Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzuhijjah

Jakarta, relawan.id – Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah merupakan salah satu waktu yang memiliki kualitas terbaik dari semua waktu yang ada. Maka dari itu kita diingatkan untuk memburunya dengan melakukan amal-amalan terbaik.

Ustadz Sutomo Abu Nashr,Lc dalam bukunya “Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah” mengatakan, orang-orang yang cerdas tidak akan memperlakukan waktu istimewa ini dengan perlakuan yang sama sebagaimana waktu-waktu yang lain. Menurut dia, ketika di waktu yang lain, biasa saja dalam mengerjakan ibadah.  “Maka waktu istimewa ini adalah saatnya kita dengan cerdas memilih jenis ibadah apa yang bisa secara maksimal kita lakukan,” katanya.

Ia mengatakan, keistimewaan dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah keistimewaan yang datangnya langsung dari syariat. Ia menuturkan ada banyak teks wahyu baik dari Al-Quran maupun hadits nabi yang menunjukkan keistimewaan tersebut.

Misalnya, di antara keistimewaan-keistimewaan bulan Dzulhijjah itu adalah disebutkan Al-Quran secara khusus, dijadikan sumpah oleh Allah, disebutkan hadits secara khusus, amalan yang paling dicintai Allah, berkumpulnya beragam ibadah induk. 

1. Disebutkan Al-Quran secara khusus.

Al-Quran secara khusus menyebut hari-hari istimewa tersebut dengan Al Ayyam Al Maklumat (hari-hari yang telah diketahui). Dan maksud dari hari-hari yang telah diketahui dalam penafsiran imam As Syafi’i adalah sepuluh hari yang pertama dari bulan Dzulhijjah itu.

“As Syafi’i mengatakan, “hari-hari yang diketahui adalah sepuluh hari yang akhirnya hari raya qurban” (Al Muzani, Mukhtashar, hal. 170 vol. 8).

Ayat yang dimaksud terdapat dalam surat Al Hajj ayat ke-28. Allah dalam surah Al Hajj aya 28 berfirman, yang artinya agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut (berdzikir) nama Allah di hari-hari yang telah ditentukan….”

Ustadz Sutomo Abu Nashr mengatakan terkait hal ini memang para ulama sebenarnya tidak sepakat dalam penafsiran hari-hari yang telah diketahui itu. Ada yang menafsirkan maksudnya adalah hari tasyrik, dan ada juga yang lainnya. “Sejumlah pendapat terkait itu juga disandarkan beberapanya kepada ibnu ‘Abbas.”

Dan salah satu penafsiran tersebut adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah, dengan memasukkan tanggal sepuluh sebagai hari terakhir. Dan inilah yang menjadi madzhab terpilih Imam As Syafi’i. 

Imam Ibnu Katsir menuturkan, ‘Dari Syu’bah dan Husyaim, dari Abi Bisyr, dari Said dari Ibnu ‘Abbas, “Hari-hari yang diketahui adalah sepuluh hari (pertama)”. Imam Bukhari mengomentari riwayat ini dengan nada memastikan. Pendapat serupa juga diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari, Mujahid, Qatadah, ‘Atha, Saed ibn Jubair, Al Hasan, Dhahak, Atha’ Al Khurasani, dan Ibrahim An Nakhai. Inilah madzhab As Syafi’i dan pandangan masyhur Imam Ahmad ibn Hanbal’ (Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adzim, hal. 364 vol. 5) 

“Inilah salah satu keutamaan yang dimiliki oleh waktu istimewa bernama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah,” katanya.

2. Dijadikan Sumpah oleh Allah

Keistimewaan berikutnya adalah bahwa sepuluh hari pertama itu dijadikan salah satu media bersumpah oleh Allah SWT. Dan semua yang suka mentadabburi Alquran sangat memahami bahwa ketika ada salah satu makhluk-Nya yang dijadikan sumpah, maka hal itu tidaklah menunjukkan kecuali keistimewaan luar biasa yang dimiliki oleh makhluk terpilih tersebut. 

