Rayakan Jumat dengan Wakaf, Mengenal Wakaf Saham

Jakarta, relawan.id – Saat ini instrumen filantropi Islam berupa wakaf produktif muncul model wakaf produktif baru yang sangat potensial, yaitu wakaf saham. Wakaf saham menjadi aset wakaf yang bisa diproduktifkan. Perusahaan-perusahaan bisa mewakafkan sekian persen sahamnya melalui nazir (lembaga pengelola wakaf) terpercaya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini baru mengenal beberapa jenis wakaf. Wakaf yang paling popular adalah wakaf lahan untuk dijadikan pemakaman, masjid atau bangunan sosial semacam panti asuhan, sekolah dan lain-lain.

Di masa Rasulullah, wakaf ternyata bersifat lebih produktif. Anda pasti masih ingat kisah kebun kurma yang diwakafkan oleh sahabat Umar bin Khattab, disusul Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kesayangannya (Bairaha).

Selanjutnya disusul oleh sahabat Nabi SAW lainnya, seperti Abu Bakar As-Shiddiq yang mewakafkan sebidang tanahnya di Mekkah yang diperuntukkan bagi anak keturunannya yang datang ke Mekkah.

Begitu juga Utsman ra yang menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur, Mu’adz bin Jabal mewakafkan rumahnya yang populer dengan sebutan “Daar Al-Anshar”. Kemudian wakaf disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam, dan Aisyah (istri Rasulullah saw).

Praktik wakaf menjadi lebih luas pada masa Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah. Saat itu kesadaran berwakaf sudah menjangkau hampir semua lapisan. Tidak hanya untuk orang-orang fakir miskin saja, wakaf kemudian dikembangkan sebagai modal untuk membangun lembaga pendidikan, membangun perpustakaan dan membayar gaji para stafnya, gaji para guru dan beasiswa untuk para siswa dan mahasiswa.

Di Indonesia, instrumen filantropi wakaf produktif juga terus dikembangkan dan dikenalkan kepada masyarakat. Salah satunya yang dilakukan Global Wakaf. Global Wakaf sebagai nazir pun berharap wakaf saham dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saham atau pun hasil keuntungan dari saham dapat dikelola menjadi secara produktif. 

Secara teknis, wakaf saham pada prinsipnya bisa dilakukan dengan dua model. Pertama, wakaf yang bersumber dari keuntungan saham. Dan kedua wakaf yang menjadikan saham syariah sebagai obyek wakaf.

Wakaf model pertama bersumber dari prosentase keuntungan investor saham syariah. Model wakaf ini melibatkan AB-SOTS (lembaga pengelola investasi), sebagai institusi yang melakukan pemotongan keuntungan.

Potongan keuntungan ini selanjutnya akan disetor kepada lembaga pengelola wakaf. Lembaga inilah yang akan mengonversi keuntungan tersebut menjadi asset produktif atau langsung dikonversi menjadi social asset (seperti masjid, sekolah dan sebagainya).

Sementara wakaf model kedua, bersumber dari saham syariah yang dibeli investor syariah. Yang diserahkan untuk kepentingan wakaf adalah saham syariah yang dibeli, bukan keuntungan dari saham syariah.

Saham syariah yang akan diwakafkan ini kemudian disetor/diserahkan kepada lembaga pengelola investasi. Sedangkan keuntungannya yang berasal dari pengelolaan saham oleh pengelola investasi akan disetor ke lembaga pengelola wakaf.

Untuk wakaf model kedua ini, lembaga pengelola wakaf akan mengonversi keuntungan tersebut menjadi asset produktif atau social asset.

Oleh karena itu, Global Wakaf sebagai nazir mengelola aset wakaf melalui program-program wakaf produktif, antara lain lumbung ternak wakaf, lumbung pangan wakaf, sumur wakaf, wakaf modal usaha mikro, lumbung air wakaf, warung wakaf dan wakaf saham. Kemudian hasilnya disalurkan kepada  mauquf ‘alaih (penerima manfaat. Ini merupakan salah satu fungsi Global Wakaf, yaitu fungsi filantropi.

Selain fungsi filantropi, Global Wakaf juga memiliki fungsi edukasi, ekonomi, dan reformasi, karena wakaf menjadi penyeimbang bisnis di dunia dan ibadah. Melalui wakaf, kita menyertakan Allah dalam bisnis.

Yuk, sedekah di hari terbaik via tautan: relawan.indonesiadermawan.id/mariberwakaftunai atau transfer via rekening Global Wakaf (MRI Pusat-GW) BNI Syariah: 8262000000685588