MRI Sulteng Distribusikan Bantuan untuk Terdampak Banjir Sigi

Sigi, relawan.id – Banjir bandang yang menerjang Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah Senin sore (14/9/2020) melumpuhkan aktifitas warga. Rumah-rumah tertimbun material banjir. Banjir diakibatkan curah hujan yang terjadi selama kurang lebih 2 hari berturut-turut.

Relawan MRI Sulteng, Amit Suaib mengatakan setidaknya ada 60 rumah terendam lumpur dan puluhan lainnya mengalami kerusakan ringan dan rusak parah. Warga saat ini mengungsi ke tempat-tempat aman dan sanak saudara mereka, karena dikhawatirkan akan terjadi banjir susulan. Mengingat intentitas hujan masih cukup tinggi.

“Saat ini warga mengungsi di Kantor Desa Rejeki yang juga menjadi titik kumpul dan posko pengungsian. Lokasi banjir berjarak 4 km dari wilayah pengungsian dan lokasi tersebut belum bisa dilewati roda dua maupun empat karena wilayah tersebut masih memungkinkan terjadinya banjir atau longsor susulan,” ungkapnya.

Selain itu, MRI Sulteng juga memberikan bantuan berupa sembako untuk meringankan bebean mereka. “Pengungsi saat ini membutuhkan sejumlah bantuan seperti makanan, minum, pakaian dan susu anak-anak untuk korban banjir bandang itu,” tuturnya.

Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) di Palu menyebutkan sejumlah wilayah di Sulteng berpeluang besar dilanda hujan sedang sampai lebat, Selasa (15/9).

Wilayah-wilayah yang berpotensi besar diguyur hujan lebat, yakni Kabupaten Poso, Kabupaten Morowali, Morowali Utara, Parigi Moutong, Donggala, Sigi, dan juga Kota Palu. Saat curah hujan meningkat, sangat memungkinkan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Seperti yang terjadi di beberapa wilayah dalam dua pekan terakhir ini, banjir melanda Desa Oloboju di Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Morowali, Kabupaten Donggala dan beberapa permukiman penduduk di dalam Kota Palu.

Selain ancaman banjir, juga tanah longsor seperti yang terjadi di ruas jalan Trans Sulawesi pada poros jalan Taweli-Toboli yang lebih dikenal jalur Kebun Kopi. Di sepanjang ruas jalan Taweli-Toboli sepanjang 42 Km tersebut, terdapat beberapa titik longsor yang diakibatkan curah hujan tinggi.

Bahkan poros jalan nasional yang terbilang paling ramai dan padat dilewati kendaraan, termasuk angkutan kota antarprovinsi dari Manado, Gorontalo-Makassar dan Tanah Toraja tersebut sempat putus beberapa jam. Jalan tertutup material tanah longsor yang terdiri dari batu-batuan, pepohonan tumbang, dan material tanah dan pasir.

Jalur itu selama Ahad malam (13/9) sampai Senin dini hari tidak bisa dilewati kendaraan karena material longsor menutupi badan jalan. Ratusan unit kendaraan terjebak macet semalaman.

Ruas jalan itu baru bisa dilalui kendaraan setelah Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga mengerahkan sejumlah alat berat untuk membersihkan badan jalan dari material longsor pada Senin (14/9) sekitar pukul 06.00 Wita. Mengingat jalur tersebut selama ini rawan kecelakaan dan bencana tanah longsor, Dinas Perhubungan (Dishub) Sulteng mengimbau para pengendara yang melintas di poros jalan Taweli-Toboli meski badan jalannya sudah diperlebar, namun perlu hati-hati.

“Selain badan jalan lincin, juga memiliki sekitar 300 tikungan tajam,” kata Sumarno, Kepala Bidang Angkutan Jalan, Keselamatan dan Perkerataapian Dinas Perhubungan Provinsi Sulteng, Sumarno.

Dia juga membenarkan berdasarkan informasi kondisi cuaca dari BMKG setempat menyebutkan beberapa hari ke depan ini, cuaca ekstrem masih berpeluang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sulteng sehingga perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak.