MRI-ACT Papua Bantu Para Pengungsi Terdampak Banjir Keerom

Papua, relawan.id – Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Keerom, Papua, Selasa (9/2/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua melaporkan sekitar 4.406 jiwa terdampak banjir di Kabupaten Keerom, Papua. Banjir merendam tiga distrik yaitu Distrik Arso, Arso Barat dan Arso Timur.

Jumlah warga yang terdampak banjir akan terus bertambah, mengingat wilayah yang terendam banjir semakin meluas. Setidaknya saat ini, 1.155 rumah terendam banjir.

“Banjir disebabkan karena hujan intensitas tinggi. Saat ini, warga sedang mengungsi sementara di Gedung Pramuka dan BPBD setempat masih memantau adanya kebutuhan dasar bagi para pengungsi yang ada di Gedung Pramuka,” kata Kapusdatin Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati.

Banjir yang hingga kini menggenang beberapa kawasan di wilayah Keerom direspon oleh Masyarakat Relawan Indonesia (MRI-ACT) Papua dengan menyiapkan makanan untuk para pengungsi.

“MRI-ACT Papua hari ini melaksanakan tanggap darurat bencana banjir di keerom, kegiatan berlangsung di Kabupaten Keerom tepatnya di posko umum gedung Pramuka swakarsa. Antusias dari warga dan relawan lainnya terkhusus relawan MRI-ACT sangat semangat untuk membantu korban yang terdampak banjir, tanggap darurat  ini bekerja sama dengan pihak polres,Tagana dan BNPB,” ujar relawan MRI-ACT Papua, Untung Irianto.

“Agenda yang di lakukan, membantu di dapur umum, pengantaran distribusi di Arso 2 dan membantu kepulangan pengungsi,”tambahnya.

Adapun Bupati Kabupaten Keerom telah menetapkan status tanggap darurat penanganan banjir melalui Surat Keputusan Bupati No : 363/572/BUP/2021 terhitung mulai 3 hingga 16 Februari 2021.

Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas tinggi disertai petir dan hujan kencang masih akan terjadi di Kabupaten Keerom Papua hingga dua hari ke depan. Menurut kajian dari InaRISK, Kabupaten Keerom memiliki potensi risiko banjir sedang hingga tinggi pada tujuh kecamatan dengan 17.456 jiwa terpapar risiko tersebut.

Raditya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, mengingat prakiraan puncak musim penghujan masih berlangsung hingga akhir Februari 2021.

“Berbagai upaya dapat dilakukan, mempersiapkan persediaan air minum, makanan ringan, obat-obatan, dan mematikan arus listrik dalam rumah apabila banjir akan melanda,” pesannya.

“Selalu bangun koordinasi antar warga dalam menginformasikan peringatan dini banjir,” tutupnya.