Meniru Wakaf Para Sahabat Rasul

Jakarta, relawan.id – Wakaf tak sekadar ibadah biasa. Dari wakaf kekuatan ekonomi umat dapat bangkit dan menjadi jalan kebermanfaatan yang luas. Hal ini telah dibuktikan oleh para Sahabat Nabi. Lalu, bagaimana wakaf pada masa Rasulullah dan para Sahabat?

Para Sahabat menyambut seruan dan perintah berwakaf dengan suka cita dan semangat yang menggebu. Berbagai bidang telah banyak dicontohkan menjadi wakaf para Sahabat. Berikut bidang-bidang wakaf dari para Sahabat:

1. Wakafkan Tanah

Wakaf sebidang tanah menjadi salah satu kebiasaan yang para Sahabat lakukan. Seperti sepetak tanah Masjid Nabawi, masjid ini bermula berdiri dari sebidang tanah yang akan diwakafkan oleh dua anak yatim dari Bani Najjar. Namun, Rasulullah SAW. kemudian membeli tanah tersebut dan dibayarkan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq. Pada awal pembangunan Masjid Nabawi, luasnya baru sekitar 35 M X 30 M. Masjid Nabawi kemudian mengalami perluasan pada masa Rasulullah SAW, seiring dengan bertambah banyaknya Muslim di Madinah. Perluasan Masjid Nabawi juga tidak terlepas dari tanah wakaf yang diberikan oleh Abdurrahman bin Auf di sebelah Utara masjid.

Umar bin Khattab juga mewakafkan sebidang tanahnya di Khaibar. tanah di Khaibar ini merupakan salah satu tanah yang begitu subur lagi banyak menghasilkan manfaat. Dengan mewakafkan tanahnya itu, menjadi salah satu bentuk berlomba-lombanya para Sahabat menyeru perintah berwakaf.

2. Wakafkan Kebun

Abu Thalhah ra. mewakafkan kebun terbaiknya. perkebunan yang biasa disebut Bairuha itu diwakafkan kepada kaum muslim setelah mendengar ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yakni Surat Ali Imran ayat 92, yang artinya adalah

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui”

Bagi Abu Thalhah, perkebunan Bairuha merupakan salah satu harta yang dicintainya, karena menjadi kebun yang paling produktif. Akan tetapi, kecintaan terhadap Rasul dan perintah Allah SWT. jauh lebih penting dari harta dunia.

3. Wakaf Air Masa Sahabat Nabi

Para Sahabat selalu menyambut perintah wakaf dengan semangat yang menggebu, tak hanya berupa sebidang tanah dan kebun yang menjadi objek wakaf Sahabat. Wakaf air menjadi salah satu wakaf yang hingga kini masih terus mengalirkan pahala bagi muwakifnya, yakni Utsman bin Affan.

Sebuah sumur yang dibelinya dari seorang Yahudi hingga kini masih ada. Sumur air itu kemudian diwakafkan kepada kaum muslimin, untuk diambil manfaatnya dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di samping sumur kemudian tumbuh pohon-pohon kurma yang berbuah ranum dan lebat. Kurang lebih pohon kurmanya kini berjumlah 1.550 pohon dan setengah dari hasil penjualan kurma dibagikan kepada yatim dan fakir miskin. Sedangkan setengahnya lagi disimpan di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan.

Sahabat, kendati Utsman bin Affan dan para Sahabat lainnya telah wafat, aliran pahala dari wakaf mereka masih senantiasa mengalir hingga hari ini. Maka, maukah kita mendapat aliran pahala serupa?

Bagi Masyarakat Indonesia yang ingin berwakaf bisa langsung kunjungi ke laman Indonesia Dermawan atau transfer melalui BNI Syariah #8262000000685588 atas nama Yayasan Global Wakaf,