Epidemiolog UI Sebut Tak Semua Rumah Bisa Diterapkan Isolasi Mandiri

Jakarta, relawan.id – Banyaknya pasien Covid-19 saat ini menyebabkan rumah sakit cukup kewalahan menangani pasien. Oleh karena itu, bagi sejumlah pasien yang tak terlalu parah, kebijakan isolasi rumah diterapkan untuk dilakukan.

Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan kebijakan isolasi mandiri di rumah bisa membahayakan anggota keluarga lain di rumah tersebut. Tidak setiap rumah layak untuk melakukan isolasi mandiri pada pasien Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan.

“Menurut saya kebijakan ini tidak menggunakan nalar yang baik. Tidak setiap rumah, tidak setiap keluarga bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Jadi, harus dicek rumahnya seperti apa,” kata Pandu dalam Diskusi Urgensi Penanganan Permukiman Padat Penduduk Menghadapi Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.

Pandu menyorot mengenai sosial budaya di Indonesia di mana di dalam satu rumah terdapat banyak anggota keluarga. Mulai dari kakek, nenek, anak, menantu, dan cucu. Kemungkinan orang yang melakukan isolasi mandiri melakukan kontak dengan anggota rumah yang lain tetap ada.

Sudah banyak kasus ketika ada satu orang yang terinfeksi kemudian menularkan ke anggota lain di rumah. Bahkan, katanya, cucu yang ada di rumah itu juga terinfeksi.

“Jadi, kalau ada yang terinfeksi jangan isolasi di rumah. Harus ada tempat tertentu yang sdah disiapkan untuk isolasi mandiri,” kata Pandu.

Khusus untuk pemukiman padat penduduk, ketika seseorang yang terinfeksi Covid-19 menjalani isolasi mandiri di rumah, menurut Pandu maka bukan hanya keluarga saja yang berisiko terinfeksi, tetangga juga.

Di pemukiman padat penduduk seperti di kawasan kumuh yang dalam satu rumah dengan lahan sempit diisi oleh banyak orang amat sulit melakukan 3M (menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker).

“Hampir tidak mungkin menjaga jarak, tidak mungkin mencuci tangan karena akses air terbatas, pakai masker? Siapa yang menyediakan? Mereka ini kan juga kelompok miskin,” katanya.

Padahal, penularan virus SARS-COV-2 sangat dipengaruhi dengan kontak dari orang lain. Pada pemukiman padat penduduk, kemungkinan kontak antar penghuni sangat tinggi begitu pula penyebarannya.