Kisah Nabi Ismail: Asal Mula Air Zam-Zam Hingga Anjuran Berkurban

Jakarta, relawan.id – Nabi Ismail merupakan putera dari Nabi Ibrahim AS dengan Hajar. Nabi Ismail diangkat menjadi nabi pada tahun 1850 sebelum masehi dan beliau tinggal di Amaliq dan berdakwah di Qabilah Yaman, Mekkah.

Dari kisah Nabi Ibrahim, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya tentang bagaimana ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah hingga akhirnya mendapatkan mukjizat. Selain itu, dari kisah ini, kita juga bisa tahu bagaimana asal mula terciptanya mata air zamzam dan hari raya Idul Adha.

Setelah Lahir, Nabi Ismail dan Hajar Ditinggalkan oleh Ibrahim 

Manakala Ibrahim belum kunjung dikaruniai anak dari istrinya Sarah, maka Sarah memberikan hamba sahayanya kepa Nabi Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan bahawa darinya Allah SWT akan memberikan seorang anak. Dari pernikahan tersebut Hajar pun berikan seorang anak yang dinamakan Ismail di bumi, Palestina.

HR Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a , Rasulullah menceritakan tentanng kisah Hajar: apa yang terjadi antara Hajar dengan Sarah dan bagaimana Allah memerintakah Ibrahim agar pindah bersama Hajar dan Ismail ke belahan bumi mulia yang sekarang disebat Makkah.

Rasulullah menjelaskan kondisi tempat dimana Hajar dan putranya, Ismail, berdiam. Beliau menjelaskan bahwa nabi Ibrahim meninggalkan keduanya di tempat yang sepi, tanpa makanan, minuman dan penduduk. Rasulullah juga menjelaskan pada saat itu Makkah  tidak berpenghuni seorang pun, dan tidak ada air. Lalu Nabi Ibrahim meninggalkan kedua dengan meletakkan sebuah kantong berisi kurma dan kantong kulit berisi air.

Ibrahim terus berjalan hingga sampai di sebuah bukti dimana Hajar dan Nabi Ismail tidak melihatnya, dan Nabi Ibrahim berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan:

Artinya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim Ayat 37).

Asal Mula Air Zamzam

Sepeninggal Ibrahim, Hajar dan Ismail bertahan hidup dengan perbekalan yang ditinggalkan Ibrahim. Sayangnya, bekal itu hanya cukup untuk beberapa hari. Setelah itu, ujian pun datang. Ismail terus menangis karena tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup dari air susu ibunya. 

Hajar panik. Ia kemudian berlari kesana-kemari di tengah gurun di mana saat itu Makkah belum berpenghuni. Upaya Hajar untuk mencari makanan atau air tidak berbuah hasil. Ia justru mendapati batu dan pasir. Tanpa sadar, Hajar sudah tujuh kali mondar-mundir berlari di antara bukit Shafa dan Marwah. Saking lelahnya, ia hanya  bisa duduk termenung.

Dalam keadaan Hajar hampir putus asa, Allah memberikan pertolongan dengan mengutus Malaikat Jibril yang kemudian mengajak Hajar ke kawasan Masjidil Haram. Di tempat itu, Jibril menginjakkan telapak kakinya ke tanah yang kemudian terpancurlah air yang sangat jernih. Inilah mata air zamzam yang hingga kini airnya tidak pernah habis dan jadi salah satu buah tangan yang wajib dibawa pulang oleh para jamaah haji. 

Perintah Menyembelih Nabi Ismail

Pada suatu malam, nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya dimana ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya yaitu Ismail oleh Allah SWT. Mimpi itu membuat hati nabi Ibrahim bergejolak, dan akhirnya nabi Ibrahim pergi untuk menemui anaknya Nabi Ismail. Seperti pada surat As-saffat ayat 102 :

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Kemudian, setelah memberingkan Nabi Ismail untuk disembelih, Allah SWT menghentikannya dan memberikan mukjizat dengan mengganti Ismail dengan hewan besar. Sebagaimana yang tertulis dalam surat As-saffat ayat 107 :

Artinya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Peristiwa tersebut kemudian diperingati sebagai hari raya oleh kaum muslim, yaitu hari raya Idul Adha. Sebagaimana yang telah dianjurkan pada hari raya tersebut untuk melakukan ibadah berkurban.