Turunkan Angka Kemiskinan, Presiden GIP Sebut Wakaf Tunai Solusinya

Jakarta, relawan.id – Pandemi virus Corona atau Covid-19 telah memporak-porandakan ekonomi nasional. Badai PHK dan pekerja yang dirumahkan akan berujung pada bertambahnya angka kemiskinan. Sehingga pekerjaan umat Islam begitu besar untuk membangun peradaban serta membebaskan umat dari belenggu kemiskinan. 

Presiden Global Islamic Philanthropy (GIP) Ahyudin menyebut, energi yang diperlukan untuk pekerjaan ini juga mesti cukup besar. Maka diperlukan gerakan masif yang bisa dilakukan oleh setiap orang, salah satunya melalui wakaf tunai.

“Kami ingin sekali wakaf menjadi gerakan besar tidak hanya di nasional tetapi juga internasional. Supaya gerakan wakaf menjadi masif di Indonesia, kita angkat objek wakaf yang paling strategis, yaitu wakaf tunai. Karena nominal dan waktunya fleksibel, tidak eksklusif. Wakaf tunai tidak hanya dapat dilakukan oleh orang yang banyak hartanya, tetapi siapa saja. Jika kita pahami manfaatnya, wakaf adalah ladang amal terbesar kita bahkan hingga kita meninggal,” tutur Ahyudin dalam acara “Waqf Business Forum: Selamatkan Bangsa dengan Wakaf” pada Sabtu (29/8/2020) lalu.

Lewat dana wakaf yang terkumpul saat ini, Global Wakaf – ACT dapat membangun aset-aset yang bermanfaat untuk umat. Ahyudin mencontohkan melalui Lumbung Beras Wakaf (LBW), dana wakaf tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur pertanian sedemikian rupa dan pembiayaan UMKM sehingga hasilnya murni digunakan untuk membangun kembali perekonomian.

“Bencana begitu ramainya terjadi, namun saat ini bencana kemiskinan adalah bencana yang terbesar yang kita rasakan di tengah pandemi. Jihad akhir zaman adalah membebaskan umat dari kemiskinan. Kita tahu bahwa pekerjaan membangun peradaban adalah tidak mudah. Sehingga, diperlukan energi dan dukungan yang besar,” ungkapnya dalam diskusi tersebut.

Menyinggung jihad ekonomi, Ustaz Faris BQ yang ikut hadir dalam acara juga sejalan dengan pendapat tersebut. Ia mengatakan pada masa nabi, jihad fisik hanya dilakukan sebanyak 7%, sementara sisanya adalah jihad yang tidak berbentuk fisik. Selama 23 tahun perjuangan nabi sejak diangkat menjadi rasul hingga wafat, ada 27 perang yang beliau ikuti yang jika dihitung berjumlah sekitar 1,5 tahun.

“Kalau 23 tahun dibanding 1,5 tahun, cuma 7% (jihad fisik). Artinya 93% jihad nabi yang lain apa? Membangun ekonomi berkeadilan, membangun politik yang bermartabat, menjaga hak asasi manusia, menegakkan keadilan. Kenapa kita concern hanya melihat yang 7%, lalu melupakan yang 93% dari kehidupan Rasulullah SAW?” tanya Ustaz Faris.

Maka Ustaz Faris BQ menilai wakaf saat ini menjadi hal yang tepat untuk dilakukan. Ia mengibaratkan wakaf tunai seperti menanam pohon berbuah. Ketika uang yang diwakafkan ditahan pokoknya dan diproduktifkan, buah-buahnya yang kemudian akan menjadi infak dan bermanfaat bagi umat yang membutuhkan. 

“Dari hasil keuntungan itu bisa diinfakkan untuk apa saja. Biar dia terus jadi buah, jadi pohonnya tetap, buahnya yang akan dimakan oleh orang banyak, insyaallah,” tutur Ustaz Faris.

Dalam tradisi di luar Islam pun, sistem serupa wakaf kerap kali dipakai dan berhasil bermanfaat luas kepada masyarakat. Sehingga menurut Ghofar Rozaq Nazila, salah seorang wakif yang hadir dalam acara tersebut, ada keharusan dalam membumikan wakaf.

“Saya kasih contoh, 10 kampus terbaik di dunia itu berbasis endowment, kalau bahasa muslim adalah wakaf. Massachusetts Institute of Technology (MIT), Harvard University, Stanford University, London School, dan seterusnya. Itu kampus-kampus terbaik yang asetnya kurang lebih USD 10 – 15 milar,” Ghofar memaparkan. Pada akhirnya kampus produk wakaf itu membuktikan kiprahnya dalam mencetak para ahli.

Oleh karenanya Ghofar mengajak para dermawan lainnya untuk saling memberi lewat wakaf, terutama di masa sulit akibat pandemi ini karena walaupun sedikit, perbuatan baik tersebut dapat bermanfaat bagi sesama.

“Ujian ini kan ujian untuk kita semua, ujian untuk berbagai kalangan baik muslim maupun nonmuslim. Menurut saya inilah kesempatan kita di Indonesia, umat muslim terbesar untuk berbuat baik. Berbuat baik kan tidak harus kita memiliki harta yang banyak. Bahkan kalau kita tidak memiliki apa pun, melalui doa dari lisan kita pun, kita bisa berbuat baik,” ajak Ghofar.