Pandu Riono Sebut Layanan Kesehatan untuk Lawan Covid-19 Masih Kurang

Jakarta, relawan.id – Wabah virus corona atau Covid-19 masih terus menunjukkan penyebaran masif di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut memicu kewaspadaan dan kekhawatiran di berbagai negara.

Wabah yang berasal dari Kota Wuhan, China, ini mulai menyebar dan menjangkiti ribuan orang sejak pertengahan Januari 2020, termasuk di Indonesia, hal itu diungkapkan Staf Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat UI, dr. Pandu Riono, MPH, PH.D.

Pandu juga mengatakan virus ini sudah menyebar dari akhir bulan Januari 2020 atau awal Februari 2020, sebetulnya gejala covid seperti demam,batuk sudah meningkat terus sampai akhir Januari dengan lonjakan yang sangat tajam dan kemudian baru tanggal awal Maret ada 3 orang positif.  

“Sebenarnya kalau kita punya alat tes yang andal, kita sudah bisa menemukan lebih awal, ini problemnya pada awal-awal Januari, Februari alat kita masih belum mantap jadi banyak pause negatif. Jadi kalau hasilnya tesnya pause negatif ya berarti tidak ada kasus, tesnya saja yang tidak mampu mengkonfirmasi, jadi ini yang harus diperhatikan bahwa tidak konfirmasi berarti tidak ada kasus, jadi yang kita mau bukan yang dilaporkan jubir, yang kita prediksi adalah yang terjadi sesungguhnya di Indonesia ini,” tukasnya.

Tak hanya itu, Pandu juga menyebut pelayanan kesehatan di Indonesia terbilang masih kurang, terlebih kasus yang positif Covid-19 semakin meningkat. Hal itu terbukti kapasitas layanan kesehatan keteteran, dan sulit memberikan pelayanan yang terbaik karena rumah sakit sudah penuh dan sebagainya.

“Ini yang menurut saya penting, karena memang untuk menjadi masukan untuk pemerintah dan kalau kita melakukan upaya yang besar atau yang lebih intervensi moderat, sehingga jumlah yang perlu perawatan akan lebih rendah, lebih sedikit, sehingga layanan kesehatan kita mampu menampungnya dan layanan kesehatan kita bisa lebih rilek, jadi petugasnya juga bisa memberikan pelayanan terbaik. Harapannya kasus yang meninggal jauh lebih kecil daripada kita tidak melakukan apa-apa,” jelasnya.

Selain itu, Pandu mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran Covid-19. Jadi, kata Pandu, PSBB ini artinya bersifat nasional, sehingga tidak perlu memikirkan wilayah lagi, karena kasus ini sudah terjadi, yang tadinya hanya di Jakarta dan sekitarnya dan sudah menyebar keseluruh wilayah Indonesia.

“Tapi perlu diingat Indonesia itu punya 5 kota yang punya penerbangan langsung dengan Kota Wuhan, seperti , Makassar, Manado, Batam, dan Jakarta yang paling besar arus penerbangannya,  sejak awal Januari atau mungkin sejak Desember 2019 sudah banyak orang yang datang ke Jakarta itu membawa virus, jadi secara teoritis tidak mungkin Indonesia terbebas dari virus, secara teoritis tidak mungkin hanya bulan Maret, itu sudah terjadi pada pertengahan Januari, mungkin akhir lah karena bukti-bukti yang mendukung kasus-kasus yang datang ke Indonesia tapi terdeteksi di Australia, terdeteksi di Singapura, terdeteksi di negara lain, itu dilaporkan dari sejak awal januari, Artinya sudah tertular di Indonesia sejak akhir Januari,” tegasnya.

“Kita itu jangan memikirkan wilayah, jadi efisenter bukan hanya di Jakarta, memang awal masifnya itu di Jakarta tapi sekarang sudah menyebar keseluruh wilayah Indonesia, yang paling dekat Jakarta menjadi yang paling terbesar penyebarannya yaitu jawa barat, itu konsekuensi geografis yang tidak bisa dihindari, karena DKI Jakarta dan Jawa Barat sekitarnya tidak ada lagi batas administrasi makannya Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang, semua penduduk itu sudah seperti satu kesatuan, mobilitas ini yang menjadi driver penularan keseluruh Indonesia, kalau ini bisa ditekan maka kita bisa melakukan pembatasan sosial itu,” jelasnya.