Pengalaman Relawan Saat Implementasi Sumur Wakaf

Banten, relawan.id – Langit mulai cerah membiru. Menelusuri jalanan desa, sesekali debu beterbangan, tanda wilayah itu sudah lama tidak turun hujan. Di sungai yang masih terdapat air terlihat sejumlah warga membawa air untuk kebutuhan sehari-hari, hal itu dikarenakan kemarau yang berkepanjangan. Ditambah ekonomi warga yang masih sulit sehingga masih banyak warga yang tidak memiliki sumur untuk mendapatkan air bersih.

Keadaan itu membuat Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi pembangunan Sumur Wakaf di beberapa lokasi yang memang membutuhkan, salah satunya di daerah Lebak, Banten.

Tapi, di balik pembangunan sumur wakaf pasti ada cerita menarik dari para relawan, salah satunya yang dialami Korda MRI Lebak, Haerul. Kemarau panjang atau kesulitan ekonomi menjadi faktor utama masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih, sehingga Haerul dan relawan lainnya melakukan asessment ke beberapa wilayah yang berada di Lebak, Banten.

Haerul menceritakan bagaimana dirinya melakukan asessment di beberapa lokasi yang memang membutuhkan air bersih. Sebagai relawan, Haerul mendampingi warganya dari awal pengajuan hingga implementasi sumur wakaf. 

“Dari situ kita buatkan brief atau proposal yang nantinya saya sodorkan ke kantor Cabang ACT. setelah itu ada tanggapan dari teman-teman ACT kemudian, kalau sudah ada tanggapan, dalam artian biasanya ada tanggapan dari donatur, nah itu saya juga merasa senang bahwa harapan masyarakat mengengai kebutuhan air itu bisa teratasi, jadi pengalaman yang bisa saya bagikan bahwa kita dampingi dari awal sampai akhirnya pengerjaanya hingga implementasi,” ujar Haerul.

Haerul melanjutkan, daerah yang menjadi prioritas untuk sumur wakaf ini yaitu daerah kekeringan, daerah rawan kemiskinan, dan daerah yang sanitasinya buruk. Program ini, kata Haerul biasanya menyentuh masyarakat banyak.

“Misalkan wakaf yang disalah satu kecamatan di Curug Bitung, kami dan teman-teman berhasil membantu hadirnya satu sekolah di daerah tersebut, karena di daerah tersebut sekolahnya hilang akibat banjir, dan itu membuat kita bahagia bisa membantu warga,” tuturnya.

Selain kriteria daerahnya kekeringan, pihaknya juga diintrupsikan untuk mencari lokasi yang berhimpitan langsung atau yang lahannya milik pesantren atau masjid, hal itu agar mudah mengakomodir pengelolaannya. Sebelum ada sumur wakaf, warga terpaksa harus mengambil air di sungai yang jaraknya lumayan jauh.

“Asessment terakhir, itu ada masjid, bayangkan karena tidak ada air di masjid, mereka harus mengambil air di sungai membawa drigen dengan menggunkan motor, yang kemudian diisikan ke bak yang ada di masjid. Padahal masjid ini sering dipakai jumatan, Alhamduillah sekarang kebutuhan mereka sekarang sudah terpenuhi berkat sumur wakaf ini,” katanya.

“Sementara itu, untuk kebutuhan masyarakat saat memasuki musim kemarau mereka beli air,  satu kompan yang isinya 20 liter itu harganya 5000, itu juga belum ongkos kirim,” tambahnya.

Haerul juga menceritakan saat warga terlihat senang karena bisa terwujud keinginannya untuk memiliki sumur untuk kebutuhan masyarakat banyak. Pihaknya juga sempat mendampingi sekolah yang tidak memiliki sumur, hingga akhirnya dibangun sumur wakaf.

“Kita sempat mendampingi sekolah, atau ketika proses pembangunan untuk sekolah bisa dikatakan 4 kali saya asessment ke tempat itu, hingga akhirnya yang kelima, dan yang kelima ini adalah menjadi implementasi, betapa masyarakat itu menunggu, tapi kalau kita bolak balik  berkali-kali, justru relawannya yang tidak enak datang lagi tapi hanya untuk survey. namun ketika implementasi jadi, tidak hanya satu dua warga, justru ketika kita bikin momen syukurannya dari situlah bisa melihat masyarakat bahwa mereka senang dengan adanya bantuan implementasi program wakaf,” pungkasnya.