GeNose Tak Berlaku Lagi Buat Syarat Perjalanan

Oleh: Muhammad Rajif Alfikri

Pandemi Covid-19 tampaknya akan segera berakhir, jika kita melihat kehidupan warga New Zealand dan Tiongkok yang sudah bisa nonton konser ramai-ramai.

Namun berbeda di Indonesia yang baru memulai tahap vaksinisasi dan memberlakukan kembali sistem lockdown / PPKM Jawa-Bali di berbagai wilayah. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan Pandemi yang berlangsung hampir 2 tahun.

Pada tanggal 25 September 2020, Kuwat Triyana dosen sekaligus peneliti di Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan alat deteksi Covid-19 yang bernama “GeNose”. Kehadirannya menjadi harapan baru bagi masyarakat Indonesia untuk mendeteksi Covid-19, sehingga bisa memutus rantai penyebaran Covid-19.

GeNose adalah alat deteksi corona virus yang diciptakan oleh Peneliti dan Dosen Universitas Gadjah Mada Kuwat Triyana. Berbeda dengan Swab Test GeNose menggunakan sistem gas pernafasan untuk mendeteksi adanya Virus Covid-19 atau tidak, alat ini pertama kali direkomendasikan pemerintah pada momen sebelum Hari raya Idulfitri 1442 Hijiriyah untuk persyaratan melakukan perjalanan darat, laut dan udara.

Namun baru-baru ini Satgas Covid-19 melakukan evaluasi terhadap GeNose dengan tidak menjadikannya syarat berpergian, padahal sebelumnya hasil test menunjukan GeNose terbukti cukup efektif dalam mendeteksi Covid-19. Dari uji diagnostik ini tim peneliti menyusun prosedur operasi standar penggunaan GeNose C19. Dari tahap ini, tim memperoleh data mengenai kinerja metode GeNose C19: sensitivitas mencapai 89%-92%, spesifisitas 95%-96% dan akurasi 93%-94%.

Alasan GeNose tidak menjadi persyaratan Berpergian lagi

Alasan GeNose tidak digunakan lagi menjadi syarat perpergian menurut Koordinator Tim Pakar yang juga Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan bahwa akan ada monitoring dan evaluasi kinerja, jadi keputusan GeNose masih dipakai atau tidak belum resmi disahkan.

Sejumlah Ahli mengatakan sebaiknya memang GeNose dihentikan penggunaannya, Utomo (Ahli biologi molekuler Ahmad Utomo) mengatakan, penghentian itu dilakukan untuk menunggu hasil validasi eksternal dari kampus merdeka. Validasi eksternal sebelumnya direncanakan secara independen oleh tim peneliti dari institusi non-UGM dan berlangsung hingga April 2021.

GeNose juga belakangan ini dipertanyakan kembali keabsahannya sebagai pendeteksi Covid-19 karena ditemukan Hasil Swab Test dan Hasil GeNose mengalami perbedaaan.

GeNose Mulai Ditinggalkan

Diawal kemunculannya yang heboh dan cenderung overhype, GeNose menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan apalagi dengan dukungan Pemerintah yang mensyaratkan GeNose untuk dipakai.

Dengan pemakaian yang sangat mudah dan murah GeNose menjadi alternatif untuk yang tidak mau mengeluarkan biaya lebih untuk Swab Test, namun dengan melihat temuan belakangan ini membuktikan GeNose pada dasarnya masih setengah matang.

Namun dengan mengabaikan keefektifannya sekalipun, GeNose memang sebaiknya tidak dipakai. Karena alat ini menjadikan masyarakat untuk menyepelekan keselamatan berpergian dengan alat yang mudah dan murah, padahal program vaksinasi telah digalakan.

Dengan mengganti GeNose dengan syarat sudah divaksinasi selain mendukung program vaksin, masyarakat juga lebih aware terhadap keefektifan alat deteksi Covid-19, selain itu masyarakat juga terdidik untuk mengutamakan keselamatan diri dan orang banyak ketimbang mengirit uang untuk hasil yang belum pasti.