinya yang pertama kita harus melakukan cash analisa, berapa cash kita dan dibagi pengeluaran kita bulanan, semakin besar semakin bagus angkanya. Saya berharap teman-teman bisa ketemu angka seperenam. Jika tidak seperenam berarti ada dua hal yang harus dilakukan, yang pertama cashnya kita naikan, yang kedua pengeluarannya kita turunkan,” jelasnya.

Bagaimana caranya meningkatkan cash? Menurut Ahmad, yang harus dilakukan adalah mengubah yang lain menjadi cash, seperti konversi piutang, konversi inventory, dan jika terpaksa konversi fixes asset menjadi cash. Kalau angka ini belum cukup mencapai angka enam, maka pengeluaran harus dikurangi.

“Bagaimana caranya? berarti kita harus melakukan efisiensi. Efisiensi yang kita lakukan adalah pertama konversi Fixed Cost menjadi Variable Cost, artinya biaya-biaya yang kita tanggung, berapa pun biaya produksi kita, kita harus merubah menjadi variable cost sehingga biayanya mengikuti kapasitas produksi, tapi sekarang yang berat adalah kapasitas produksi kita dipaksa untuk turun, kenapa? Karena sellnya turun, pengunjung berkurang dan konsumen berkurang. Dan perlu diketahui daya beli mereka sekarang dialokasikan untuk tujuan kesehatan bukan untuk tujuan yang lainnya,” tuturnya.

“Oleh karena itu fix cost diubah menjadi variable cost supaya kita bisa punya pengeluaran yang setara dengan kapasitas produksi. Kapasitas produksi turun, pengeluaran juga turun. Fix cost harus sangat dikurangi supaya pengeluaran tadi bisa seperenam dari cash flow,” tambahnya.