MRI-ACT Kalsel Bantu Evakuasi Warga dari Kepungan Banjir

Tanah Laut, relawan.id – Curah hujan tinggi terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada beberapa hari terakhir yang mengakibatkan banjir. Seperti di Kabupaten Kotabaru, Kabupaten Banjar, dan Kota Banjarbaru dan yang terparah adalah Kabupaten Tanah Laut.

Banjir juga melumpuhkan Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kota Banjarmasin, Pelaihari, Batulicin dan Kotabaru, yang berada di Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut. Sejak empat hari terakhir banjir sepanjang tiga kilometer lebih tergenang air setinggi pinggang orang dewasa.

Akibat banjirnya ini sedikitnya 2.907 jiwa harus mengungsi, lantaran pemukiman mereka terendam banjir. Merespons bencana ini, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI-ACT) Kalimantan Selatan menerjunkan tim untuk mengevakuasi warga dari kepungan banjir.

Menurut Komandan Tim Tanggap Darurat ACT Kalsel, Muhammad Riadi, timnya bersama relawan gabungan melakukan evakuasi di beberapa titik banjir. Proses evakuasi ini berfokus pada menyelamatkan barang berharga serta warga yang sakit untuk dibawa ke posko pengungsian.

“Kami bekerja dengan bantuan alat seperti perahu karet dan alat pelindung diri lengkap. Alhamdulilah relawan bisa membantu warga untuk menyelamatkan diri dan barang berharga yang ada di rumah,” kata Riadi, Senin (11/1/2021).

Tak hanya itu, Tim Tanggap darurat ACT dan MRI ini juga bergabung di posko dapur umum yang telah didirikan untuk membantu kebutuhan pangan penyintas banjir. Penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan pangan ini menjadi penting karena banjir belum juga menunjukkan adanya penurunan.

“Banjir belum menunjukkan penurunan, sehingga tim ACT dan MRI tetap bersiaga di posko pengungsian. Selain itu, banjir juga meluas, tak hanya di Tanah Laut saja,” ujar Riadi.

Sementara itu, Kepala Cabang ACT Kalsel Zainal Arifin mengajak masyarakat untuk bisa terlibat dalam aksi kemanusiaan membantu penyintas banjir Kalsel. Hal tersebut karena dampak banjir cukup parah, terlebih juga bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang juga belum mereda. Salah satu titik terparah banjir ada di Kecamatan Bati Bati, Tanah Laut.

“Bantuan untuk penyintas banjir benar-benar sangat dibutuhkan. Bukan hanya berupa makanan saja, tetapi mereka juga memerlukan obat-obatan, karena tidak menutup kemungkinan sebaran penyakit lebih mudah di kondisi bencana seperti sekarang ini,” kata Zainal.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanah Laut, tercatat ada 3.755 rumah terendam banjir di seluruh wilayah berjuluk Bumi Tuntung Pandang ini. Jumlah ini sendiri tidak menutup kemungkinan akan bertambah, mengingat luasnya dampak banjir di Kabupaten Tanah Laut ini.