Saat Isolasi Mandiri, Pasien OTG Harus Punya Oximeter

Jakarta, relawan.id – Tidak bisa dipungkiri bahwa pasien Covid-19 tanpa gejala atau yang biasa disebut OTG cukup banyak. Menurut laporan Pandemic Talks, OTG pasien Covid-19 itu angkanya mencapai 80 persen. Hal ini tentunya harus jadi perhatian semua orang, karena penyebar virus bukan orang yang sakit parah.

Di beberapa kasus, pasien Covid-19 OTG memilih untuk menjalani perawatan dengan isolasi mandiri. Ini dilakukan karena mereka merasa tidak memiliki gejala. Sementara itu, kamar isolasi di rumah sakit pun semakin menipis setiap harinya.

Tapi, yang kerap dilupakan adalah saturasi oksigen yang berkaitan dengan kondisi Happy Hypoxia yang ternyata membunuh pasien Covid-19 secara diam-diam. Karena itu, Dokter Spesialis Paru Primaya Hospital Karawang dr Nurhayati, SpP, mengibau agar pasien OTG isolasi mandiri memiliki alat bernama pulse oximeter.

“Alat tersebut dapat membaca saturasi oksigen dalam tubuh pasien OTG dan ini meminimalisir risiko keparahan kondisi kesehatannya,” terang dr Nurhayati, Senin (14/9/2020).

Dijelaskan dr Nurhayati, pasien OTG isolasi mandiri sangat disarankan untuk memiliki alat ini karena pada banyak kasus, pasien Covid-19 tidak sadar kalau dirinya mula kehilangan okisgen dalam tubuh yang menyebabkan sesak napasnya sangat parah.

Nah, dengan rutin melakukan pemeriksaan dengan pulse oximeter, pasien OTG yang merasa tidak mengalami gejala apa-apa jadi tahu status saturasi oksigennya.

“Jadi, kalau saya bisa sarankan, pasien OTG isolasi mandiri itu di rumahnya ada termometer, alat tensi, dan pulse oximeter ini. Alat medis tersebut diperlukan untuk pengontrolan status kesehatan dan evaluasi menyeluruh,” tambahnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika pulse oximeter menunjukan hasil yang buruk? Dokter Nurhayati menerangkan, pasien bisa berkonsultasi dengan petugas Puskesmas. “Jadi, laporan hasil pemeriksaan dasar itu dilaporkan ke petugas yang memantau Anda,” sambungnya.

Sementara itu, dr Nurhayati mengimbau agar orang yang sehat tidak perlu memiliki alat pulse oximeter. “Untuk mereka yang bukan pasien Covid-19, tidak perlu menjadi keharusan untuk memiliki alat ini,” sarannya.

Sebab, orang sehat ketika mengalami Happy Hypoxia (HH) akan mengeluarkan gejala sesak napas dan frekuensi napas cepat. “Beda dengan pasien Covid-19, kebanyakan dari pasien itu tidak sadar kalau mereka mengalami HH. Saat oksigen sudah semakin berkurang, gejala yang muncul akan langsung sangat parah,” pungkasnya.