Kisah Inspiratif Hoirudin, Security Menara 165 yang Ramah

Jakarta, relawan.id – “Pagi kasep! Sehat, Berkah, Semangat, Sukses Selalu”, kata-kata inilah yang selalu menyapa karyawan dan pengunjung Menara 165. Dia adalah Muhammad Hoirudin, salah satu security Menara 165. Dia adalah sosok yang murah senyum dan sangat ramah kepada siapa saja yang berkunjung ke Menara 165.

Hoirudin juga sangat bersahabat dengan semua karyawan di kantor. Ia juga selalu siap membantu karyawan kapanpun Ia dimintai pertolongan. ‘Tanpa Pamrih’ mungkin sebuah kata yang cocok untuk menggambarkan Hoirudin. Hoirudin mengajarkan kita semua akan adanya sebuah kebaikan yang muncul bahkan dari sosok ataupun tempat yang tidak kita sangka sekalipun.

Sebelum bekerja di Menara 165, Hoirudin bekerja di sebuah perusahaan PT. Santosa Agrindo pada tahun 2011 sampai 2013, setelah di sana, Hoirudin mencari pengalaman lainnya dengan bekerja sebagai operator SPBU-Pertamina pada 2013 sampai 2014, akhirnya setelah di sana, Hoirudin memutuskan untuk pindah pekerjaan lagi, dengan menjadi security di Menara 165.

“Saya sih pindah-pindah, perjalanannya sih lumayan, karena saya ingin mengembangkan diri saya dengan mencari banyak pengalaman,” ujar Hoirudin.

Hoirudin menceritakan alasannya selalu menyapa karyawan dan para pengunjung Menara 165, hal itu dikarenakan ingin memberikan semangat kepada karyawan dan pengunjung, karena Hoirudin sering melihat pengunjung atau karyawan terlihat suntuk mungkin karena pekerjannya mereka yang terlalu berat. Oleh karena itulah, Hoirudin ingin menghibur dan memberikan semangat kepada semua karyawan dan pengunjung Menara 165, salah satunya dengan menyapa.

“Semoga dengan cara seperti itu saya bisa menghibur mereka, karena saya selalu ingin bisa bermanfaat bagi orang banyak, walaupun hal itu kecil. Dengan cara salam, memberikan senyuman kepada rekan-rekan, teman-teman semua. Menyapa itu selain untuk menghibur mereka, menyapa tidak lain karena ibadah. Karena ibadah itu paling utama. Karena saya kerja utamanya ke Allah, awali pagi hari juga ke Allah, ke Allah dulu baru ke kerjaan,” terangnya.

Hoirudin dari kecil sudah menjadi orang yang mandiri, karena pada waktu kelas 1 SMP orangtuanya mengalami stroke, Hoirudin pun harus berjuang dengan adiknya yang waktu itu kelas 6 SD untuk bekerja mencukupi kehidupan sehari-hari.

“Kalau diceritakan saya aja mau nangis, karena memang berat banget, bisa jadi sampai sekarang. Mangkanya saya tidak ingin mengeluh, mengeluh bagi saya tidak pantas, karena saya selalu yakin ada Allah. Mangkanya saya selalu ngasih support ke semua orang, saya ngga mau melihat orang sekitar saya sakit,” ucapnya sambil meneteskan air mata.

Tapi setelah mendapatkan kabar bahwa Hoirudin kontraknya selesai, Hoirudin merasa bingung harus kemana lagi mencari pekerjaan, karena sebelumnya ada tawaran di salah satu perusahaan yang sebenarnya sudah menerima dia, tapi tiba-tiba membatalkan secara sepihak, padahal, Hoirudin sudah mengharapkannya.

“Sebenarnya sudah ditentukan kapan saya mulai kerja, gaji juga sudah ditentukan, tapi mereka bilang ngga jadi. Padahal saya sudah dipanggil resmi ke kantornya dia, sampai-sampai mereka mengatakan tanggal 10 Agustus bapak mulai kerja ya. Tapi pada kenyataanya ngga jadi, saya tidak bisa ngomong apa-apa, mungkin Allah berkehendak lain, beruntungnya Allah kasih tahu sekarang,” jelasnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Semoga selama di sini saya bermanfaat, dan saya ingin dimanapun saya berada, bermanfaat bagi orang banyak,” tutup Hoirudin.