Potensi Wakaf untuk Bantu Keuangan Negara

Jakarta, relawan.id – Rasulullah SAW bersabda: “Ketika seseorang meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR Muslim)

Wakaf adalah sedekah jariyah yang mengalirkan pahala tak terputus. Semakin banyak dan sering kita berwakaf, semakin besar juga pahala yang kita dapatkan.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan wakaf memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di Indonesia, salah satunya untuk membantu sistem keuangan negara. Namun jenis wakaf dan pemanfaatannya yang ada saat ini dinilai belum cukup luas.

Mayoritas wakaf masih berjenis tanah dan diperuntukkan untuk membangun masjid, madrasah, atau pemakaman. Oleh karena itu, kata dia, diperlukan inovasi dalam mendorong pemanfaatan wakaf diantaranya melalui gerakan nasional wakaf tunai.

“Kita akan melakukan gerakan nasional pengumpulan wakaf tunai, wakaf cash, wakaf uang. Kita coba wakaf ini kita kembangkan lagi supaya jadi dana besar, yang bisa diinvestasikan dan dikembangkan untuk jangka panjang, ini juga untuk bantu sistem keuangan nasional kita,” ujar Ma’ruf beberapa waktu lalu.

Upaya pengembangan wakaf dalam jangka panjang, kata dia, bertujuan untuk membangun kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, diperlukan pengelolaan dana wakaf yang baik agar tujuan mulia pengembangan wakaf ini dapat betul-betul dirasakan oleh masyarakat.

“Gerakan sedang dipikirkan, ketika sudah kumpul dana itu juga manajemen pengelolaannya juga (harus baik) supaya ada kepercayaan, ada trust, dari masyarakat bahwa dananya akan terkelola dengan baik. Ini salah satu upaya kita dalam pengembangan. Karena memang dana wakaf menjadi salah satu instrumen dalam membangun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan potensi wakaf di Indonesia sangat besar. Kalau melihat penduduk Indonesia, khususnya kelas menengah, ada sekitar 74 juta potensi masyarakat yang bisa berpartisipasi dalam gerakan wakaf.

“Dari sisi size mencapai Rp 217 triliun atau 3,4 persen dari Produk Domestik Bruto kita,” ujar dia.

Melihat potensi wakaf tersebut, Sri Mulyani mengatakan pemerintah sudah meluncurkan instrumen investasi Cash Waqf Linked Sukuk untuk menjaring potensi tersebut. Instrumen tersebut, menurut dia, memberikan fleksibilitas kepada masyarakat.

“Kita bayangkannya wakaf itu menyerahkan aset selamanya, enggak juga. Yang Cash Waqf Linked Sukuk ini durasinya dua dan enam tahun, memang tidak tradeable,” ujar Sri Mulyani.

Dengan instrumen itu, Sri Mulyani mengatakan dana yang masuk ke dalam wakaf adalah hasil investasinya. Sementara, dana yang disetor untuk membeli investasi nantinya akan kembali lagi setelah tenornya selesai.

“Karena di bayangan barangkali oleh masyarakat wakaf itu tanah atau apa, tapi bisa saja dalam bentuk sebagian income yang dipakai bisa kita wakafkan dua tahun, yaitu dalam bentuk profit dari hasil investasinya, bukan uangnya sendiri,” ujar dia. 

Ia meyakini kalau dapat melakukan mobilisasi dana wakaf tersebut, maka Indonesia bisa mendapat langkah besar untuk mengumpulkan pendanaan sosial.

Yuk, sedekah di hari terbaik via tautan: relawan.indonesiadermawan.id/mariberwakaftunai atau transfer via rekening Global Wakaf (MRI Pusat-GW) BNI Syariah: 8262000000685588