Cerita Sita Saat Ramadhan di Rusia Tanpa Ditemani Keluarga

Rusia, relawan.id – Berangkat ke Rusia, bukanlah cita-cita Eka Widiyana Laksita atau yang akrab dipanggil Sita semasa kecil. Ketika SMA, bahkan sudah dekat dengan akhir masa sekolah ia belum juga menemukan dan menentukan pilihan. Terlintas dipikirannya, untuk mengambil Bahasa Rusia yang dianggapnya masih asing akan bahasa tersebut di Indonesia.

Hal ini juga menumbuhkan cita-cita barunya agar dapat mengambil peran dan kerja menjadi translator di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Atas masukan dari salah satu anggota keluarganya yang telah lebih dulu kuliah dan tinggal di Rusia, ia membulatkan tekadnya untuk mendaftar beasiswa S1 yang dibuka oleh pemerintah Rusia setiap tahunnya. Setelah melewati serangkaian seleksi, yakni wawancara dan administrasi. Selama 8 bulan lamanya, ia harus menunggu pengumuman dan hidup dalam ketidakpastian.

Tiba pada waktu yang ditunggu, ia diterima di salah satu Universitas Negeri Pushkin State Russian Language yang bertempat di kota Moskow, Rusia. Kini, saatnya ia bersiap untuk mempelajari filologi atau yang lebih dikenal Sastra dan Bahasa Rusia.

Berangkat seorang diri, ini merupakan pengalaman pertama kali berpergian keluar negeri tanpa didampingi siapapun. Ia pun bukan hanya bersiap melihat universitas yang telah menantikan kehadirannya, namun, perjalanan menuju ke negara yang terkenal akan keindahan Gereja berkubah Masjid adalah pengalaman yang paling berkesan dalam hidupnya.

Sesampainya di Negara adidaya tersebut, hawa dingin langsung menusuk tubuh yang belum bersahabat dengannya. Mulai saat itu juga, ia langsung beradaptasi dengan udara dingin Kota Moskow yang akan menemaninya hingga satu tahun kedepan.

Culture shock pun ia alami, dari yang biasanya di Kota Jakarta dapat dengan mudahnya menggunakan transportasi umum tanpa harus bersusah payah. Kini, ia pun harus lebih bersahabat dengan kaki sebagai tumpuan utamanya untuk berkunjung ke tempat-tempat eksotis yang ada di negara tersebut. Ada satu kejadian yang membuatnya shock, yakni berjalan kaki dengan jarak yang jauh.

Beberapa waktu telah dilaluinya, ia bersyukur dapat bertemu dan menjalin pertemanan dengan orang-orang baru dari berbagai negara di belahan dunia. Waktu tak terasa lama baginya, karena dilewati bersama teman-teman tercinta hingga sampailah pada bulan Ramadhan.

Terasa sedih baginya, tidak dapat merayakan ibadah Ramadhan bersama keluarga tercinta. Namun, mau dikata apa lagi ia harus melakukan ibadah Ramadhan di negeri jauh. Untungnya, rasa sedih itu terobati dengan melakukan sahur dan shalat tarawih bersama dua teman sesama muslim yang berbeda negara dengannya. Terlebih lagi, KBRI di Kota Moskow rutin mengadakan sajian buka puasa bersama.

Sebelum sampai di Negara tersebut, ia sering mendengar stigma bahwa toleransi di sana rendah. Namun, pada kenyataannya stigma tersebut dipatahkan saat ia melaksanakan shalat Ied di Masjid KBRI. Aparat keamanan negara bahu-membahu menjaga keamanan serta ketertiban agar ibadah dapat berlangsung dengan khidmat. Islam merupakan agama terbesar kedua di Rusia, bahkan Rusia sudah menjadi negara yang mempunyai umat muslim terbanyak di Eropa.

Butuh waktu bagi ia untuk dapat berdaptasi dengan kebiasaan di sana, perihal makanan ia cukup cocok dengan olahan makanan manis khas Rusia. Dalam segi sosial, ia butuh banyak waktu hingga 3 bulan lamanya dengan kebiasaan orang Rusia yang kurang ramah senyum dengan orang asing. Hingga saat ini, kemegahan aneka bangunan instagenik di penjuru Kota Moskow selalu dalam benaknya.