MRI-ACT Terus Dampingi Ratusan Pengungsi Erupsi Gunung Merapi

Magelang, relawan.id – Sejak Gunung Merapi masuk status siaga, Tim Tanggap Darurat Aksi Cepat Tanggap (ACT) serta Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jawa Tengah terus melakukan upaya pendampingain terhadap ratusan pengungsi.

Pendampingan ini dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari asesmen kebutuhan, pendistribusian bantuan pangan, hingga pendampingan psikososial dari relawan MRI yang bertugas di sana. Semua ini dilakukan demi menjaga kondisi pengungsi yang tengah dalam ancaman bencana serta pandemi yang belum kunjung mereda.

“Beberapa program yang ACT dan MRI lakukan ialah asesmen ke lokasi berpotensi bencana, pemberian bantuan berupa alat pelindung diri, Beras Wakaf, hingga makanan siap saji,” jelas Tim Program ACT Jawa Tengah, Hamas Rausyanfik,  Kamis (12/11).

Pendataan pengungsi yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat ACT dan MRI menjangkau hingga empat posko pengungsian di Magelang. Posko tersebut ada di Desa Taman Agung, Ngrajek, Deyangan, serta Banyurejo yang menjadi titik aman. Pendataan serta asesmen ini dilakukan untuk menentukan aksi yang akan dijalankan oleh ACT ke depannya.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencan Daerah, per Rabu (11/11) pukul 18.00 WIB, jumlah pengungsi mencapai 836 jiwa. Mereka merupakan warga yang tinggal di zona rawan terdampak erupsi, khususnya Kecamatan Dukun, jika sewaktu-waktu Merapi semakin meningkat aktivitasnyanya. Warga yang mengungsi itu pun tersebar di lima posko induk pengungsian yang ada di wilayah Kecamatan Mertoyudan dan Muntilan.

Hamas menambahkan, di tahun 2020 ini, penanganan pengungsi dalam jumlah besar menjadi tantangan tersendiri dengan hadirnya pandemi Covid-19. Selain pengungsi, relawan yang bertugas pun harus mematuhi protokol kesehatan. Hal tersebut mengingat pandemi belum berakhir, malah angka kasus barunya terus meningkat. “Untuk itu, pada fase kali ini, selain paket pangan, ACT dan MRI juga fokus dalam bantuan sara pendukung kesehatan seperti APD,” imbuhnya.

Para pengungsi siaga Merapi ini rata-rata datang tanpa membawa keperluan pendukung hidup seperti alat dapur. Untuk itu, mereka sangat menggantungkan kebutuhan pangan siap santap mereka dari bantuan, seperti dapur umum. Saiful selaku Komandan Posko MRI di Magelang mengatakanm setiap harinya tim MRI dan ACT yang bertugas ikut terlibat di dapur umum yang telah didirikan.

Selain relawan, para pengungsi turut meramaikan aktivitas di dapur umum. Uniknya, walau mereka sebagai pengungsi, namun kedermawanan tetaplah hadir. Di beberapa posko, tersedia bermacam sayur-mayur yang merupakan tanaman pengungsi. Mereka menyedekahkan kebutuhan pangan itu untuk dikonsumsi bersama.

Selain makanan siap santap, kebutuhan lain yang perlu untuk dipenuhi ialah pendampingan ke anak-anak. Pasalnya, dalam beberapa bulan terakhir mereka mengurangi aktivitas sekolah karena adanya pandemi, dan kini anak-anak terpaksa ikut mengungsi bersama orang tua untuk mengamankan diri.