Bantu Hilangkan Trauma, MRI-ACT Ikut Dampingi Pengungsi Rohingya di Aceh

Aceh, relawan.id – Para pengungsi Rohingya kembali terdampar di pesisir pantai di Aceh tepatnya di pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe pada Senin (7/9/2020). 

Oleh karena itu, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Lhokseumawe dan Aceh Utara terus membersamai para pengungsi Rohingya dengna memberikan berbagai pelayanan mulai dari tenaga medis, konsumsi, dokumentasi, hingga psikososial.

“Alhamdulillah hari ini masih menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa, anak-anak belajar membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia, sejauh ini perkembangan belajar mereka semakin baik, banyak hal yang sudah mereka pelajari terutama tentang bahasa Indonesia dan ini sangat memudahkan kita dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan mereka,” ujar relawan MRI Lhokseumawe, Rozy, Rabu (9/9).

Meski begitu, Rozy mengatakan kegiatan hari ini masih mengalami sedikit hambatan dalam kenyamanan belajar dikarenakan keterbatasan ruang untuk belajar dan akses anak-anak untuk keluar dari camp pengungsian, hal itu disebabkan kedatangan pengungsi Rohingya yang baru.

“Hal itu dilakukan untuk membatasi interaksi antara pengungsi lama dengan pengungsi baru agar terhindar dari segala kemungkinan-kemungkinan yang dapat membahayakan pengungsi dan relawan yang terlibat di posko Rohingya terutama dengan tetap menjaga protokok kesehatan,” tuturnya.

Sementara itu, relawan Medis MRI-ACT Lhokseumawe Silviana Carolina melaporkan, pemeriksaan tes cepat dilakukan secara bertahap di pengungsian Balai Latihan Kerja Kota Lhokseumawe. 

“Terlebih dahulu dilakukan rapid test untuk pengungsi perempuan, lalu dilakukan untuk laki-laki, terakhir anak-anak. Sebanyak 140 pengungsi perempuan sudah melakukan rapid test kemarin. Alhamdulillah hasilnya dinyatakan non reaktif. Untuk seluruh pengungsi hari ini yang menjalani tes masih menunggu hasil,” kata Silviana.

Selain tes cepat, pihak imigrasi juga terus melakukan pendataan seluruh pengungsi yang sakit. Mereka yang mengeluhkan kesehatan langsung ditangani petugas kesehatan. Silviana menjelaskan, kebanyakan pengungsi mengeluhkan nyeri perut akibat maag. Kaki mereka juga ditemukan bengkak. 

“Diakibatkan mereka berada di dalam satu kapal yang tidak layak ditumpangi oleh jumlah yang sangat banyak, hampir tiga ratus orang,” jelasnya.

Pengungsi Rohingya diperkirakan berada berbulan-bulan di lautan. Saat ini kondisi kesehatan mereka masih terus diperhatikan, agar mereka lekas sembuh dan pulih kembali.