Penderita Bipolar, Kok Bisa Aktif Jadi Relawan?

Jakarta, relawan.id – Tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia. Hari itu juga digunakan untuk memberikan penyadaran global akan gangguan tersebut, mendorong diskusi yang terbuka, serta kesempatan untuk membangun kepekaan terhadap orang-orang yang didiagnosis sebagai bipolar.

Mungkin belum banyak yang mengetahui tentang apa itu gangguan bipolar, gejalanya, dan bagaimana bipolar bisa berpengaruh pada kehidupan seseorang. Di hari bipolar sedunia, perkenankan saya untuk berbagi sedikit cerita perjalanan sebagai pengidap bipolar disorders.

Tak terasa, sudah hampir 2 tahun harus rutin konsultasi psikiater di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Jakarta Timur. Mulai dari konsultasi 2 minggu sekali sampai sekarang berubah menjadi 1 bulan sekali. Belum lagi ditambah harus mengkonsumsi beberapa obat agar mood dapat terjaga stabil dan juga tidur lebih nyenyak.

Berawal dari stres berat, mood yang sering berubah drastis, tidak bersemangat untuk beraktivitas, butuh waktu lama untuk mengembalikan mood, dan hal lainnya.

Banyak orang yang mungkin tidak percaya, karena terlihat semuanya baik-baik aja. Selalu fun walaupun raut wajah jutek abis. Lantas, dengan keadaan kayak gitu, kok bisa ikut terlibat dan aktif di dunia relawan?

Ini semua berawal saat sekitar 8 tahun lalu, rasa ingin mengakhiri hidup muncul. Keadaan keluarga hancur, tak ada tempat untuk berlindung, dan tak ada rumah untuk pulang. Hingga pada saatnya, entah bisikan dari mana “Banyak orang yang telah meninggal memohon ke Allah untuk dibangkitkan agar dapat bersujud lagi kepada-Nya. Lantas, kenapa kita yang masih diberikan kesempatan hidup menyia-nyiakan hal tersebut?” Seketika saya gagal, mengurungkan niat untuk mengakhiri hidup dan mencoba mendekatkan diri kepada yang kuasa. Terbesit dalam pikiran, “Saya masih bisa berguna untuk orang lain”

Lambat laun, hidup berjalan normal walaupun tentu banyak rintangan yang harus dilalui. Memasuki jenjang sekolah menengah atas, saya dihadapkan pada kondisi yang kurang nyaman. Saya merasa tidak dapat berkembang seperti yang diharapkan. Lantas, apakah saya diam menerima keadaan? Tentu tidak, ada dua pilihannya, saya ingin maju atau diam di tempat.

Saya memilih maju, dengan cara mencoba mengikuti salah satu komunitas berbasis pendidikan (karena suka dengan dunia anak). Bersyukur, teman-teman sangat mendukung diri saya untuk berkembang. Secara langsung pun, saya berinteraksi dengan anak-anak yang membuat saya sujud syukur, membuat hati lebih terisi dan hidup. Benar kata orang, mengikuti kegiatan kerelawanan atau berbagi kepada orang dapat memunculkan perasaan senang sehingga kesehatan mental pun jauh lebih membaik.

Back to story, sorry sampai keasikan cerita. Untuk teman-teman yang saat ini merasa sedang tidak baik-baik saja dan butuh tindakan. Usahakan secepat mungkin dapat tindakan, jangan cepat mendiagnosa diri bukan dari ahlinya. Dokter pun akan membantu kita memberi solusi sebaik mungkin, perasaan kita pun akan jauh lebih tenang.

Kalau kamu juga mendengar seseorang berkata ingin mengakhiri hidupnya, dekati, dengarkan ceritanya. Terkadang seseorang hanya butuh didengar, bukan langsung diberi nasihat.