Israel dan Palestina Gencatan Senjata, KKIPP: Ini Momentum untuk Pemulihan Warga Gaza

Jakarta, relawan.id – Hari yang lebih tenang akhirnya bisa dinikmati warga Gaza, setelah zionis Israel menyepakati gencatan senjata pada Jumat (21/5/2021) dini hari. Bombardir zionis Israel pun terhenti. Suara ledakan berganti kumandang takbir dari warga Gaza.

Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina (KKIPP) menyambut baik momentum ini. Menurut Anggota Dewan Pembina KKIPP Ibnu Khajar, KKIPP akan memanfaatkan momentum ini untuk melakukan pemulihan ke warga Gaza.

“Semoga ini menjadi kabar baik. Kami akan membantu warga Palestina lebih baik lagi dalam pemulihan ke depannya,” ujar Ibnu, Jumat (21/5/2021).

Sebelum gencatan senjata disepakati, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut, jumlah warga Palestina yang dinyatakan syuhada akibat gempuran Israel telah  mencapai 232 orang. Termasuk 61 anak-anak dan 36 wanita. Serta menyebabkan lebih dari 1.500 warga Palestina lainnya terluka.

“Kerugian materi juga cukup besar, yakni diperkirakan mencapai hingga Rp4,6 triliun. Bisa dibayangkan seberapa besarnya sehingga pasti juga tidak akan mudah proses pemulihan ini,” pungkas Ibnu.

Selain fisik, serangan Gaza disebut Ibnu juga berdampak pada mental warga Gaza. Berdasarkan data yang dihimpun KKIPP, ada sekitar 30 ribu lebih warga Gaza yang mengalami tekanan psikis hebat imbas bombardir Israel ini.

Selain itu, KKIPP juga mengimbau agar tidak terbuai dalam gencatan senjata ini. “Jadi kami berpesan untuk para pejuang Palestina agar tetap siaga 24 jam untuk memastikan bahwa gencatan senjata ini betul-betul berjalan dengan baik. Kita tidak pernah tahu berapa lama pihak Israel akan mematuhi kesepakatan ini, karena sebelumnya, Israel selalu melanggar tiap komitmen yang mereka buat,” imbau Ibnu.

KKIPP juga meminta lembaga atau organisasi lainnya yang melakukan aksi bela Palestina, untuk bersama-sama memasifkan program-program pemulihan. “Mari kita masifkan bantuan pangan, medis, dan bantuan lainnya untuk recovery warga Palestina. Kita harap tiap rumah, tiap masjid, tiap sekolah, hingga rumah sakit, bisa menjadi lokasi distribusi logistik,” ajak Ibnu.