Sulbar Masih Sering Gempa, Ini Penjelasan BMKG

Sulbar, relawan.id– Koordinator Gempa bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, gempa susulan masih terus terjadi di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat.

Meski demikian, kata Daryono, potensi munculnya gempa yang lebih besar dari 6,2 SR tidak terlihat. “Tidak. Insyaallah kalau susulan masih,” kata Daryono lewat akun twitternya, Kamis 4 Februari 2021.

Daryono menggambarkan patahan di daerah daratan yang terus naik. Sementara dasar laut mengalami penurunan.

Fenomena gempa bumi yang terjadi di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan kejadian berulang.

Menghadapi potensi bahaya gempa, kekuatan bangunan sangat penting untuk dievaluasi dan diperkuat sehingga aman bagi para penghuni yang memanfaatkan bangunan yang masih berdiri pascagempa M6,2.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memiliki catatan gempa bumi berulang dengan periode waktu berbeda, bahkan tercatat dua kali tsunami terjadi yang dipicu oleh fenomena gempa.

Koordinator Gempa Numi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan Sulawesi memiliki lebih dari 45 segmen sesar aktif. 

Menurutnya, para ahli kebumian telah mempelajari karakteristik wilayah Sulawesi.

“Terjadinya gempa merusak di Majene bukan hal aneh. Secara tektonik, wilayah pesisir dan lepas pantai Sulawesi Barat terletak di zona jalur lipatan dan sesar atau fold and thrust belt,” ujar Daryono.

Secara khusus, wilayah Majene dan Mamuju pernah terdampak gempa secara berulang dengan periode waktu berbeda. Daryono mengatakan bahwa fenomena gempa di wilayah itu tercatat sejak 1967. Historis gempa merusak dan pernah terjadi tsunami, antara lain gempa Majene M6,3 pada 1967, kemudian 23 Februari 1969 dengan magnitude 6,9. Dua kejadian ini memicu terjadinya tsunami. Total lebih dari 100 warga meninggal dunia pada dua peristiwa tersebut.

Selanjutnya gempa Mamuju M5,8 pada 6 September 1972, gempa Mamuju M6,7 pada 8 Januari 1984, dan kejadian sebelum kejadian kemarin yaitu pada 7 November 2020, Rangkaian gempa ini bersifat merusak.

Lalu, gempa Majene yang terjadi pada dua hari berurutan yaitu 14 Januari 2021 dengan M5,9 dan 15 Januari 2021 dengan M6,2.

Ahli geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Benyamin Sapiie menyampaikan bahwa daerah Majene dan Mamuju merupakan daerah aktif deformasi berupa lipatan anjakan, yang melibatkan batuan dasar dan memperlihatkan keaktifan gempa tinggi.

“Gempa Mamuju yang terjadi juga diakibatkan oleh aktivitas sesar naik pada zona fold-thrust-belt di bawah permukaan yang melibatkan batuan dasar, yang merupakan bagian dari zona FTB Sulawesi Barat,” tambah Sapiie.

Pascagempa M6,2 BMKG mencatat hingga Senin, 1 Februari 2021, telah terjadi 39 kali gempa susulan. “Total jumlah gempa sejak terjadi gempa pembuka tercatat 48 kali dengan gempa dirasakan sebanyak 10 kali,” ujar Daryono.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat membentuk tim lintas instansi pasca gempa bumi.

Gempa bermagnitudo 6,2 telah menghancurkan beberapa fasilitas perkantoran, umum, dan sosial. Khususnya di Mamuju dan Majene.

Sebagai jantung pemerintahan, tentu ini sangat memberi pengaruh besar. Terkhusus dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat.

Mengingat banyaknya bangunan dan jalan mengalami kerusakan, pemerintah berinisiatif untuk menyampaikan usulan kepada Kementerian PU.

“Kita dorong perbaikan Jalan Taan dan Kopeang ke Kementerian PU. Ini harus dimasukkan dalam usulan nanti dan dipaparkan di depan Pak Menteri,“ Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Idris.