Cara Mengurus Pasien Covid-19 di Rumah

Jakarta, relawan.id – Bukan tidak mungkin salah seorang kerabatmu yang tinggal serumah terinfeksi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. Tapi bagaimana jika pihak rumah sakit menolak untuk merawatnya karena rumah sakit yang penuh, mau tidak mau harus dirawat di rumah.

Apabila kapasitas perawatan dan sumber medis tidak mencukupi, WHO merekomendasikan para pasien dengan gejala ringan (demam berlevel rendah, batuk, bersin, dan radang tenggorokan asimptomatik). Dan tidak ada penyakit kronis lainnya (seperti penyakit paru, penyakit jantung, gagal ginjal, atau penyakit imun) dapat dikarantina di rumah.

Oleh karena itu, WHO telah mengeluarkan panduan tentang bagaimana cara melakukan perawatan dengan benar dan aman.

Berikut ini adalah panduan dari WHO berjudul “Home care for patients with suspected or confirmed Covid-19 and management of their contacts” yang baru dirilis pada 12 Agustus kemarin.

1. Pahami risiko perawatan di rumah

Pertama-tama, kamu mesti tahu dulu risiko yang dihadapi dalam merawat pasien Covid-19 (suspect maupun confirmed) di rumah. WHO mengatakan, perawatan di rumah meningkatkan risiko orang lain di rumah ikut tertular.

Hal tersebut didukung dengan penelitian di Guangzhou, Tiongkok, yang menunjukkan setidaknya dari 127 kasus Covid-19 yang ditemui, 105 di antaranya terinfeksi di lingkungan rumah (82,7 persen). Penelitian ini dimuat dalam jurnal “Annals of Internal Medicine” yang terbit pada 13 Agustus lalu.

2. Ketahui kondisi pasien

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum memberikan perawatan. Salah satunya adalah kondisi pasien itu sendiri.

Kamu harus tahu riwayat kesehatan pasien: apakah memiliki penyakit kronis atau tidak? Apakah saat ini mengalami komplikasi atau tidak? Perkara umur juga tidak boleh diremehkan, apakah pasiennya anak-anak, orang tua, atau ibu hamil. Semua ini perlu dipahami karena cara penanganannya sedikit berbeda.

3. Mengevaluasi kelayakan rumah

Kamu juga perlu memperhatikan kondisi rumah apakah layak dipakai untuk perawatan atau tidak. Kelayakan ini bisa dinilai dari beberapa hal, seperti ketersediaan peralatan penunjang higienitas, kemampuan untuk menjaga pergerakan orang-orang di rumah, hingga ketersediaan air bersih dan sanitasi yang memadai.

Lebih jauh lagi, kamu atau orang lain yang merawat pasien harus memperhatikan hingga hal-hal kecil. Sebagai contoh, kalau ada orang lain yang rentan tertular yang tinggal dalam satu atap, maka kamu harus bersedia dan siap memberikan lokasi isolasi alternatif lainnya. Atau, jika pasien adalah anak-anak dan perawatnya adalah seseorang yang sudah berusia tua, mengalami disabilitas, dan punya kondisi kesehatan lainnya perlu diprioritaskan.

4. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian infeksi dalam rumah

WHO memberikan sejumlah daftar tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah, yang meliputi:

  • Pastikan pasien berada dalam ruangan berventilasi baik dan segar. Itu ditujukan untuk mengontrol kontaminasi dan bau. Upayakan ventilasi natural seperti jendela.
  • Jika menggunakan AC, alat tersebut perlu diinspeksi dan dibersihkan secara berkala. Ini semua demi menjaga lingkungan yang sehat.
  • Jangan gunakan kipas angin. Jika terpaksa memakainya, pastikan membuka jendela dan jangan biarkan arah angin berpindah-pindah dari pasien ke orang lain.
  • Batasi anggota rumah saat berkunjung dan minta mereka untuk menjaga jarak setidaknya satu meter.
  • Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan keringkan dengan tisu setiap berkontak dengan pasien,  barang-barang yang disentuh pasien, atau benda-benda yang ada di sekitar pasien.
  • Pastikan orang yang merawat pasien memahami cara membersihkan dan disinfeksi bagian-bagian rumah, termasuk barang-barang yang dapat digunakan kembali, khususnya yang dipakai pasien.
  • Jangan gunakan berulang alat pelindung diri sekali pakai, seperti masker atau sarung tangan.
  • Kotoran dari pasien harus dibuang ke tempat yang tertutup dan aman serta harus dianggap sebagai limbah infeksius.

5. Ada syarat yang harus dipenuhi agar pasien bisa lepas dari isolasi di rumah

Umumnya, isolasi akan membuat orang merasa tidak nyaman untuk terus berada di satu lokasi yang sama. Akibatnya, sering kali sang pasien meminta atau memaksa untuk keluar dari rumah atau setidaknya bisa berjalan-jalan di dalam atau sekitar rumah. Hal ini bisa dilakukan selama pasien dianggap tak lagi terinfeksi.

Beberapa hal yang mengindikasikan hilangnya infeksi tersebut adalah tes positif setelah 10 hari bagi penderita asimtomatis, dan 10 hari setelah gejala muncul bagi pasien simtomatis plus tiga hari tanpa gejala.

Selama masa perawatan, kamu dan/atau orang lain yang merawat pasien harus membatasi ruang gerak pasien, sekaligus orang-orang yang mengunjungi pasien.

6. Caregiver harus benar-benar bisa menjaga dirinya sendiri

Terlepas dari kondisi pasien, orang-orang yang merawat pasien (caregiver) harus benar-benar memperhatikan kondisi personal. Saran dari WHO antara lain:

  • Selama berada di satu ruangan dengan sang pasien, perawat harus pakai masker dan masker tersebut tak boleh disentuh ketika digunakan. Jika kotor atau rusak, harus segera diganti.
  • Hindari kontak dengan cairan tubuh pasien, khususnya yang keluar dari mulut atau pernapasan serta fesesnya. Gunakan sarung tangan sekali pakai ketika membersihkan kotoran-kotoran tersebut dan pastikan untuk cuci tangan setelahnya.
  • Disinfeksi seluruh benda atau permukaan yang dipegang pasien.
  • Hindari menyentuh benda-benda yang berpotensi terkontaminasi, seperti sikat gigi, rokok, dan lainnya. Dalam membersihkan pakaian pasien, cuci menggunakan sarung tangan, detergen, dan air. Jika menggunakan mesin cuci, atur suhu 60-90 derajat Celcius dan gunakan detergen.

Merawat pasien Covid-19 di rumah tidaklah mudah. Oleh karena itu, kamu perlu sering-sering berkomunikasi dengan pihak atau petugas kesehatan agar mendapat arahan lebih lanjut. Selama bisa menjalaninya dengan benar, pasien bisa segera pulih, kamu yang ikut merawat pun terhindar dari penularan.