15 Tahun, ACT Hadir untuk Selesaikan Persoalan Kemanusiaan

Jakarta, relawan.id – Bencana Tsunami Aceh tahun 2004 menjadi langkah pertama Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk berkontribusi pada peradaban dunia yang lebih baik. Sejak pertama kali hadir, cita-cita menjadi lembaga kemanusiaan global yang profesional yang berbasis filantropi global sudah mulai digaungkan.

Berbagai kejadian bencana alam dan kemanusiaan yang melanda di Indonesia, seperti gempa bumi Yogyakarta (2006), banjir Jakarta (2007), jebol tanggul Situ Gintung Jakarta (2009), longsor Banjarnegara (2010) dan jatuhnya pesawat Sukhoi di Bogor (2012) ditanggapi dengan cepat. Meski lahir dan besar di Indonesia, ACT tidak hanya jago kandang di wilayahnya sendiri. Berbagai peristiwa dan bencana kemanusiaan di berbagai belahan di dunia terus disambangi. Diantaranya lewat program jangka panjang Sympathy of Solidarity (SOS) Palestina sejak 2009, berlanjut kemudian SOS Somalia (2011), SOS Syria (2012), SOS Rohingya (2012), gempa bumi di China (2014) dan gempa bumi di Nepal (2015).

Dengan bekal SOS di berbagai negara tersebut, tepatnya pada tahun 2012 ACT memantapkan dirinya menjadi duta kemanusiaan global. Sebagaimana nafas keislaman yang universal, ACT terus menyebarkan nilai-nilai universalitasnya ke berbagai negara. Tidak melihat ras, agama dan bahasa.

Kiprah ACT di bidang penanganan bencana, krisis kemanusiaan, dan pembangunan masyarakat telah memasuki tahun ke-15.  Mengawali aksinya di ranah kebencanaan, ACT pun berkembang untuk memberikan solusi pada masalah-masalah keumatan dengan semangat kemanusiaan, kedermawanan, dan kerelawanan. Ratusan kabupaten/kota di seluruh provinsi Indonesia dan hampir 70 negara di dunia terdampak krisis dijangkau.

Menginjak usia 15 tahun, ACT senantiasa berikhtiar untuk meluaskan maslahat filantropi untuk masyarakat luas, baik di level nasional maupun global. Oleh karena itulah ACT tidak boleh kehilangan spirit, tidak boleh kehilangan langkah untuk melakukan apapun, demi terwujudnya dominasi kebaikan, maka dari itu ACT hadir ditengah-tengah kehidupan untuk memberikan jawaban atas banyak persoalan.

“Alhamdulillah dalam usia 15 tahun ini dengan bimbingan Allah SWT, ACT tetap eksis, hadir mencoba memberikan jawaban atas banyak persoalan, itu semuanya patut kami syukuri, dan kesyukuran itu harus kami realisasikan dalam bentuk kebaikan lebih baik dan lebih baik lagi,” ujar Ketua Dewan Pembina ACT, Ahyudin.

15 tahun ACT terus hadir untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan, dari 15 tahun ini ACT banyak yang sudah dilakukan untuk membantu masyarakat membutuhkan. Ahyudin menceritakan 5 tahun pertama sejak ACT diperkenalkan yang mampu memberikan bantuan pertolongna kepada korban bencana alam.

“5 tahun pertama seiring dengan begitu derasnya bencana alam, lalu saya dan teman-teman melihat fenomena bencana alam ini sangat serius, dan lembaga ini pada akhirnya lahir dan muncul membersamai para korban bencana alam, yang jumlahnya tidak terkira sangat besar. 2005-2010, ACT membersamai korban bencana alam yang jumlahnya sungguh besar, tsunami aceh misalnya, itu menjadi sebuah bencana yang amat besar, saat itulah ACT menunjukan kiprah sebagai lembaga yang memberikan bantuna pertolongan kepada korban bencana alam. kemudian 5 tahun itu sungguh dikenal oleh publik yang luas, ACT sebagai sebuah lembaga penanganan bencana,” jelasnya.

2011-2015 ACT  kemudian menambahi kiprah kebaikannya yaitu dengan memberikan bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan karena kelaparan, kerusuah, konflik dan perang. Dan di 5 tahun kedua ini ACT meneguhkan positioning organisasi menjadi Lembaga kemanusiaan. Setelah itu ACT merancang visi baru yang kini kerap terdengar yaitu “Menjadi Organisasi Global Kemanusiaan Berbasis Kedermawanan dan Kerelawanan Masyarakat Global untuk Membangun Peradaban Dunia yang Lebih Baik”.

