Antara Keluarga dan Organisasi

Penulis : Rizki Maulizar Yusuf 

Aceh, relawan.id – Keluarga adalah salah satu tempat di mana kita pulang, pulang saat membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah. Juga pulang untuk melepas rindu dan mendapat kasih sayang dari kedua orang tua kita. Terkadang, meski sekadar senyuman dari orangtua kita, senyumnya itu memiliki makna.

Senyumnya orangtua, mampu menjadi obat dan pelepas penat saat kita merasa lelah dengan aktivitas yang dijalani, seperti bekerja ataupun kegiatan yang lainnya, semua itu teratasi dengan adanya canda tawa serta senyum ramah dari mereka (keluarga). Sehingga rumah seakan menjadi surga ketika kita mampu dan bisa mendapatkan ketenangan dan kedamaian hati.

Selain soal pekerjaan, kadang keluarga sering kita tinggal pergi hingga berhari-hari. Namun, kepergian kita karena mempunyai tugas dan amanah lain, misalnya aktif di sebuah organisasi. Saat kita aktif di organisasi, banyak sebagian waktu tersita untuk rapat dan memikirikan umat. Tiada upah yang didapat, tapi malah kita merogoh kocek uang pribadi demi berjalannya organisasi. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa bagi seorang aktivis.

Tak peduli apapun profesinya, meskipun hanya bergaji ratusan ribu, tetapi masih menyisakan sedikit untuk memberikan sumbangsih. Tetapi dari kesemuanya, waktu adalah yang paling berharga. Karena pastinya, banyak pekerjaan di dalam rumah yang sebenarnya menanti ketika libur  di luar rumah, tapi semua tersita untuk kegiatan ataupun agenda di organisasi. Apakah keluarga menjadi korban? Atau inikah sebuah pengorbanan untuk keluarga? 

Dalam keluarga, pasti setiap kepala di semua anggota keluarga mempunyai pemikiran masing-masing, itu pun lumrah dan manusiawi. Namun ketika kita memilih masuk ke sebuah organisasi, kita harus mengikuti aturan di dalamnya. Sehingga, setiap agenda dan kegiatan organisasi, kita harus hadir dan pasti terlibat di dalamnya. Berawal dari pertanyaan seorang teman. “Kamu seharian ngga pulang, apa ngga di cari sama orangtuamu ataupun saudara dekatmu” sontak pertanyaan yang membuat saya harus berpikir untuk mencari jawabannya. 

Namun, saya sangat beruntung, karena mempunyai keluarga yang mengerti keadaan keadaan saya. Padahal, pasti dia orangtua saya begitu cemas terhadap saya ketika saya aktif di salah satu organisasi, tetapi terkadang hal yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga akhirnya keluarga yang ditinggalkan. Apakah keluarga menjadi korban? Sejatinya tidak, dalam konteks Ber-Muhammadiyah, kita mungkin sudah tak asing dengan kalimat yang disampaikan oleh Jenderal Sudirman, “Sungguh berat jadi kader Muhammadiyah, ragu dan bimbang lebih baik pulang!” dengan kata-kata ini saya selalu termotivasi untuk aktif di organisasi.

Memang berat di satu sisi lain kita mempunyai amanah dalam berorganisasi yang seakan keduanya tak bisa jika disuruh memilih salah satu di antaranya. Tetapi, ketika kita dalam Ber-Muhammadiyah dengan hati ikhlas, maka akan merasakan rasa yang gembira. Tanpa beban dan tanpa tekanan. 

Memang tanggung jawab kepada keluarga, kita tanggung hingga di akhirat kelak, begitu pula dalam menjalankan amanah organisasi. Tapi beruntunglah kiranya ketika kita memiliki keluarga yang juga aktif dan berkecimpung di dunia yang sama, sehingga mengerti dan memahami posisi dan keadaan seorang yang seperti kita aktif di organisasi, dan yang beruntung salah satunya adalah saya. Karena saya selalu mendengar bapak saya, dengan penuh pengalaman beliau saat di perkuliahan. Sehingga saya termotivasi untuk kembali aktif di organisasi.

Kalau kata ayah saya “jadilah orang yang bisa membawakan perubahan untuk masa depan bangsa ini” maka dengan ini saya jadikan sebuah motivasi untuk mengikuti organisasi, dengan Ber-Muhammadiyah. Karena dalam Muhammadiyah, kita sering diberikan bekal bagaimana cara merawat keluarga dan mengatasi permasalahan yang ada. Apalagi keluarga kita sangat mendukung anaknya untuk aktif dia dunia nyata, bisa mengenal lebih jauh lagi untuk masa depan anaknya

Emang Menjadi kader atau anggota, ataupun pimpinan dalam suatu persyarikatan, haruslah kita imbangi dalam peran kita sebagai bagian dari keluarga, khususnya diri kita sendiri. Hadirnya kita dalam berorganisasi agar menjadi suatu hal yang bermanfaat dan memberi manfaat bagi diri kita, serta keluarga kita di suatu saat. 

Kewajiban kita kepada keluarga jangan sampai kita mengabaikan demi organisasi, jangan sampai menjadikan keluarga kita merasa kehilangan sosok dan posisi kita sebagai bagian dari mereka, sebagai anak. Sehingga, keluarga tidak merasa keikutsertaan, keaktifan kita dalam organisasi menjadi suatu masalah bagi mereka, entah karena waktu yang kurang, atau yang lainnya. 

Maka, beruntunglah ketika ayah atau ibu kita mampu memahami keadaan posisi kita serta beruntung pula ketika anaknya mengerti tanggungjawab dalam berorganisasi. Semoga, dalam kita berjuang melalui organisasi menjadi amal kebaikan bagi kita dan mengalir pula kebaikan itu kepada keluarga kita. Serta, semoga kita kehadiran kita dalam organisasi memberikan manfaat bagi keberlangsungan organisasi, bukan malah menjadi permasalahan dalam berorganisasi.