Cerita Mia: Menemukan Kebahagiaan dengan Menjadi Relawan

Jakarta, relawan.id – Tidak pernah kekurangan. Menjadi sikap yang Helmia (41) rasakan selama mengabdi sebagai relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Barat. Ia mengaku, semakin banyak ia memberi, semakin mudah jalan hidup yang ia terima.

Mia, sapaannya, tidak menyangka jika suatu hari bertemu dengan MRI. Saat ini ia aktif menjadi pengajar sukarela di Rumah Belajar Ceria, sebuah layanan pendidikan non-formal untuk keluarga prasejahtera di sisi ibu kota yang digagas MRI Jakarta Barat.

Ibu dua anak itu sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta. Ia adalah orang tua tunggal sejak beberapa tahun lalu. “Saya menemukan kebahagian dengan menjadi relawan, jadi yang selama ini saya cari, saya dapatkan di sini (menjadi relawan),” ujar Mia.

Menurut Mia, menjadi relawan membawa keberkahan. Beberapa hal yang ia temui dalam hidup berjalan lebih mudah, contohnya saat ia harus menyekolahkan anaknya ke salah satu pesantren.

“Alhamdulillah selama ini saya juga khawatir dalam membayar sekolah anak saya, enggak tahu, namun setiap saya mau bayar, ada aja uangnya. Prinsipnya, setiap saya menolong orang nanti Allah yang akan menolong saya,” lanjutnya. Ia pun berharap dapat mendukung cita-cita sang anak yang ingin bersekolah di Madinah.

Selain Mia, ada juga Nur Jannah, relawan pengajar yang sehari-hari juga menjadi penjahit. “Saya dulu memang punya pengalaman mengajar di TK, tetapi sekarang sudah selesai, jadi sembari menjahit, saya menjadi relawan,” kata guru pengajar baca dan tulis ini. Nur hadir sebagai pengajar sejak RBC berdiri.

Bukan sekadar mengajar di Rumah Belajar Ceria MRI Jakarta Barat, Nur bahkan aktif mendatangi salah satu anak berkebutuhan khusus ke rumah untuk mengajar. Nur mengaku, ketertarikan dalam mengajar hadir dalam hati. Ia amat senang bisa menjadi pengajar bagi anak-anak yang juga kesulitan mengakses pendidikan.

Memang tidak mudah awalnya, pendirian RBC pun mengalami tantangan. Para orang tua calon siswa sempat melakukan penolakan. Kala itu, mereka lebih memilih anak-anak melanjutkan memulung dibanding harus sekolah.

Anita, warga Kapuk sekaligus salah satu orang tua siswa Rumah Belajar Ceria, mengaku,  kehadiran Rumah Belajar Ceria amat membantu anak-anak di Kampung Pemulung, Cengkareng. “Alhamdulillah, anak-anak kami enggak perlu les. Pasti ada lagi biaya kalau les. Saya kagum dengan para relawan, mereka kan enggak dibayar ya, tetapi mau berbagi dengan kami, mengajar. Mereka juga punya keluarga. Semoga relawan MRI-ACT selalu mendapat kebaikan,” kata Anita.