Palestina Masih Dirundung Krisis Air Bersih

Jakarta, relawan.id – Krisis air parah yang terjadi di Gaza-Palestina telah berlangsung begitu lama, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menobatkan Gaza tak layak huni pada tahun 2020, hal itu karena kurangnya ketersediaan air yang tidak dapat diminum. 97% sumber air bawah tanah di Gaza tak layak konsumsi, salah satu penyebabnya adalah konflik perang yang belum juga berakhir, hingga tingginya kandungan zat radioaktif di dalam tanah.

Kondisi ini membuat 1,9 juta warga Gaza yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih layak konsumsi, mereka harus membeli dengan harga yang mahal. Mengingat pengepungan yang dilakukan oleh pemerintah Zionis Israel juga membuat situasi ekonomi di jalur Gaza ikut terdampak. Sementara di sisi lain kebutuhan air bersih semakin meningkat karena pandemi Covid-19 di mana warga harus selalu menjaga higienitas diri.

Untuk itu, Global Wakaf-ACT berikhtiar untuk membantu warga Gaza yang sedang dalam kesulitan air bersih dengan menghadirkan sumur wakaf, karena air menjadi salah satu masalah terburuk dalam kehidupan sehari-hari 2,1 juta masyarakat Gaza. Saat ini sebagian masyarakat Gaza di wilayah-wilayah kehadiran sumur wakaf sudah dapat mengakses air bersih secara gratis, dapat mengurangi penyakit karena sanitasi buruk, dan lingkungan yang lebih bersih.

“Hadirnya Sumur Wakaf di daerah ini adalah usaha kami untuk menghadirkan air bersih dan sanitasi yang layak di wilayah Gaza. Karena bagaimanapun, konflik yang telah berlangsung menahun merusak banyak tatanan hidup masyarakat, termasuk sanitasi dan segala fasilitasnya. Terhitung sudah 4 unit Sumur Wakaf yang kita bangun di Palestina,” kata Said Mukkafiy dari Tim Global Humanity Response (GHR) -ACT beberapa waktu lalu.

Konflik menjadi salah satu sebab mengapa beberapa titik di Jalur Gaza mengalami krisis air bersih. Michael Lynk, salah seorang Pelapor Khusus di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan hal ini lewat laporannya resminya untuk Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR).

“Pada 2017, lebih dari 96% akuifer pesisir Gaza, yang merupakan sumber air utama bagi penduduk Gaza, tidak layak dikonsumsi manusia. Alasannya antara lain ekstraksi yang berlebihan karena populasi Gaza yang sangat padat, air terkontaminasi oleh limbah dan air laut, blokade Israel selama 12 tahun lamanya, dan perang asimetris yang telah membuat infrastruktur Gaza lumpuh parah dan terus-menerus kekurangan listrik,” sebut Lynk dalam laporan yang dipublikasikan pada 18 Maret 2019 tersebut.

Palestina kini mengalami krisis air bersih. Public Radio International melaporkan, sejak 20 tahun lalu, 85 persen air minum di Gaza terkontaminasi. Pada 2018, mereka menemukan fakta memprihatinkan bahwa kadar kontaminasi meningkat menjadi 97 persen. Padahal, mengonsumsi air terkontaminasi adalah masalah serius bagi kesehatan. Sejumlah penyakit seperti diare, penyakit ginjal, pendek (stunting), hingga gangguan kecerdasan adalah risikonya.

Yuk, salurkan kepedulianmu dengan berwakaf tunai untuk pembangunan Sumur Wakaf Gaza, melalui indonesiadermawan.id/SumurWakafGaza