Wakaf Dorong Kesejahteraan, Kurangi Kemiskinan dan Ketimpangan

Jakarta, relawan.id – Dalam fungsi sosialnya, wakaf bisa menjadi jalan bagi pemerataan kesejahteraan di kalangan umat, serta penanggulangan kemiskinan di suatu negara jika terkelola dengan baik. Sedangkan fungsi wakaf sebagai ibadah dapat mengalirkan pahala terus menerus selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Para ulama berpendapat bahwa hukum berwakaf itu merupakan anjuran agama.

Selain wakaf, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk beribadah dan mengelola harta, yaitu zakat, infak, dan sedekah. Perbedaan zakat dengan wakaf adalah, zakat hukumnya wajib dan termasuk dalam rukun Islam. Pastinya, harta yang dikeluarin saat berzakat itu sama wajibnya seperti kewajiban shalat, puasa, dan haji buat umat yang berkecukupan. 

Manfaat berzakat berdasarkan pada firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah : 103).

Sementara infak  dan sedekah  lebih fleksibel, baik waktunya, penerima maupun jumlahnya (meskipun terbatas) namun tetap dalam koridor dharuriyah dan hajiyyat. Kebutuhan hajiyyat ialah kebutuhan-kebutuhan sekunder, di mana jika tidak terwujudkan keperluan ini tidak sampai mengancam keselamatan, namun akan mengalami kesulitan dan kesukaran bahkan mungkin berkepanjangan. Tetapi sifat daruratnya tidak sampai ke tingkat yang menyebabkan kepunahan atau sama sekali tidak berdaya.

Itulah perbedaan dari wakaf, zakat, infak dan sedekah. Potensi wakaf di Indonesia sangat besar, tapi belum dimanfaatkan dengan maksimal. Wakaf bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Yang sangat disayangkan adalah zakat dan wakaf kini bukan menjadi instrumen kita. Padahal, keduanya berperan sangat besar bagi syiar dan perkembangan peradaban. Universitas al-Azhar Kairo Mesir terus berkembang sejak seribu tahun lalu karena wakaf.

Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo Jawa Timur juga berkembang dari wakaf. Trimurti pendiri Gontor mewakafkan tanah warisan orang tuanya untuk pendidikan. Aset wakaf dikelola secara profesional dengan sistem yang terus dipegang teguh, seperti kaderisasi sehingga aset wakaf terus dikembangkan untuk kepentingan umat.

Contoh lain adalah Muhammadiyah, memiliki sekitar 180 perguruan tinggi, ribuan sekolah, dan banyak rumah sakit, tersebar di seluruh Indonesia. Semuanya adalah aset wakaf. Kalau kita bicara Nahdlatul Ulama, ada 28 ribu pesantren. Apakah kiai nya kaya sehingga membangun pesantren sebanyak itu sendirian? Tidak. Di sana ada wakaf umat yang sedikit demi sedikit di manfaatkan untuk pembangunan pesantren.

Pewakaf bertambah dan mendukung perkembangan pesantren sehingga kapasitas dan pengaruh pesantren semakin berkem bang. Masih ada banyak lagi contoh institusi yang berkembang dari wakaf. Ini jejak peradaban. Karena itu,  zakat dan wakaf adalah instrumen ekonomi umat. 

Pahala wakaf akan kekal mengalir pada Sang Wakif , walaupun sudah meninggal dunia, selama hartanya terus bermanfaat untuk masyarakat.  

Yuk, sedekah di hari terbaik via tautan: relawan.indonesiadermawan.id/mariberwakaftunai atau transfer via rekening Global Wakaf (MRI Pusat-GW) BNI Syariah: 8262000000685588