Ramadhan Care Line ACT, Bantu Warga yang Membutuhkan

Jakarta, relawan.id – Berbekal telepon genggam, Mulyono mendapatkan bantuan pangan berupa beras dari Aksi Cepat Tanggap (ACT). Beras langsung diantarkan Relawan Humanity Bikers ke rumah Mulyono di Kecamatan Kembangan Jakarta Barat, Kamis (22/4/2021). Mulyono tidak menyangka, percakapan dengan temannya tentang Ramadhan Care Line ACT beberapa hari lalu benar-benar membuatnya menerima secara langsung bantuan pangan.

Bantuan pangan ini bisa didapatkan dengan menghubungi Ramadhan Care Line ACT di 0800-1-165-228 tanpa beban pulsa dengan tujuan agar tidak ada warga di daerah Jabodetabek yang kekurangan pangan di bulan Ramadhan. Empat hari lalu, Mulyono ingin mencoba apakah ia bisa mendapatkan pangan ACT.

“Diberitahu teman, kalau nanti bisa dibawakan beras dengan telepon nomor ACT. Lalu saya telepon. Yang menerima telepon, bertanya alamat dan data diri saya, ternyata betul dibawakan beras hari ini,” ujar Mulyono saat ditemui di kediamannya.

Kehadiran bantuan pangan ini membuat Mulyono bisa memenuhi kebutuhan beras selama beberapa hari. Ia pun bisa menghemat pengeluaran rumah tangga. 

Mulyono adalah seorang penjual batagor. Sehari keuntungannya Rp50 ribu. Jumlah uang ini masih terasa sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan keluarganya dan biaya pendidikan kedua anaknya. Rumah sederhana yang ia huni di Jalan Joglo Raya juga butuh perbaikan.

“Saat pandemi dan memasuki Ramadan ini pemasukan menurun drastis. Kalau hari biasa, jualan dari pagi. Namun, Ramadan ini, saya jualan sore hari menjelang buka puasa,” tambah Mulyono.

Selain Mulyono, warga jalan Al Hikmah 85, RT 7 RW 13, Kelurahan Kalideres, Kecamatan Kalideres Jakarta Barat, Warningsih juga mendapatkan pangan dari ACT karena berinisiatif menelpon Ramadhan Care Line beberapa waktu lalu. Warningsih mendapatkan info yang disebar di grup whatsapp dengan harapan bisa mendapatkan bantuan beras untuk dikonsumsi sehari-hari.

“Alhamdulillah sangat senang dan terbantu dapat beras dari ACT,” ujar Warningsih saat ditemui di kediamannya.

Selama ini, Warningsih berjualan jajanan anak-anak di sekolah, terkadang ia sukarela menjajakan jualan orang lain seperti baju dan rempeyek. Ia mendapatkan bayaran dari hasil jualan tersebut.

Hidup semakin sulit bagi Warningsih karena ia tak sanggup lagi membayar kontrakan. Bersama anak bungsunya, Ia tinggal di kontrakan berukuran 5×5 meter dengan fasilitas dan perlengkapan seadanya. Sesekali Warningsih menyeka air mata menceritakan kesulitan hidup yang ia jalani, namun tetap semangat menjalani hidup. Di tengah kekurangan yang dialami, pangan dari ACT sangat ia syukuri dan menjadi tanda bahwa masih banyak yang peduli dengan kondisinya yang sulit.