Bantu Pengungsi Rohingya, MRI Bireun Gelar Galang Donasi

Aceh, relawan.id – Beberapa hari yang lalu Indonesia dihebohkan oleh sebuah kapal yang terombang-ambing di perairan Aceh Utara, membawa sebanyak 99 warga etnis Rohingya. Mereka diduga terkatung-katung di laut setelah kapal yang mereka tumpangi rusak. Para nelayan Aceh pun dengan sigap menyelamatkan puluhan pengungsi tersebut.

Merespons puluhan warga Rohingya yang berlabuh di Aceh Utara, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bireun langsung merespons dengan mengadakan aksi penggalangan dana. Dalam aksi pada Kamis (2/7/2020) ini, tim juga mengajak masyarakat di sekitar Bireun untuk membantu saudara Rohingya yang terdampar di Aceh Utara.

Humas MRI Bireun, Rizal Fahmi mengatakan, selain untuk membantu saudara-saudara etnis Rohingya, aksi ini juga bertujuan memupuk kepedulian masyarakat. Hingga satu pekan ke depan, MRI Bireun berencana akan terus mengadakan aksi kemanusiaan lainnya.

“Selama satu pekan ke depan, MRI Bireun akan terus melakukan aksi-aksi kemanusiaan. Baik aksi itu berupa galang dana ataupun social movement untuk membangun kepedulian masyarakat,” ujar Rizal, Jumat (3/7/2020).

Dengan adanya aksi-aksi ini, Rizal berharap masyarakat juga akhirnya bergerak bersama untuk membantu saudara-saudara mereka yang sedang dalam kondisi sulit tanpa memandang suku dari mereka.

“Insyaallah, berbagai macam aksi yang kita lakukan dapat mengajak masyarakat untuk bergerak bersama. Kita akan terus membangun kepedulian masyarakat Bireun terus dibangun untuk membangkitkan rasa solidaritas antar umat manusia, sehingga dapat tercipta peradaban yang lebih baik di masa depan,” ungkap Rizal.

“Semoga dengan adanya penggalangan donasi ini bisa membantu muslim Rohingya untuk kebutuhan sehari, seperti makan, kesehatand dan lain-lain,” tambah Rizal.

Sebagai informasi, Rabu (24/6) lalu, sebuah kapal terombang-ambing di perairan Aceh Utara. Kapal itu memuat 94 warga etnis Rohingya dengan rincian 15 laki-laki dewasa, 49 perempuan dewasa, dan 30 anak-anak. Sampainya mereka di lautan Nusantara bukan tanpa sebab, konflik kemanusiaan yang menimpa mereka menjadi alasan pelayaran tersebut.

Mereka ditampung sementara di bekas Kantor Imigrasi Desa Punteuet. Pemerintah bersama sejumlah lembaga kemanusiaan kini memenuhi kebutuhan mereka. Termasuk ACT misalnya, yang menyuplai kebutuhan pangan bagi pengungsi di sana. Tiap harinya ada 300 porsi makanan siap santap yang dibagi untuk tiga waktu, makan pagi, siang, dan malam. Selain itu ada dukungan psikososial dan armada-armada kemanusiaan yang segera tiba di sana.