Tiga Tahun Bencana Gempa dan Likuefaksi Palu

Sulteng, relawan.id – Tiga tahun lalu Gempa Bumi berkekuatan M 7,7 mengguncang Kota Palu, Sigi dan Donggala di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), gempa kemudian dimutahirkan jadi M 7,4.

Gempa terjadi tepat pada tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA, dua ribu orang lebih meninggal dunia, puluhan ribu warga mengungsi dan mengalami luka-luka.

Guncangan ini memicu tsunami hingga ketinggian 4 hingga 13 meter di Kota Palu dan Donggala. Sementara itu juga mengakibatkan likuefaksi di petobo, Balaroa Kota Palu dan Jono Oge, Kabupaten Sigi.

Pusat gempa bumi atau episentrum berada di darat, sekitar Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala atau sekitar 2 jam dari Kota Palu.

Beberapa bagian wilayah di Pasigala amblas, dan beberapa bagian naik sampai 2 meter. Di Petobo, ratusan rumah tertimbun lumpur hitam dengan tinggi 3-5 meter.

Terjadi setelah gempa, tanah di daerah itu dengan lekas berubah jadi lumpur yang dengan segera menyeret bangunan-bangunan di atasnya. Di Balaroa, rumah amblas, bagai terisap ke tanah.

Laporan dan rekaman likuefaksi juga muncul dari perbatasan Kabupaten Sigi dengan Kota Palu.

Lumpur muncul dari bawah permukaan tanah dan menggeser tanah hingga puluhan meter dan akhirnya menenggelamkan bangunan dan korban hidup-hidup.

Ditaksir dua ribu lebih warga meninggal dunia, puluhan ribu warga mengungsi dan ratusan ribu bangunan rusak parah hingga rusak berat.

Ribuan bangunan dan gedung-gedung tinggi runtuh bak kiamat, situasi kala itu Guncangan gempa bumi dirasakan di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar.

3 Tahun sudah peristiwa itu berlalu, namun masih jelas di ingatan betapa dahsyatnya bencana itu menghajar Pasigala.