Cerita Relawan MRI, Sumur Wakaf Membantu Banyak Orang

Jakarta, relawan.id – Memasuki awal musim kemarau, beberapa daerah mulai dilanda kekeringan, hal itu mengakibatkan warga harus siap mencari air ke pegunungan hingga masuk ke dalam hutan untuk mendapatkan air. Pada musim kemarau warga beramai-ramai membawa jeriken dan galon, warga pun harus menempuh puluhan kilometer untuk mencapai sumber air.

Hal itulah yang dikatakan salah satu relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jawa Tengah, Hamas Rausyanfikr. Jika memasuki musim kemarau mereka harus bersiap untuk meluangkan waktunya untuk mencari sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu MRI-ACT Jawa Tengah sangat konsen terhadap masalah kekeringan. Sampai hari ini, sudah ada 26 sumur wakaf untuk mereka yang dilanda kekeringan.

“Sampai hari ini, kita ada sebanyak 26 sumur, yang tersebar di beberapa kabupaten kota di Jawa Tengah, yaitu di Kota Semarang, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Blora, Pati, Kabupaten Magelang, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Brebes, Kabupaten Kendal, dan Boyolali. Dan Alhamdulillah hingga sekarang kita masih berjalan, terlebih untuk daerah-daerah yang terdampak kekeringan terparah, seperti Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Semarang, ” ujar Hamas.

Sebelum ada sumur wakaf, mereka harus mencari sumber air sampai puluhan kilometer hingga mereka juga harus menjual hewan ternaknya hanya untuk mendapatkan air, oleh karena itu gara-gara air mereka bisa menjadi miskin dan sengsara.

“Di beberapa daerah itu orang kalau mau punya air ketika musim kemarau mereka harus jual sapi, mereka harus jual kambing, karena ini antara buat hewan atau buat manusia ni airnya tinggal sedikit ini, nah selain itu, memang ngga ada sumber air yang berdekatan disana, mereka ngga punya harta apa-apa lagi, panen ga bisa, ngga bisa bercocok tanam kan, ya akhirnya mereka menjual ternak mereka, nah itu mereka untuk mendapatkan air harus seperti itu, saking berharganya air di wilayah tersebut itu mereka harus menebusnya dengan mahal, dengan harga yang cukup tinggi,” jelas Hamas.

Tak hanya itu, di daerah Pemalang, jika kondisi kekeringan melanda, mereka akan membeli air dari yang jual eceran, atau ke depot air minum, tapi bagaimana nasib yang tidak punya uang, mereka harus mengeluarkan tenaga mereka untuk mengambil air di sumber air yang sangat jauh, mereka harus berjalan kaki melewati hutan.

“Mereka harus jalan 5 kilometer, dan yang mengambil air itu ibu-ibu hingga kakek-kakek, bahkan anak-anak muda waktu-waktu produktif mereka terbuang untuk mengambil air, ada lagi yang lain mereka akhirnya menyewa mobil karena air yang diambil banyak dan mereka patungan menyewa mobil, mereka setiap berapa kali sehari mereka bareng-bareng ke sungai yang letaknya agak jauh di kecamatan sebelahnya, jadi mereka nyuci, mereka nyari air, mereka mandi di sana,” kata Hamas.

“Nah kalau yang memang punya uang lumayan, mereka tinggal nunggu tapi yang ngga punya uang ini agak sulit, naik turun gunung, patungan, ke tempat yang jauh untuk mengambil air bahkan menjual sapi,” tambah Hamas.