“Kata-kata ini memang sangat mudah dihafal, tetapi buat kami keluarga besar ACT ibarat sumur yang tidak henti-hentinya mengalirkan energinya, spriritnya dan oleh karena itu dengan visi ini kami tidak pernah absen dengan gagasan-gagasan besar. Kami tidak pernah absen menyajikan  program-program yang lebih baik dari sebelumnya. apapun yang kami lakukan di kancah kemanusiaan, program kemanusiaan nyatanya jauh lebih besar daripada sekedar apa yang dilakukan,” tuturnya.

5 tahun ke-3, ACT melanjutkan visinya dengan isu besar yaitu kemiskinan, hal itu menjadi penyemangat bagi ACT untuk menjadi Lembaga yang benar-benar mampu berbuat yang luar biasa  dalam membebaskan kemiskinan.

“Kita katakan kemiskinan master bencana, oleh karena itu visi organisasi ini dirangkum menjadi 3 nilai dan kami bersemangat dengan itu, kemanusiaan, kedermawanan, dan kerelawanan, bahkan kami menyebutnya dengan segitiga peradaban putih yang siap untuk membersamai bahkan mempimpin peradaban, menghadirkan peradaban yang lebih baik. betapa kemanusiaan menjadi sebuah yang universal, kami meyakini bahkan tidak ada yang lebih besar daripada kemanusiaan. Bahkan kami meyakini bahwa urusan hidup ini adalah urusan kemanusiaan. Buat kami kemiskinan itu adalah sebuah tragedi kemanusiaan, sebuah bencana kemanusiaan yang harus ditangani dengan sesegera mungkin,” jelasnya.

Lebih dari 15 tahun, ACT hadir melayani masyarakat di tengah rangkaian permasalahan umat yang datang silih berganti. Mengawali kiprah di ranah kebencanaan nasional pada 2005, ACT perlahan bertransformasi menjadi lembaga kemanusiaan yang juga fokus menangani krisis kemanusiaan global hingga pengentasan kemiskinan.

Visi besar terus diusung, yakni menjadi organisasi kemanusiaan global profesional berbasis kedermawanan dan kerelawanan masyarakat global untuk mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan aksi nyata lembaga yang telah menjangkau lebih dari 50 juta penerima manfaat di Indonesia dan 50 negara, serta melibatkan sekitar 800 ribu donatur dan 540 ribu relawan.

Seiring dengan besarnya visi dan amanah publik yang diemban, ACT menambah nilai-nilai utama dalam kiprahnya membersamai umat. Nilai-nilai ini tergambar dalam logo baru ACT yang diluncurkan pada Senin (28/9/2020).

Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar menyampaikan, pembaharuan logo ACT tidak meninggalkan sejarahnya. Ia hanya menjadi lebih muda, lebih mewakili kondisi terkini, lebih sesuai dengan masanya. Karena logo adalah wajah dari sebuah brand yang memiliki nilai yang akan terus dipertahankan sepanjang hidupnya. 

“Logo baru ACT merupakan penerjemahan makna rahmatan lil ‘alamin yang menjadi visi besar lembaga ke depan dan sesuai kondisi terkini, lebih modern, dan global. Logo tersebut merepresentasikan tekad kami untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hingga penjuru dunia. Kami ingin identitas baru ini dapat menggambarkan ACT sebagai lembaga yang lebih inovatif, modern, dan nyata kehadirannya di seluruh dunia dalam menyelesaikan permasalahan kemanusiaan,” terang Ibnu Khajar selaku Presiden Aksi Cepat Tanggap dalam acara peluncuran logo baru ACT di Menara 165, Senin (28/9). 

Dalam logo baru ini, ada 15 nilai utama yang diusung. Belasan nilai tersebut antara lain tebarkan rahmat bagi semesta; cepat, total, tuntas; jauh dibantu, dekat apalagi; dekatkan semua pada Sang Pencipta; luaskan manfaat; perkuat kolaborasi; hapuskan kemiskinan; berjiwa relawan; bersamai bangsa yang dermawan; peradaban dunia yang lebih baik; beraksi lebih cepat; dekatkan yang lebih pada yang kurang; selamatkan manusia tanpa pandang bulu; tambahkan sedekah tumbuhkan berkah; dan cinta berbagi untuk sesama.