Kokoro, Kairo dan Korona

Oleh: Faris Ibrahim (Mahasiswa Jurusan Akidah- Filsafat Universitas al- Azhar, Kairo)

Kairo, relawan.id – Ketika saya mulai menguap saat membaca karya-karya penulis besar, ada kalanya saya mulai mempertanyakan, sebenarnya Natsume Soseki ini bisa nulis atau enggak sih? Saat membaca Kokoro, kok rasanya frustasi sekali setiap membalik lembaran berikutnya. Paragraf- paragraf panjang satu halaman, tempo cerita yang lambat, dialog-dialog yang garing, ingin sekali saya mengatakan, “sudahlah Sensei, cepat bunuh diri sana, biar saya bisa cepat-cepat tidur.”

Agaknya permasalahannya sudah saya temukan, bukan penulisnya yang buruk, atau karyanya yang jelek, momentum membacanyalah yang tidak mendukung. Seperti layang-layang yang hanya bisa terbang ketika ada anginnya, agaknya begitu pula halnya dalam membaca, ada waktu tertentu di mana kita bisa menautkan sepenuhnya kedirian kita pada suatu karya. Bukan setiap waktu, ada waktu tertentu ketika membaca Kokoro yang membosankan bisa jadi sangat berkesan.

Dalam menulis, agaknya seperti itu juga. Hanya dalam suasana yang ‘paling’ saya membiasakan diri untuk menulis, paling senang, paling sedih, paling marah, pokoknya dalam suasana itulah saya merasa tulisan saya benar-benar jujur mewakili kedirian saya. Makanya saat Abdul Fattah as-Sisi  (Presiden Mesir) tiba-tiba mengumumkan keadaan darurat (halah at- thowari’), saya langsung merasa diberkati, karena, itu menandai jawaban dari pertanyaan saya sering kali ucapkan dalam hati: kapan giliran suasana yang paling sunyi tiba?

Ternyata jawabannya turun saat pandemi corona berkelana ke Seantero Kairo, korban bergelimpangan, as-Sisi (sebutan Presiden Mesir) menyuruh kami untuk mengurung diri. Sekejap tagar kholik fil bait menyebar ke seluruh negeri. Kairo jadi begitu sunyi. Tauhid wa an -Nur hanya buka sampai siang menjelang sore hari. Sisanya begitu sepi. Dari kamar, yang saya dengar hanyalah dengung mesin pompa air saat beroperasi. Di malam hari, anjing- anjing menggongong pertanda aneksasi atas jalanan kami sudah resmi. Tinggalah sunyi.

Saya kira yang seperti ini hanya bisa diwujudkan oleh revolusi, ternyata juga oleh pandemi. Dulu iri saya sampai Kairo hanyalah satu, kepada mereka yang beruntung bisa hadir jadi saksi atas revolusi. Namun, setelah dipikir-pikir, tidak juga saya merasa mesti mengasihani diri, saat akhirnya malah berakhir jadi saksi atas pandemi di negeri Piramida ini. Revolusi adalah hari-hari paling ramai. Pandemi adalah hari-hari yang paling sepi. Kalau tidak keduanya, bolehlah paling tidak salah satunya, pikir saya.

Lagi pula, pandemi juga momen yang amat langka. Kapan lagi saya bisa menyelesaikan resolusi baca, yang biasanya mangkrak setiap tahunnya. Cita-cita yang saya kira hanya utopia, terwujud juga ternyata, kini saya bisa seharian membaca, digaji lagi oleh negara. Para dermawan dan pejabat di Kairo, menggaji kami dengan bertumpuk sembako, tidak ada cara sepadan menurut saya untuk balas budi, kecuali dengan berusaha membaca setumpukan buku. Setumpuk berbalas setumpuk, kan berkelindan.

Tentu saja Kokoro adalah prioritas utama saya untuk dibaca kembali. Membaca novel tentang kesunyian di hari-hari paling sunyi, ini baru tepat, pikir saya. Namun, tidak, ketika saya sampai pada sepenggal kalimat: “kesunyian ialah harga yang (mesti) kita bayar karena kita dilahirkan di abad modern,” agaknya seakan Sensei ingin menggugat saya: sunyi tidak mengenal waktu yang tepat, sunyi di abad modern adalah sehari- hari, dengan atau pun tanpa adanya pandemi ia akan datang dengan caranya sendiri.