Allah SWT bersumpah dengan matahari, bulan, bintang, langit, bumi, dan beragam jenis waktu yang kita ketahui. Dan kita tahu, semua makhluk tadi adalah makhluk-makhluk besar, penting, dan menakjubkan. Ada yang disadari ada yang tidak.

Maka ketika sepuluh hari yang kita bahas ini ternyata juga menjadi salah satu media sumpah itu, maka sedikit tergambarlah dalam benak kita betapa luar biasanya sepuluh hari itu. 

Untuk keistimewaan kedua ini, ungkapan yang lebih akurat sebenarnya adalah sepuluh malam. Akan tetapi dalam penafsiran para ulama terhadap sepuluh malam tersebut, mereka menyebutkan bahwa maksud sepuluh itu adalah sepuluh yang pertama dari bulan Dzulhijjah. 

Ayat yang dimaksud adalah ayat kedua dari surat Al Fajr ayat dua yang artinya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan (demi) malam-malam yang sepuluh”

Imam Ibnu Katsir menyebutkan, “Dan malam-malam yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh (pertama) dari bulan Dzulhijjah, sebagaimana telah dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan selain mereka baik dari kalangan salaf maupun khalaf” (Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim, hal. 390 vol. 8). 

Untuk menguatkan pandangan ini, Ibnu Katsir kemudian menyebutkan satu hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ibnu ‘Abbas tentang keutamaan beramal di hari-hari istimewa itu. 

3. Disebutkan Hadits Secara Khusus

Rasulullah SAW secara spesifik menyebut hari-hari istimewa yang sepuluh itu sebagai hari-hari paling utama yang ada di dunia. Karena penyebutan paling utama inilah, para ulama ada yang kemudian menyimpulkan bahwa hari-hari tersebut bahkan lebih utama dari hari-hari mulia penuh berkah sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Hadits yang dimaksud itu adalah riwayat Imam At Thabarani dan yang lainnya. Rasulullah.

“Hari-hari yang paling utama di dunia adalah sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah” (At Thabarani, Fadhl ‘Asyr Dzilhijjah, hal. 36).

Di antara para ulama yang menyimpulkan bahwa sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah lebih baik dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Keutamaan ini adalah keutamaan yang dimiliki oleh siang-siangnya. 

Sedangkan untuk malam-malamnya, sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan tetap yang paling utama, mengingat adanya lailatul Qadar di salah satumalamnya. (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, hal. 51 vol. 1).

4. Amalan yang Paling Dicintai Allah

Selain hadits dalam keutamaan ketiga di atas, penyebutan khusus juga ada dalam hadits berikut ini. Hadits ini lebih menekankan tentang betapa Allah subhanahu wa ta’ala jauh lebih mencintai suatu amalan ibadah tertentu jika amalan tersebut dilakukan di hari-hari tersebut.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn ‘Abbas, Rasulullah SAW.

“Tidaklah ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih Allah cintai dari hari-hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

‘Para shahabat bertanya, “termasuk jihad fi sabilillah ?. Rasulullah bersabda, “Termasuk jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yangkembali sama sekali”

Hadits ini seperti menginformasikan kepada kita tentang satu kesempatan emas bagaimana amal shalih apapun akan bernilai istimewa di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan bila dibandingkan dengan jihad sekalipun. “Syaratnya adalah amal shalih itu harus dilakukan di masa kerja bernama sepuluh.hari pertama bulan Dzulhijjah.

5. Berkumpulnya Beragam Ibadah Induk

Inilah salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh hari-hari yang sepuluh itu bila dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Tidak ada rangkaian hari-hari yang mampu menghimpun banyak ibadah apalagi ibadah induk dalam satu rangkaian tersendiri.

Dan itu hanya terjadi di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Keistimewaan inilah yang secara tegas disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Beliau mengatakan. 

“Yang tampak terkait sebab menjadi istimewanya sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah adalah karena terhimpunnya induk-induk ibadah di  dalamnya. Yaitu; shalat, puasa, sedekah, dan haji. Di mana untuk waktu-waktu yang lain, hal demikian tidak akan bisa terjadi” (Ibnu Hajar, Fathul Bari).