Teladan Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

Jakarta, relawan.id – Ibadah kurban setiap Hari Raya Idul Adha berawal dari kisah kerelaan Nabi Ibrahim AS mengurbankan anak yang sangat ia cintai, Nabi Ismail AS.

Ismail adalah adalah anak yang sangat dinantikan kehadirannya oleh Nabi Ibrahim. Setiap malam, Ibrahim berdoa diberikan anak yang saleh.

Ketika Ismail lahir, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa anak dan istrinya, Siti Hajar meninggalkan Palestina.

Mereka pergi menyusuri padang pasir yang gersang hingga tiba di lembah tandus. Lembah Bakkah yang kini merupakan Mekkah. Ibrahim lalu meninggalkan Siti Hajar dan Ismail dengan makanan dan minuman seadanya.

Saat meninggalkan Hajar dan Ismail, Ibrahim dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran. Sepanjang perjalanan kembali ke Palestina, dia terus berdoa kepada Allah SWT.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” doa Nabi Ibrahim, sesuai dengan firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 37.

Siti Hajar dan Ismail pun tinggal berdua di padang pasir tersebut. Setelah berhari-hari, Siti Hajar kehabisan makanan dan air susunya mengering.

Ismail pun menangis kehausan.

Siti Hajar yang panik berlari ke sana ke mari, di antara Bukit Shafa dan Marwah mencari air untuk putranya. Peristiwa ini kini dikenal dengan sa’i–salah satu rukun ibadah haji yakni berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwah.

Siti Hajar yang kelelahan pun kembali menuju Ismail. Ismail lalu menghentakkan kakinya dan munculah air jernih. Hajar pun mengumpulkan air tersebut.

“Zam-Zami (berkumpulah-berkumpulah),” kata Siti Hajar.

Kini, sumur itu dikenal menjadi sumur ZamZam.

Ismail pun meminum air tersebut dan tak lagi kehausan. Air tersebut menjadi sumber kehidupan banyak orang.

Ismail tumbuh dan besar di Mekkah dengan didikan Siti Hajar dan juga ayahnya yang kerap datang dari Palestina.

Perintah Menyembelih dan Ibadah Kurban saat Idul Adha

Hingga suatu hari, Ibrahim bermimpi diperintahkan untuk menyembelih anak yang ia sayangi.

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” ucap Ibrahim kepada Ismail, sesuai surat As-Saffat ayat 102.

Dengan berserah diri kepada Allah, tanpa ragu Ismail mengemukakan jawabannya.

“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” balas Ismail.

Ibrahim dan Ismail pun melaksanakan perintah Allah tersebut. Sebelum penyembelihan, Ismail menyampaikan sejumlah permintaan kepada Ayahnya.

Pertama, Ismail meminta untuk diikat dengan tali agar tidak meronta. Kedua, meminta agar pisau diasah dengan tajam agar tidak kesakitan.

Kedua permintaan tersebut bertujuan agar Ibrahim tak bersedih hati saat menyembelihnya.

Ismail juga meminta agar pakaian yang dikenakannya saat itu diberikan kepada ibunda tercinta, Siti Hajar sebagai kenang-kenangan.

Ibrahim pun mulai menyembelih Ismail dengan membaringkan anaknya. Namun, pisau tajam itu tak mampu menyembelih Ismail yang berserah diri.

Allah lalu mengganti Ismail dengan seekor kambing.

“‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” firman Allah dalam surat As-Saffat 104-107.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini kini menjadi ibadah kurban bagi umat Islam.