Cara Mengatasi Kesalahan dalam Berfikir Selama Pandemi Covid-19

Jakarta, relawan.id – Masyarakat diminta terus meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat protokol kesehatan (prokes). Makin hari, kasus Covid-19 makin meroket. Selain karena masih banyaknya masyarakat yang kurang mematuhi penerapan prokes, Hal itu juga, dikarenakan varian baru virus Covid-19 yang diketahui memiliki kemampuan penularan yang lebih tinggi, oleh karena kita harus disiplin menerapkan prokes untuk mencegah penularan.

Selain itu, dalam melawan musuh tak kasat mata ini, kita harus mengenali bias kognitif kita. Bias kognitif adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memberikan penilaian.

Pandemi Covid-19 telah mengekpos berbagai bentuk kesalahan dalam berfikir (bias kognitif). Bias kognitif seringkali mendorong kita untuk bertindak secara irasional seperti menimbun masker atau yang baru-baru ini adalah susu kaleng. Saat kita dalam kondisi tersebut kita bisa melakukan hal-hal yang tidak logis, seperti kasus di India yang menggunakan kotoran sapi untuk mencegah terinfeksi Covid-19.

Namun, tahukah Anda bahwa sebagian besar dari kita rentan terhadap beberapa bentuk bias kognitif? Terdapat tiga bias kognitif yang kita saksikan selama pandemi Covid-19:

1. Action Bias (Bias tindakan)

Orang-orang seringkali percaya bahwa suatu tindakan tertentu dapat menyelesaikan masalah saat pandemi Covid-19. Ketika pemimpin menyampaikan pidato dengan tujuan mengurangi ketakutan publik terhadap “kekurangan pasokan makanan”, sebagian dari mereka justru mulai melakukan panic buying.

Meski mereka diberi kepastian bahwa suplai makanan cukup dan stabil, masyarakat mulai menimbun berbagai persediaan makanan. Tak hanya makanan, baru-baru ini masyarakat mendapatkan informasi bahwa susu kaleng bisa mencegah dan menyembuhkan Covid-19, sehingga informasi itu menyebabkan masyarakat bebondong-bondong menyerbu susu kaleng.

Kita seringkali berpikir bahwa dengan melakukan tindakan seperti menimbun persediaan rumah tangga, kita dapat mengurangi risiko yang tidak diketahui terkait Covid-19. Akan tetapi, dengan berkerumun di pasar swalayan, kita malah mungkin menghadapi risiko infeksi yang lebih tinggi.

2.Efek takut ketinggalan (fear of missing out (FOMO)) dan efek ikut-ikutan (bandwagon effect)

Selain itu, gambar yang memperlihatkan antrean panjang dan rak-rak yang kosong dapat menyebabkan rasa takut ketinggalan yang tidak diperlukan. Hal ini dapat menyebabkan efek ikut-ikutan atau bandwagon effect, yaitu kecenderungan untuk secara membabi buta mengikuti tindakan orang lain.

Jika kita merasa orang lain melakukan tindakan tertentu, kita cenderung untuk melakukannya juga, terutama saat sedang krisis seperti saat pandemi.

3. Bias konfirmasi

Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung keyakinan kita.

Kita membentuk keyakinan terhadap berbagai aspek terkait Covid-19 sebelum kita memperoleh bukti tentang kebenarannya. Selanjutnya kita mencari-cari informasi yang relevan untuk memvalidasi keyakinan tersebut. Kita harus memastikan bahwa kita menginterpretasi data secara akurat. Interpretasi data yang kita lakukan tidak boleh dipengaruhi oleh hal-hal yang kita pilih untuk percaya.

Strategi untuk berpikir jernih selama pandemi Covid-19

1. Menerapkan cara berpikir perlahan

Berpikir secara perlahan akan membantu kita mengambil keputusan secara sadar, walaupun cara berpikir ini akan membutuhkan lebih banyak energi mental. Sistem berpikir ini aktif ketika kita dihadapi dengan keputusan yang besar seperti membeli rumah atau memilih pasangan hidup.

Kita dapat menerapkan cara berpikir yang lambat jika kita berhenti sejenak dan menulis alasan-alasan yang berlawanan dan yang mendukung keputusan yang akan kita buat. Pemikiran yang berhati-hati ini memberikan kita kesempatan untuk mempertimbangkan suatu masalah secara saksama, serta memikirkan implikasi jangka panjangnya.

Di sisi lain, kita menerapkan cara berpikir dengan cepat ketika kita memutuskan kamar mandi mana yang sesuai dengan jenis kelamin kita. Berpikir dengan cepat ini terkait dengan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan kita. Kita berhenti dan menunggu ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Kita melanjutkan perjalanan ketika lampu berwarna hijau. Kita mengulurkan tangan kanan (bukan tangan kiri) ketika berjabat tangan.

Meski kita mungkin tergoda untuk menggunakan cara berpikir cepat (heuristik) untuk mengambil berbagai keputusan, hal ini dapat membuat kita lebih rentan terhadap bias kognitif. Kita seharusnya tidak bergantung pada opini kita sendiri untuk membuat suatu keputusan, melainkan harus mendasarkan keputusan itu berdasarkan data.

2. Mengevaluasi Sumber Informasi

Ketika menyimpulkan kredibilitas suatu berita yang sensasional, kita harus mengetahui waktu, relevansi, sumber, ketepatan, dan tujuan dari berita tersebut atau yang dikenal dengan singkatan (CRAAP).

Kriteria ini memberikan panduan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi jika suatu artikel tentang Covid-19 bisa dipercaya.

Pikirkan: waktu yang Anda pilih untuk membaca suatu artikel (currency), tanggal publikasi (relevance), dan maksud penulis (authority). Anda juga harus melihat sumber-sumber lain untuk memverifikasi klaim yang ditulis dalam artikel tersebut (accuracy and purpose).

Selain itu, Anda dapat mencatat riwayat pelatihan yang dimiliki penulis. Apakah penulis terlatih dalam topik yang diminati? Apakah penulis memiliki kualifikasi yang cocok?

Ketika mengevaluasi karya-karya ilmiah, data mentah dan metodologi yang digunakan harus dianalisis. Infografis yang disajikan mungkin lebih menarik untuk dibaca, tetapi sebagian dapat menyesatkan pembaca.

Kami menyarankan agar Anda mengambil kesimpulan berdasarkan interpretasi Anda sendiri.

Akan tetapi, pastikan bahwa Anda mencatat bukti-bukti yang mencurigakan. Ketika dihadapi dengan informasi yang bertentangan dengan keyakinan Anda, Jangan diabaikan. Sebaliknya, tulis alasan-alasan mengapa bukti ini mungkin bersifat benar. Dengan begitu, hipotesis Anda akan bebas dari bias konfirmasi.

Masa-masa seperti ini telah membuat kita terperangkap terhadap berbagai bias kognitif. Setiap hari kita mengambil banyak keputusan dan mengalah pada bias-bias ini secara tidak sadar. Dengan transisi secara perlahan memasuki ‘new normal’, saat ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk merenungkan keputusan-keputusan kita yang terdahulu.