Pengusaha Harus Memiliki Mentalitas Memberi

Jakarta, relawan.id – Menjadi seorang pengusaha sukses merupakan sebuah tantangan tersendiri di zaman sekarang. Bagi yang baru memulai sebuah usaha pasti akan merasakan sulitnya membangun sebuah usaha dan menjaganya agar tetap eksis dalam jangka panjang. Hal ini juga tentu saja tidak hanya berlaku pada pelaku usaha baru, namun juga untuk orang-orang yang sudah menjalankan usahanya duluan dalam waktu lebih lama.

Menurut pengusaha Heppy Trenggono, menjadi pengusaha adalah persoalan karakter. Karakter pengusaha adalah bisa menghadapi situasi apa pun. Hal itu dikatakannya saat diskusi bertajuk “Wakaf, Energi Kedaulatan Pangan Bangsa”

“Pengusaha itu persoalan mentalitas, dia bisa menghadapi situasi apa pun. Menghadapi situasi sulit seperti sekarang (pandemi Covid-19), dituntut sebuah kesabaran, keyakinan, kerja keras, dan kreativitas,” kata Heppy.

Di satu sisi, Heppy juga senang mengetahui banyak program bantuan untuk pengusaha mikro dan menengah yang terdampak Covid-19. Di sisi lain, Heppy juga mengingatkan para pengusaha untuk punya mentalitas memberi. Menurut Heppy, seorang pengusaha harus memahami bahwa dia bisa membantu, bukan sekadar memberi bantuan.

Mentalitas pantang menyerah itu seperti sejumlah penerima Wakaf Modal usaha Mikro. Mak Boh salah satunya, penjual Dimsum Cemimiw, yang menjadi penerima manfaat program Wakaf Modal Usaha Mikro dari Global Wakaf-ACT.

Setelah pandemi, bisnis kuliner Mak Boh kembali berjalan. Ia bahkan berbagi kepada pembeli dengan memberi diskon setiap Jumat. Potongan harga yang Mak Boh berikan kepada pembeli setiap Jumat ia anggap sebagai salah satu bagian dari zakat. 

“Kita kalau dipotong 2,5 persen suka enggak kepikiran (ingat). Disalurkannya di situ (potongan harga) saja, namanya Jumat Berkah. Mau yang pakai mobil, mau yang jalan kaki, pokoknya ada potongan harga,” jelas Mak Boh seperti dilansir ACTNews, Jumat (1/1/2020).

Ada juga Sutiyasih, pemilik usaha kelontong di Jagakarsa. Sempat ambruk terdampak pandemi, kini warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu bisa memiliki omzet Rp91 juta per bulan. “Alhamdulillah, waktu pandemi itu, dapat dukungan modal selama tiga bulan, lumayan, buat buka warung. Sekarang, Global Wakaf-ACT lanjut memberi pendampingan,” katanya.