MRI-ACT Lakukan Pendampingan Psikososial untuk Anak-Anak

Boyolali, relawan.id – Meningkatnya aktivitas Merapi hingga akhirnya ditetapkan status siaga membawa dampak yang cukup besar di beberapa kabutapen yang mengelilingi gunung api paling aktif di Jawa itu. Selain di Magelang dan Sleman, warga Merapi yang mengungsi juga bisa ditemukan di Boyolali, tepatnya di Kecamatan Selo. Di pengungsian ini tercatat 133 jiwa yang terdiri dari balita, anak-anak, difabel, ibu hamil, serta lansia.

Merespons adanya pergerakan warga yang mengungsi di Boyolali, Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) bergerak menuju Desa Tlogolele yang menjadi lokasi penampungan pengungsi. Di sana, tim ACT dan MRI melakukan asesmen awal untuk penentuan bantuan yang akan segera diterima oleh para pengungsi.

“Di Selo, kami melakukan asesmen yang nantinya data terkumpul akan menjadi acuan pengiriman bantuan. Selain itu, kami juga coba berinteraksi dengan pengungsi yang mayoritas merupakan golongan rentan,” jelas Tim Program ACT Solo, Ardian Sapto, Rabu (11/11).

Dengan banyaknya pengungsi golongan rentan, selain melakukan asesmen, tim ACT dan MRI juga menggelar pendampingan psikososial untuk anak-anak. Pasalnya, tak hanya di bawah ancaman bencana erupsi, anak-anak ini juga menjadi korban dari hadirnya pandemi. Lebih dari setengah tahun aktivitas pendidikan mereka di sekolah tak bisa maksimal. Kini mereka harus berada di pengungsian yang sangat besar kemungkinan menimbulkan rasa bosan.

Neigen Achtah Nur selaku Sekretaris Desa Tlogolele yang sekaligus koordinator pos pengungsian mengatakan, kondisi di penampungan pengungsi ini masih sangat membutuhkan tim pendamping psikososial. Hal tersebut dirasa mendesak karena di pengungsian pun aktivitas terbatas demi menjaga protokol kesehatan. “Di titik pengungsian ini ada puluhan anak-anak. Dan, saat ini belum ada relawan yang bisa mengajak anak-anak bermain dan belajar,” ungkap Neigen.

Selain dukungan psikososial, para pengungsi golongan rentan di sana juga membutuhkan berbagai bantuan lainnya seperti pangan. Apalagi, jika kemungkinan paling buruk terjadi, ialah erupsi, diperkirakan jumlah pengungsi akan bertambah. Kini, semua pihak berharap agar tak akan terjadi kemungkinan terburuk, namun kewaspadaan serta tetap siaga harus tetap diberlakukan.