Grobogan Kekeringan, MRI Solo Distribusikan Air Bersih

Grobogan, relawan.id – Kemarau panjang melanda sebagian wilayah di Kabupaten Grobogan yang membuat warga kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Solo mendistribusikan bantuan ai bersih di Desa Randu Rejo, Kecamatan Pulo Kulon, Kabupaten Grobogan, Sabtu (26/9/2020).

“Bantuan diberikan untuk menunjang kebutuhan air bersih layak konsumsi bagi warga setempat terutama pada musim kemarau yang menyebabkan kekeringan,” ujar relawan MRI Solo, Agung.

Agung mengatakan, setiap musim kemarau tiba, warga Desa Randu Rejo kesulitan mendapatkan air bersih. Warga pun hanya dapat menunggu bantuan datang sebab banyak kebutuhan yang lebih mendesak ketimbang untuk membeli  air ke kota. 

“Satu-satunya sumber air layak konsumsi berasal dari sumur resapan yang airnya tidak bisa mencukupi kebutuhan seluruh warga desa. Hal tersebut diperburuk dengan mengeringnya seluruh aliran sungai ketika musim kemarau,” tuturnya.

Salah satu penerima manfaat, seorang Ibu Rumah Tangga mengatakan sudah 3 bulan lebih kekeringan terjadi, hujan turun pun hanya gerimis, hal itu tidak mencukupi kebutuhan air bersih keluarganya.

“Kalau hujan pun juga cuma gerimis belum pernah hujan deras. Air sumur juga asin cuma bisa buat MCK, Ada sumur resapan yang airnya layak konsumsi, tapi ya airnya tidak seberapa,” katanya.

“Jazakumullahu khoiron katsiron kepada tim dropping dan juga para dermawan. Semoga lancar dan barokah setiap aktivitas dan rezekinya,” tambahnya.

Kekeringan tepatnya telah berdampak pada 2.384 kepala keluarga (KK) atau 5.727 jiwa di Kabupaten Grobogan. Pada tahun 2020 ini, menurut data BPBD Kabupaten Grobogan, sedikitnya ada 100 desa yang terdampak kekeringan. Sebanyak 97 desa di 14 kecamatan masuk dalam daerah rawan bencana kekeringan. Bencana hidrometorologi ini akibat faktor cuaca Hari Tanpa Hujan (HTH) sejak awal Agustus lalu.

Menurut hasil monitoring cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per 10 September 2020, sebagian besar wilayah Kabupaten Grobogan masih berpotensi mengalami HTH dengan klasifikasi hari yang bervariasi antara 1-5 hari (sangat pendek) hingga 21-30 hari (panjang).

Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa potensi musim kemarau masih akan berlangsung hingga satu bulan ke depan. Kondisi tersebut juga berlaku bagi kabupaten lain di Provinsi Jawa Tengah hingga satu bulan ke depan, terhitung sejak waktu monitoring.

Melihat adanya dampak dari bencana yang dipicu oleh faktor cuaca dan hasil monitoring cuaca dari BMKG tersebut, BNPB meminta agar pemangku kebijakan dan masyarakat di daerah lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak dari musim kemarau. Terutama untuk wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis.