MRI-ACT Salurkan Bantuan untuk Para Penyintas Korban Kebakaran di Manokwari

Papua, relawan.id – Masyarakat Relawan Indonesia (MRI-ACT) menyalurkan bantuan logistik untuk para penyintas korban kebakaran yang terjadi di Borobudur, Kelurahan Padarni Distrik, Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Rabu (06/10/2021).

Relawan MRI-ACT Papua, Ridwan Kelkusa mengatakan distribusi bantuan untuk para terdampak kebakaran melibatkan relawan lokal yang berada di Manokwari untuk turut serta membantu korban musibah kebakaran yang sedang terjadi.

“Saat ini relawan MRI-ACT telah mendistribusikan logistik untuk korban kebakaran, dan Alhamdulillah respon dan sambutan yang sangat baik oleh korban kebakaran di sana terlihat ketika bertegur sapa dan memberikan logistik tersebut,” ujar Ridwan.

Sebelumnya, Ratusan rumah ludes terbakar di kawasan Borobudur, Kelurahan Padarni, Kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (30/09/2021).

Laporan dari polisi dan tim Badan SAR Nasional di lokasi kejadian, tidak ada korban jiwa namun ribuan warga di komplek nelayan ini sudah mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Kepala Polres Manokwari, AKBP Dadang K Winjaya, menyatakan, peristiwa kebakaran di kelurahan Padarni Manokwari Barat telah menghanguskan ratusan rumah penduduk. “Laporan awal tidak ada korban jiwa, hanya kerugian materiil yang masih dalam perhitungan,” kata dia.

La Oge, salah satu korban kebakaran di Borobudur, Manokwari, Papua Barat, meminta kepada pemerintah daerah agar membangun kembali rumah mereka yang terbakar.

“Kami minta Pemda Manokwari agar bisa membangun rumah kami kembali. Sehingga bisa hidup yang layak dan bisa kembali beraktifitas,” kata La Oge kepada media ini.

Dia menginginkan agar rumah yang dibangun nantinya masih sama seperti lokasi sebelumnya. Menurutnya jika berada di lokasi lain, maka akan kendala karena kesehariannya sebagai seorang nelayan.

“Kami ingin agar rumah dibangun di lokasi ini. Kami tidak bisa ke tempat lain karena mata pencarian masyarakat ini adalah nelayan. Kita kewalahan, kalau tinggal di darat,” katanya.

Ia melanjutkan, tempat tinggal atau rumah hunian sementara yang rencana dibangun pemerintah hingga kini belum diketahui secara pasti di mana lokasi yang akan dibangun.

“Kita belum tahu akan pindah ke Huntara kapan. Intinya kita menunggu kepastian dari pemerintah setempat. Namun kita harap segera direlokasi ke tempat yang lebih layak,” ungkapnya.

Menurutnya, sebagai orang yang bermata pencaharian nelayan, pastinya ia butuh makan dan menghidupi keluarga. 

“Kita minta agar secepatnya agar bisa kembali bekerja untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan anak-anaknya. Kalau kita tidak kerja istri mau makan apa,” tuturnya.