Relawan MRI-ACT Jakbar, Mengabdi untuk Pendidikan

Jakarta, relawan.id – Sabrina Gaisani (26) adalah seorang guru Taman Kanak-kanak di Raudhatul Athfal Al Hidayah, Cengkaren, Jakarta Barat. Kecintaan pada dunia pendidikan dan anak-anak membuat Sabria menjalankan profesi guru selama enam tahun.

Meski pendapatannya tidak seberapa, kalimat-kalimat keluhan tidak pernah keluar dari bibirnya. TK di tempat Sabrina memang bukan TK yang besar dan ternama, pendapatan para pengajarnya tergantung juga dari pendapatan para orang tua anak-anak yang belajar di sana.

Menurut Sabrina, sebelum pandemi Covid-19 gaji yang ia terima biasa mencapai Rp800 ribu per bulan. Namun, karena pandemi Covid-19, banyak orang tua yang tidak mampu membayar biaya pendidikan anaknya di TK tempat Sabrina bekerja, alhasil gajinya pun dipangkas jadi Rp500 ribu per bulan.

“Dengan gaji yang dipotong itu sebenarnya agak kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan. Mau bagaimana lagi, namanya juga pandemi, jadi dicukup-cukupi saja. Sebenarnya juga walaupun dipotong, saya masih bersyukur karena masih ada pemasukan, banyak saudara kita yang kurang beruntung sehingga kena PHK saat pandemi,” jelas Sabrina, Jumat (23/4/2021).

Meski pendapatannya pas-pasan, semangat Sabrina tidak pernah surut untuk membagikan ilmu yang ia miliki kepada anak-anak. Tidak hanya anak-anak di TK tempat dia resmi mengajar, tetapi juga anak-anak dari kalangan masyarakat prasejahtera yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal.

“Saya percaya bahwa pendidikan adalah hak untuk semua anak, termasuk mereka yang kesulitan ekonomi dan tidak mampu membayar biaya sekolah,” ucapnya.

Sabrina juga bergabung menjadi relawan di Masyarakat Relawan Indonesia  pada awal 2021 sebagai tenaga pendidik. Lewat program Rumah Belajar Ceria yang digaungkan MRI-ACT, Sabrina bisa mengajar berbagai materi pelajaran untuk anak-anak yang putus sekolah.

Sabrina menuturkan, biasanya kelas diisi dengan sekitar 40 anak dengan berbagai rentan usia. “Kalau yang usianya sekitar 6 hingga 12 atau 13 tahun itu biasanya kami ajarkan baca tulis. Banyak ana-anak yang belum bisa membaca dan menulis, lalu kalau nanti sudah ada yang bisa baca tulis ada pelajaran bahasa Inggris, matematika, dan lain-lain. Sementara yang usianya 12 tahun ke atas, atau yang setara SMP, kita ajarkan juga multimedia,” jelas Sabrina.

Selain sebagai tenaga pendidik, Sabrina juga turut andil dalam kegiatan MRI-ACT lainnya. Seperti operasi bantuan pangan untuk masyarakat prasejahtera, hingga kegiatan terapi psikososial untuk masyarakat yang tertimpa bencana. “Kita motivasi mereka, termasuk anak-anak agar tidak mengalami trauma dengan bencana yang menimpa mereka,” tutur Sabrina.