Hidupkan Pendidikan Bagi Anak-Anak Pemulung, MRI-ACT Jakbar Bangun Rumah Belajar Ceria

Jakarta, relawan.id – Hampir sebagian besar anak tampak kebingungan menyelesaikan soal matematika penjumlahan pecahan, Sabtu (2/10) pagi itu. Mereka pun saling berebut tanya ke relawan Masyarakat Relawan Indonesia yang menjadi pengajar. Di tengah suasana itu, ada pula yang merengek minta jajan atau sekadar pinjam penghapusan teman.

Begitulah suasana di Rumah Belajar Ceria Masyarakat Relawan Indonesia Jakarta Barat. Anak-anak belajar penuh keluguan. Bertempat di atas tumpukan sampah terbesar di Kelurahan Kapuk, salah satu permukiman padat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Utara.

Di bangunan seluas 20 meter persegi, relawan MRI Jakarta Barat berikhtiar menghidupkan pendidikan bagi anak-anak pemulung dan putus sekolah. Di atas tumpukan sampah setinggi enam meter itu kegiatan belajar mengajar dilakukan. Kelas diisi dengan mata pelajaran dasar, seperti matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau pun pelajaran prakarya yang dilaksanakan pada Jumat, Sabtu, dan Ahad. Rata-rata para siswa berusia 5-12 tahun, namun tidak semua menempuh pendidikan formal sesuai usianya.

“Awalnya, suatu malam salah satu relawan kami bertemu anak-anak yang mulung tengah malam di sekitar RSUD Cengkareng. Kami tanya, tinggal di mana, sekolah atau enggak. Ternyata enggak (sekolah). Besoknya kami (relawan MRI Jakbar) datang lagi sambil membawa makanan. Kami pendekatan, kami bilang mau ajak mereka belajar. Kami bertemu orang tuanya,” Muhammad Taufikurrahman (35), Ketua Harian MRI Jakarta Barat sekaligus pendiri Rumah Belajar Ceria.

Pendekatan itu tidak mudah. Saat Taufik dan relawan MRI mengunjungi calon orang tua siswa yang juga mencari nafkah sebagai pemulung, ide “rumah belajar” pun ditolak. Menurut sejumlah orang tua kala itu, belajar atau sekolah akan membutuhkan biaya. Para orang tua itu beranggapan, anak-anak mereka lebih baik mencari uang dengan cara memulung dibanding sekolah.

“Wah enggak mudah ya, ditolak, tetapi kami enggak mau menyerah sampai akhirnya bisa menjalankan Rumah Belajar Ceria pada Agustus 2019 kemarin,” lanjut Taufik.

Kini, Rumah Belajar Ceria sudah cukup berkembang, bukan hanya melibatkan relawan dari MRI Jakarta Barat sebagai pengajar, tetapi juga dari berbagai kalangan seperti dosen, pegawai rumah sakit, karyawan swasta, dan mahasiswa. Taufik pun tidak menyangka jika ikhtiar MRI Jakarta Barat bisa berbuah gerakan humanis melibatkan lebih banyak relawan untuk pendidikan Indonesia.

Kini, relawan MRI Jakarta Barat pun membuka Rumah Belajar Ceria cabang kedua di Kampung Bulak Teko, Kalideres, Jakarta Barat. Rumah Belajar Ceria-2 baru saja disosialisasikan kepada calon siswa dan orang tuanya Ahad (25/10) kemarin.

Tidak berbeda jauh dengan kondisi di Kelurahan Kapuk, Rumah Belajar Ceria-2 hadir di Kalideres untuk mendukung pendidikan anak-anak dari keluarga prasejahtera. Bedanya, di Rumah Belajar Ceria-2 kegiatan belajar mengajar sudah dipionirkan tokoh masyarakat setempat yang membutuhkan banyak relawan karena jumlah siswanya kian banyak. “Ada 50 orang di Rumah Belajar Ceria-2 ini,” kata Taufik.

Perjalanan Taufik dan relawan MRI Jakbar menjalankan pendidikan yang terpinggirkan tidak selalu mulus. Mereka pun harus beberapa kali pindah lokasi. Saat ini, Rumah Belajar Ceria di Kalideres harus menyewa bangunan seluas 20 meter persegi dengan bayaran Rp650 ribu per bulan. Belum lagi kalau anak-anak mereka tidak hadir karena memulung.

Ke depan, Taufik pun berharap bisa mengembangkan keterampilan yang dibagikan di Rumah Belajar Ceria. “Insyaallah, kami berikhtiar untuk memberikan pelajaran komputer kepada anak-anak. Cuma memang belum ada donaturnya, butuh komputer dan daya, sementara ruangan yang bisa ditempat sudah ada,” harap Taufik.

Taufik juga menjelaskan, saat ini Rumah Belajar Ceria juga dalam tahap legalisasi agar dapat memfasilitasi anak-anak yang putus sekolah mendapatkan ijazah dengan kejar paket.

Rumah Belajar Ceria merupakan ikhtiar relawan MRI Jakarta Barat menjalankan amanah undang-undang: Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya.

“Pendidikan menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah. Jadi, mari kita lakukan bersama,” kata Taufik.

Anita, warga Kapuk sekaligus salah satu orang tua siswa Rumah Belajar Ceria, mengaku,  kehadiran Rumah Belajar Ceria membuka jalan bantuan untuk warga Kampung Pemulung. Selain belajar mengajar untuk anak-anak, sesekali bantuan pangan bahkan kurban hadir untuk warga.

“Kalau kegiatan ini (Rumah Belajar Ceria) berhenti, mungkin saya yang paling sedih. Apa-apanya semua saya koordinatornya. Belajar apa, saya yang kasih tahu ke anak-anak, ke warga. Adanya MRI-ACT ini sangat membantu kami, khususnya anak-anak saya terbantu, enggak perlu les, yang mana biayanya pasti mahal. Rumah belajar juga mendukung anak-anak yang putus sekolah,” kata Anita.

Orang tua siswa pun juga turut mendapatkan pelatihan keterampilan kerajinan yang hasilnya menjadi alternatif penjualan mereka selain memulung, sebagian lain untuk operasional Rumah Belajar yang harus membayar sewa.

“Saya kagum dengan para relawan, mereka kan enggak dibayar ya, tetapi mau berbagi dengan kami, mengajar. Mereka juga punya keluarga. Semoga relawan MRI-ACT selalu mendapat kebaikan,” kata Anita.