Relawan di Yogyakarta Gotong Royong Buat Peti Jenazah

Yogyakarta, relawan.id – Donasi peti mati, seolah gerakan tersebut terkesan satire jika dikaitkan dengan ramainya sosial media membicarakan Yogyakarta beberapa hari terakhir. Namun, nyatanya donasi tersebut benar terjadi, donasi uang untuk membuat peti mati memenuhi kebutuhan pemakaman prosedur Covid-19 yang begitu banyak terjadi di DIY.

Donasi peti mati ini diinisiasi oleh relawan alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM yang bergerak sejak empat hari ke belakang. Para relawan ini benar-benar membuat peti mati atau peti jenazah untuk mengisi kekosongan stok yang ada di rumah sakit.

Capung Indrawan, salah satu relawan didapuk sebagai pimpinan produksi, padahal ia tak punya pengalaman membuat peti mati. Capung merasa terpanggil, setelah menyaksikan begitu banyaknya pasien meninggal dunia dengan status positif Covid-19 yang mengharuskan pemakaman dengan protokol namun di sisi lain, suplai peti tak mencukupi.

“Tiga hari lalu kami mulai, Capung yang punya ide spontan menyaksikan situasi yang terjadi di Jogja. Kami merasa prihatin, jenazah yang sudah disucikan/dimandikan, harus menunggu sekian jam untuk bisa dimakamkan. Tenaga kesehatan yang mengurusi jenazah, tentu saja akan lebih terbebani, sementara risiko terinfeksi juga besar. Kami sekedar ingin memperingan beban-beban ini,” ungkap Herlambang Yudho, juru bicara relawan alumni Gelanggang Mahasiswa UGM, Kamis (8/7/2021) petang.

Awalnya, para relawan bergerak dari dana yang bersumber dari donatur untuk membeli bahan pembuatan peti. Akhirnya bersama dua tukang ahli, ditemukan bahan multipleks tebal yang aman dan kemudian disatukan menjadi peti jenazah untuk didistribusikan ke RSUP Dr Sardjito dan RSA UGM.

“Sampai hari ini kami sudah membuat 25 peti yang seluruhnya didistribusikan ke Sardjito dan RSA UGM. Kami sudah berikrar terus memproduksi selama ada dana untuk produksi,” tandasnya.

Relawan dari alumni Gelanggang UGM menaruh harapan agar situasi tidak mengenakkan karena pandemi yang memuncak ini bisa segera berakhir. Mereka pun berucap tak ingin lama-lama memproduksi peti mati untuk sesama warga DIY.

“Kami berharap bisa segera berhenti produksi, yang berarti korban meninggal karena pandemi turun atau pasokan peti mati sudah terpenuhi,” tutup Herlambang.