Para Penyintas Gempa Sulbar Masih Bertahan di Pengungsian

Jakarta, relawan.id – Satu pekan pascagempa bumi bermagnitudo 6,2 yang mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, masih banyak para penyintas bencana yang tinggal di tenda pengungsian. Hal itu dikarenakan rumah mereka mengalami kerusakan dari sedang hingga parah. Selain itu mereka juga masih trauma jika harus kembali ke rumah. 

Sehingga, sampai saat ini bantuan kemanusiaan menjadi satu-satunya penunjang kehidupan mereka.

Salah satu lokasi pengungsian yang masih cukup banyak menampung penyintas ada di Dusun Popanga, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Mamuju. Di desa yang berada di tepian Jalan Poros Mamuju-Majene memiliki 6 titik pengungsian, mereka tersebar di tanah-tanah lapang atau membuka tenda di kebun, bahkan halaman rumah. Cara ini dilakukan karena 80 persen dari jumlah bangunan rumah di Dusun Popangan mengalami kerusakan.

“Kerusakan di sini mulai dari yang ringan hingga berat, mayoritas memang bangunan semi permanen dan penghuninya belum bisa memperbaiki karena faktor ekonomi. Jangankan memperbaiki rumah, untuk makan pun kami bergantung dengan bantuan,” jelas Ahmadi, Kepala Dusun Popanga, Jumat (22/1/2021) dilansir dari ACTNews.

Di Dusun Popangan pada Jumat kemarin, ACT mendistribusikan bantuan pangan hasil sedekah terbaik masyarakat. Bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, dan air mineral dalam kemasan mampu memenuhi kebutuhan pangan para penyintas dalam beberapa hari ke depan. Ahmadi menambahkan, selain pangan, untuk ke depannya, bantuan yang dibutuhkan para penyintas ialah tempat tinggal. Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebagian besar bangunan di Popangan mengalami kerusakan, bahkan tak sedikit yang tak bisa kembali dihuni.

 “Untuk jangka pendek sekarang ini kami membutuhkan tenda, karena masih banyak satu tenda yang dihuni oleh lebih dari satu keluarga, jelas ini kurang baik karena mengingat saat ini juga sedang ada corona. Ke depannya, kami berharap ada yang bisa membantu kami untuk mendirikan rumah,” tambahnya.

Selain di Popangan, sehari sebelumnya tim relawan (MRI-ACT) juga mendistribusikan bantuan kemanusiaan ke Desa Lambuan Rano, Kecamatan Tappalang Barat. Di pengungsian yang ada di area perbukitan ini dihuni oleh warga yang sebelumnya tinggal di tepian pantai. Takut dengan gempa susulan yang bisa memicu tsunami menjadi alasan mereka melarikan diri dan mengungsi dengan kondisi yang serta terbatas dan minim bantuan.

“Selama kami mengungsi, sangat jarang ada bantuan,” ungkap Rahman Je, salah satu penyintas di Desa Labuan Rano