Rukun Wakaf Polis Asuransi

Jakarta, relawan.id – Asuransi merupakan lembaga keuangan non bank yang bergerak dalam bidang layanan jasa. Jasa asuransi ini sangat diperlukan bagi individu maupun sebuah keluarga sebagai langkah antisipatif dalam menghadapi permasalahan ekonomi apabila mendapat suatu musibah seperti kecelakan bahkan meninggal dunia. 

Polis sebagai suatu perjanjian asuransi atau pertanggungan sesuai kesepakatan harus dibuat secara tertulis dalam suatu akta antara pihak yang mengadakan perjanjian yakni perusahaan asuransi dan pemegang polis serta pihak lain yang terlibat. Sejalan dengan itu, asuransi sebagai lembaga keuangan non bank perlu meningkatkan produk-produknya. Salah satu inovasi yang dilakukan oleh lembaga asuransi yakni membuka produk wakaf polis asuransi. Wah, seperti apa tuh wakaf polis asuransi?

Wakaf Polis Asuransi adalah mewakafkan dana yang berada pada polis asuransi kepada badan atau lembaga Wakaf. Polis yang diterima berasal dari Asuransi Syariah maupun Asuransi Konvensional. Nasabah yang memiliki Asuransi Unit Link dapat mewakafkan Polis hingga 95% dari manfaat asuransi dengan membeli Polis Asuransi Syariah baru. Sementara itu, Nasabah baru Asuransi Syariah dapat mewakafkan 45% dari manfaat asuransinya.

Sebenarnya wakaf dan asuransi adalah dua lembaga keuangan non bank yang berbeda jauh mulai dari rukun, akad, pengelolaan  bahkan produk. Pada lembaga wakaf, produk yang ditawarkan adalah jasa layanan penghimpunan dan pendistribusian wakaf. 

Wakaf ini memiliki fungsi sosial dimana tujuan dari wakaf sendiri adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup bersama melalui pemanfaatan harta benda sesuai dengan fungsinya. Selain itu, wakaf ini pun merupakan wujud ibadah individu. Sehingga banyak kaum muslim yang tidak hanya membayar zakat, infaq maupun sedekah tetapi juga membayar wakaf.

Proses Wakaf akan melalui sebuah Akad, yakni serah terima menurut Syariat Islam. Akad wakaf dilakukan dengan dua cara, yaitu Akad Wakaf untuk wakaf produktif sebagian dari nilai Polis Asuransi yang meliputi uang pertanggungan nilai tunai saat jatuh tempo dan akad amal kebaikan untuk kepentingan wakif, keluarga wakif, kepentingan umum, sebagian dari nilai Polis Asuransi saat jatuh tempo.

Wakaf Wasiat Polis Asuransi

Sementara itu, Wakaf Wasiat Polis Asuransi merupakan perencanaan wakaf dengan mewasiatkan secara hukum sebagian dari ke pemilikan aset ketika Wakif (orang yang berwakaf) meninggal dunia dan disetujui oleh ahli waris. Namun Wakif tetap dapat menikmati manfaat dari aset yang diwakafkan tersebut selama ia masih hidup.

Wakaf Wasiat Polis Asuransi tidak boleh dilakukan asal-asalan. Proses Wakaf harus melalui Syariat Islam, di mana berlaku Rukun Wakaf yang menentukan sempurna atau tidaknya berwakaf.

Adapun Rukun Wakaf adalah:

Ada orang yang berwakaf

Wakif atau orang yang berwakaf adalah faktor penting dalam hal ini. Wakif haruslah orang yang mampu, dewasa, berakal sehat, serta tidak lalai dan tidak terpaksa melakukannya.

Ada harta yang diwakafkan

Seorang Wakif yang ingin berwakaf harus memiliki harta atau barang yang diwakafkan. Harta Wakaf dapat berupa benda tetap (rumah, tanah), modal, saham, maupun Polis Asuransi. Meski demikian Wakif harus memperhatikan status harta agar memenuhi syarat Wakaf di mata agama.

Syarat harta Wakaf harus memiliki nilai guna, harta berasal dari Wakif dan dilindungi secara hukum (sertifikat, Polis Asuransi, dan dokumen lain), serta tahan lama jika dimanfaatkan oleh penerima. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah harta Wakaf tidak dapat diubah, dijual, atau dialihkan.

Penerima Wakaf

Ada orang yang berwakaf, harus ada orang yang menerima Wakaf atau Maufuq’Alaih. Penerima Wakaf tak serta merta menerima begitu saja. Maufuq’Alaihharus orang atau kelompok saleh dan mereka wajib melakukan kebajikan di jalan Allah SWT. penerima bisa perorangan atau lembaga Wakaf (Nazhir).

Penyerahan Wakaf

Selain itu, rukun mencantumkan mengenai penyerahan Wakaf atau ShighahShighahdapat dilakukan secara tertulis, lisan, atau isyarat dipahami pihak terkait.

Program Wakaf memberikan cara alternatif kepada Nasabah dalam memberikan manfaat ganda sejalan dengan Syariat Islam. Manfaat proteksi, investasi, dan kemaslahatan umat.