Salah satu caranya boleh jadi lewat wabah. Agamawan dengan Iman percaya bahwa wabah datangnya dari Tuhan, atheis meragukan: kenapa anak-anak kecil tak berdosa di sekitar Vatikan mesti dihukum juga? Lalu yang lain bilang: inilah hikmah di balik cara agama kita menjaga makanan, sumber wabahnya kelelawar. Terus jawab yang lain, lah unta? Memang bukan? Apapun itu perdebatan, mestinya kita bersepakat dalam satu musabab keserakahan.

Ialah yang barangkali membuat kita menengadahkan tangan ke langit mendambakan kutukan, pandemi. Kita mengutuk manusia karena serakah, tapi alfa dalam benak kita, bahwa kita juga termasuk bagian darinya; pandemi menghukum kita sebagai sekumpulan, bukan sebagai perorangan. “Bukan kau teristimewa yang tak kupercaya, tetapi manusia, seluruhnya,” pandemi agaknya berpikiran sama seperti Sensei, merasa berhak menghukum manusia semuanya atas keserakahan sebagiannya.

Serakah tidak serakah, pandemi menghukum saya seharian rebahan di sofa, ditemani orkestra sayap nyamuk berterbangan, sambil menatap langit-langit kamar, senandung mesin pompa air yang semakin nyata terdengar mengingatkan saya betapa lamanya tanggal 9 datang saat Wifi hidup kembali. Rumah benar-benar terasa sunyi, sampai saya membaca tentang Sensei, kesunyian saya ternyata bukanlah apa-apa dibanding dirinya. Bukan lagi rumah, dunia sendiri bagi Sensei sudah begitu sunyi.

Sunyinya sepanjang waktu, tidak lagi tertentu, sepeti saya memilih waktu yang tepat untuk membaca buku. Memang kalau wabah artinya, terjangkit kesialan secara acak, maka sejatinya itu adalah ihwal sehari- hari. Tiada hari tanpa ada padanya wabah. Saat ponsel saya dicuri selepas kuliah, saat saya lupa membawa uang padahal kondektur sudah berdiri di hadapan, saat kejedot layar karena ketiduran; saat itulah saya merasa terjangkit wabah. Wabah yang penderitaannya sebentar saja, tinggal lalu pergi.

Lain dengan Sensei, wabahnya terus menjangkitinya, tinggal, hingga akhir hayatnya. Kematian tragis sahabatnya, K, adalah wabah yang menyiksanya lama-lama: hidup dalam keadaan seolah- olah sudah mati, “serupa mumi di tengah makhluk hidup.” Impiannya memperistri Ojosan terwujud, ia menikahi gadis yang ia cintai, namun itu tidak serta- merta membuatnya merasa ‘berdua’. Tanpa K, karibnya, Sensei bilang: “aku hidup sendiri di dunia ini.” Seakan kebahagiannya terjangkit wabah.

Persis seperti suasana kita belakangan hari, bersama- sama selalu terasa sendiri; karena bersatu kita runtuh bercerai kita teguh. Mau bagaimana lagi, pandemi memaksa kita jadi manusia yang sunyi. Kesunyian memang kadang menyiksa, namun ia juga memberi kita waktu-waktu berharga untuk melakukan sesuatu yang selalu terintangi oleh waktu, merenung tentang sakralnya kematian, menyusun rencana untuk kehidupan ke depan. Pandemi selalu memberi kita kesempatan di tengah kesempitan.

Salah satunya kesempatan untuk memblokir jalan agar ia tak kembali lagi. Namun begitu, wabah adalah siklus, selalu ada jalan lain baginya untuk datang kembali. Seperti sepatu Cinderella, setiap virus punya penawarnya sendiri. Virusnya berubah, penawarnya baru lagi. Demi memecahkan permasalahan itu dokter-dokter kita akan terus mengenyam “pendidikan,” yang seperti kata Sensei: “membuat orang pandai mengemukakan alasan.” Alasan untuk bilang: pandemi tak akan kembali.

Sesungguhnya pandemi pasti akan datang kembali. Di tengah sorak-sorai kita merayakan kemenangan, pandemi kini sedang menyiapkan kembali bala tentaranya: tikus-tikus di selokan, kelelawar-kelelawar di goa, unta-unta di Padang, untuk kembali menebar kesunyian bagi kita manusia. Kita patut bersedih, namun patut pula kita merenungi apa kata Sensei: “aku manusia yang sunyi, karena itu aku senang kalau kau mengunjungiku.” Kita selalu bisa mengatakan itu pada pandemi.