Gunung Merapi Erupsi, MRI-ACT Magelang Lakukan Pendampingan Psikososial

Magelang, relawan.id – Pemerintah Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, menetapkan tanggap darurat erupsi Gunung Merapi pada Jumat (6/11). Status tanggap darurat diberlakukan hingga 30 November.

Berdasarkan laporan situasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, warga rentan yang terdiri dari manula dan balita di Padukuhan Kalitengah Lor dan Kidul, Desa Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman mulai dievakuasi Sabtu (7/11) sore ke barak Glagaharjo.

Kelompok masyarakat rentan di Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, juga mulai diungsikan. Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Magelang turut melakukan pendampingan psikososial. 

“Kegiatan dimulai sore hari di halaman musala gedung BPBD Desa Bulurejo. Dibuka dengan arahan dari Ibu Siwi selaku Kepala Desa setempat. Relawan mengajak anak-anak bermain, dibagi menjadi dua regu yaitu regu usia TK sebanyak 20 anak dan usia SD sebanyak 19 anak,” lapor Koordinator Tim Program ACT Jawa Tengah Hamas Rausyanfikr. Permainan diisi dengan menyanyi, menari, dan berhitung.

Aksi Cepat Tanggap Jawa Tengah dan DI Yogyakarta pun berkolaborasi mengikhtiarkan bantuan terbaik. Ambulans dan bantuan bahan makanan pun disiapkan Senin (9/11).

Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan aktivitas Gunung Merapi menjadi level III atau Siaga. Kenaikan status tersebut tertanggal mulai Kamis (5/11), pukul 12.00 WIB.

BPPTKG melakukan pemetaan sektoral terkait prakiraan daerah bahaya meliputi 12 desa yang tersebar di DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah.  Wilayah administrasi desa yang masuk di dalam prakiraan daerah bahaya di DI Yogyakarta yaitu Glagaharjo, Kepuharjo dan Umbulharjo yang berada di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, tiga kabupaten teridentifikasi memiliki wilayah-wilayah desa yang masuk dalam prakiraan daerah bahaya, yaitu Magelang, Boyolali dan Klaten.