Wakaf untuk Kesejahteraan Umat

Jakarta, relawan.id – Salah satu dari bentuk ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT yang berkaitan dengan harta benda adalah wakaf. Amalan wakaf sangat besar artinya bagi kehidupan sosial ekonomi, kebudayaan dan keagamaan. 

Oleh karena itu, Islam meletakkan amalan wakaf sebagai salah satu macam ibadah yang amat digembirakan. Wakaf merupakan salah satu instrumen dalam Islam untuk mencapai tujuan ekonomi Islam yaitu mewujudkan kehidupan yang sejahtera. 

Wakaf sebagai instrumen untuk membantu berbagai kegiatan umat dan mengatasi masalah umat seperti kemiskinan. Dalam Islam amalan wakaf memiliki kedudukan yang sangat penting seperti halnya zakat dan sedekah.

Wakaf diberikan untuk digunakan dalam kepentingan ibadah dan kebaikan. Harta wakaf yang sudah diberikan sudah bukan menjadi hak milik pribadi melainkan menjadi hak milik umat. Wakaf bisa dijadikan sebagai lembaga ekonomi yang potensial untuk dikembangkan selama bisa dikelola secara optimal, karena institusi perwakafan merupakan salah satu aset kebudayaan nasional dari aspek sosial yang perlu mendapat perhatian sebagai penopang hidup dan harga diri bangsa. Oleh karena itu, Wakaf memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan zakat, infaq dan sedekah. 

Dalam sejarah peradaban Islam, praktek wakaf telah dimulai sejak zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Wakaf sumur dan kebun milik Utsman bin Affan Radhiyallahu`anhu dan Umar bin Khatab Radhiyallahu`anhu menjadi bukti nyata bagaimana wakaf memainkan peran penting dalam menggerakkan produktivitas umat. Ribuan tahun lamanya aset wakaf tersebut terpelihara, mengalirkan manfaat bahkan hingga generasi saat ini.

Begitu banyak aset wakaf di seluruh dunia, utamanya negara-negara Islam, yang telah memberdayakan milyaran umat dari masa ke masa. Wakaf menjadi bentuk filantropi Islam yang memberi manfaat terluas dan berkelanjutan. Berbagai aset berharga dilepaskan kepemilikannya melalui wakaf semata-mata demi meraih pahala dan maslahat yang terus mengalir.

Di berbagai negara Islam, hampir sebagian besar infrastruktur publik telah ditopang oleh wakaf. Rumah sakit, sekolah, pertanian dan perkebunan, lahan strategis, hingga hotel dan gedung perkantoran hasil optimalisasi wakaf terus berkembang. Hal tersebut memudahkan masyarakat (mauquf alaih) mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan sarana publik lainnya.

Mendapatkan pahala yang senantiasa mengalir serta mampu memberikan manfaat seluas-luasnya kepada mauquf alaih, umat Muslim mana yang tidak menginginkan hal tersebut? Namun demikian, bayangan bahwa berwakaf itu sulit kerap kali muncul. Utamanya jika melihat aset harta berharga yang umumnya diwakafkan, seperti tanah, lahan pertanian, dan bangunan.

Wakaf bisa dilakukan bahkan dengan berapa pun besaran hartanya. Tidak seperti zakat yang memiliki nisab (nilai minimal sesuatu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya), wakaf tidak mempunyai batasan minimal harta untuk diwakafkan. Wakaf tidak terpaku pada kuantitas harta atau objek wakaf, melainkan pada esensi wakaf itu sendiri. Setiap harta yang diwakafkan harus bisa dijaga dan dioptimalkan hingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Tahukah sahabat bahwa wakaf sering pula disebut sedekah jariyah? Mengapa Wakaf disebut sedekah jariyah? Karena secara singkat dan sederhana Wakaf dapat diartikan sebagai amalan yang menghasilkan pahala yang tak terputus meskipun si pemberi sedekah sudah meninggal.

Yuk, sedekah di hari terbaik via tautan: relawan.indonesiadermawan.id/mariberwakaftunai atau transfer via rekening Global Wakaf (MRI Pusat-GW) BNI Syariah: 8262000000685588