Tips Jaga Kekebalan Tubuh di Tengah Penyebaran Covid-19

Jakarta, relawan.id – Jika kekebalan tubuh Anda kuat, Anda tidak akan mudah jatuh sakit. Untuk meningkatkan kekebalan tubuh, ada berbagai cara sederhana yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan menjalani gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Menjaga sistem imun agar tetap kuat akan memperkecil kemungkinan untuk terinfeksi COVID-19 sekaligus mempercepat kesembuhan jika terlanjur terserang virus.

Lantas, bagaimana cara menjaga sistem imun agar tetap kuat? Berikut ini adalah rekomendasi cara menjaga sistem imun atau daya tahan tubuh dari Perhimpunan Alergi-Imunologi Indonesia (PERALMUNI) beserta panduan dari beberapa penelitian ilmiah.

1. Tidur yang cukup

Sistem imun akan terbantu berkat tidur yang cukup. Jika kita kekurangan tidur, maka fungsi sistem imun akan berkurang. Ini ditegaskan oleh penelitian berjudul “Sleep and Immune Function” yang dipublikasikan di European Journal of Physiology pada November 2011.

Menurut penelitian tersebut, tidur yang cukup bisa menurunkan kadar kortisol yang bertindak sebagai hormon stres anti inflamasi, memperkuat sistem imun dan pelepasan prolaktin. Penelitian berjudul “Sleeping Hours: What is the Ideal Number and How Does Age Impact This?” yang dipublikasikan di jurnal Nature and Science of Sleep menyarankan orang dewasa muda berusia 18-25 tahun dan orang dewasa berusia 26-64 tahun tidur 7-9 jam dalam sehari.

2. Berhenti merokok

Seperti yang kita ketahui, merokok dikaitkan dengan banyak penyakit serius, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke hingga diabetes. Menurut penelitian berjudul “Impacts of Cigarette Smoking on Immune Responsiveness: Up and Down or Upside Down?” yang dipublikasikan di Impact Journals pada 25 November 2016 mengatakan bahwa merokok punya dampak buruk bagi imunitas bawaan dan adaptif.

Ini akibat zat yang ada di rokok, misalnya nikotin yang menjadi agen imunosupresif. Belum lagi, tar yang bisa melumpuhkan silia di paru-paru dan memperbesar risiko terkena emfisema dan bronkitis kronis. Alhasil tubuh kesulitan untuk melawan penyakit dan membuat kita sembuh lebih lama. Berhenti merokok bisa mencegah dampak buruk pada sistem imun.

3. Stres

Stres bisa melemahkan sistem imun dan membuat tubuh rentan terserang penyakit. Ini didukung oleh penelitian berjudul “Current Directions in Stress and Human Immune Function” yang ditulis oleh Jennifer N. Morey, Ian A. Boggero dan Suzanne C. Segerstrom. Menurut penelitian tersebut, stres akut bisa meningkatkan kadar sitokin proinflamasi dalam darah.

Dari penelitian itu, ditemukan bahwa kadar sitokin proinflamasi yang terlalu tinggi mempunyai keterkaitan dengan skizofrenia dan penyakit berat lain. Garis besarnya, stres bisa memengaruhi kekebalan tubuh pada individu serta merusak sistem kekebalan tubuh. Selain itu, stres kronis bisa memperbesar risiko penyakit autoimun.

4. Latihan fisik teratur

Mens sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Pasti kamu sudah tahu tentang semboyan berbahasa Latin itu. Menurut penelitian berjudul “Immune Response to Exercise” yang ditulis oleh Alexander J. Koch, Ph.D dan diterbitkan di Brazilian Journal of Biomotricity pada Juni 2010, latihan fisik rutin bisa memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Aktivitas fisik bisa memengaruhi sel natural killer (NK), yang merupakan garis pertahanan pertama dalam sistem kekebalan tubuh. Selain itu, olahraga juga memengaruhi proliferasi limfosit serta aktivitas neutrofil dan monosit. Untuk meningkatkan kinerja sistem imun, disarankan untuk melakukan latihan fisik teratur, setidaknya 20-30 menit per hari.

5. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang

Terakhir, sistem imun akan bekerja maksimal apabila diberi asupan makanan yang bergizi seimbang. Fungsi sistem imun akan menurun apabila kita mengalami defisiensi zink, asam folat, selenium, tembaga serta vitamin A, B, C, D dan E. Disarankan mengonsumsi sayur dan buah dalam jumlah banyak.

Selain itu, disarankan untuk meningkatkan konsumsi probiotik, zink dan vitamin D3. Probiotik berperan meregulasi respons imun non-spesifik dan spesifik dengan mengatur fungsi sel dendritik, makrofag, sel limfosit T dan B. Zink berperan untuk perkembangan neutrofil, sel limfosit T dan B serta sel natural killer. Dan vitamin D3 berperan untuk regulasi sel dendritik, makrofag, sel limfosit B serta limfosit T.