Pengungsi Rohingya Rayakan Idulfitri di Pulau Terisolasi

Dhaka, relawan.id – Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa itu menggambarkan kondisi  sejumlah pengungsi Rohingya di Banglasdesh. Hidup para pengungsi yang sulit, sejatinya telah mereka lalui bersama-sama di sejumlah kamp pengungsian di Cox’s Bazar. Jalinan keakraban sesama pengungsi pun semakin kuat bak saudara. Namun, keakraban mereka terpaksa dipisahkan setelah sebagian besar pengungsi di Cox’s Bazar dipindahkan ke Bhasan Char.

Bhasan Char sendiri, merupakan suatu pulau kecil yang jaraknya sekitar 63 kilometer dari daratan, dan berada di wilayah Dhaka, Bangladesh. Dilansir laman Arabnews, sejumlah pengungsi yang dipindahkan ke Pulau Bhasan Char mengaku merasa kesepian merayakan Idulfitri kali ini, karena telah terpisah oleh teman-temannya di Cox’s Bazar yang telah akrab selama bertahun-tahun. 

“Kami merayakan Idulfitri yang berbeda tahun ini, jauh dari teman dan kerabat. Biasanya kami berkumpul dengan kerabat. Pada kesempatan istimewa ini, saya tidak melihat ada teman dan kerabat di sekitar saya. Terkadang saya merasa terisolasi,” ujar salah satu pengungsi, Abdurrahman, Sabtu (15/5/2021).

Sementara pengungsi lainnya, Morium Begum (29), mengatakan bahwa anak-anaknya tidak terlalu bersemangat pada Idulfitri kali ini, karena semya temannya berada di Cox’s Bazar. “Anak-anak saya biasa mengunjungi rumah teman mereka dan merayakan Idulfitri pada hari-hari ini di Cox’s Bazar. Tapi di sini mereka tidak punya teman,” pungkas Begum.

Bangladesh diketahui memulai relokasi sekitar 18 ribu pengungsi ke Bhasan Char, pada akhir 2020 lalu. Hal itu dilakukan dengan tujuan mengurangi jumlah pengungsi di kamp-kamp di Cox’s Bazar yang dianggap sudah sangat padat.

Meskipun sebagian pengungsi telah direlokasi, nyatanya keadaan para pengungsi Rohingya di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh masih jauh dari kata sejahtera. Berdasarkan data yang dihimpun Global Humanity Response (GHR) ACT, masih banyak masalah kemanusiaan yang menyelimuti mereka.

“Kerawanan pangan salah satunya, terdapat ratusan ribu kasus kerawanan pangan darurat yang menimpa para pengungsi Rohingya di sana. Hal tersebut pun menjadi salah satu faktor penyebab kenapa banyak anak yang tubuhnya kecil dan kurus,” ujar Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT.

Firdaus pun mengajak agar seluruh masyarakat dapat turut memberikan bantuan terbaiknya untuk saudara muslim Rohingya di Bangladesh, agar berbagai masalah yang membelenggu di hidup mereka setidaknya dapat berkurang. “Bantuan kalian sangat penting, karena mereka saat ini hanya dapat mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk hidup sehari-hari,” jelas Firdaus