MriNews– Relawan boleh datang dan pergi. Hilang satu tumbuh seribu. Namun, relawan tangguh akan tetap berdiri tegak untuk menerima tugas-tugas kemanusiaan. Panggilan hatinya bulat. Dunia relawan adalah tempatnya menyemai benih kebaikan.

Untuk menjadi relawan, tak saja butuh semangat membara tapi juga skill dan kemampuan yang memadai. Relawan butuh pelatihan. Relawan memerlukan penggemblengan di Kawah Candradimuka. Karena kerja relawan di ruang yang punya potensi kemampuan. Jangan pernah abaikan kemampuan dan ketrampilan.

Maka, sebuah kegiatan yang dinamai Volunteer Camp lalu disiapkan. Sebuah Kawah Candradimuka untuk membangun jiwa korsa (jiwa semangat) relawan. Kegiatan ini digagas Masyarakat Relawan Indonesia wilayah Jakarta Raya, pada 3-4 Maret 2018 mengambil tempat di Pulau Situ Gintung, Ciputat.

Volunteer Camp kali ini punya nuansa berbeda karena ingin menitik beratkan pada Urban Volunteer. Materi yang diberikan sedikit dimodifikasi, mengingat wilayah Jakarta raya meliputi wilayah perkotaan. Maka menerapkan materi urban dirasa pas.

Diikuti tak kurang dari 112 peserta yang datang dari berbagai profesi. Ada mahasiswa, pegawai swasta, pns, aktifis, wiraswasta  hingga ibu rumah tangga. Rata-rata kehadiran relawan ini ingin menambah pengalaman, menambah ketrampilan hingga ada yang memang ingin menjadi relawan profesional. Terkait motivasi, relawan memang punya passion masing-masing.

Maka untuk itulah MRI membuka beberapa cluster kerelawanan. Sebuah ruang berkarya untuk relawan yang punya minat khusus. Volunteer Camp batch 17 dibuka pada Sabtu, 3 Maret jam 09: 00 pagi. Bertindak sebagai inspektur upacara Dicky Irawan , Ketua wilayah MRI Jakarta Raya.

Setelah pembukaan, sesi pertama diisi oleh Direktur eksekutif Dwiko Hari Dastriadi yang membawakan materi tentang Spirit Kerelawanan dan Kelembagaan ACT MRI. Materi ini menjadi dasar bagi relawan untuk bergerak. Motivasi relawan haruslah benar dan lurus, karena dunia relawan memiliki karakteristik yang kuat. Beban pengabdian relawan cukuplah berat.

Upacara pembukaan, Volunteer Class Batch 17 di Pulau Situ Gintung (dok : MRI Jakray )

Relawan Bencana Masih Paling Diminati

MRI dan tentunya ACT memang lekat dengan dunia kebencanaan. Boleh dibilang ACT lahir dari Bencana Gempa dan Tsunami Aceh pada 2004. Gempa terbesar abad ini memang punya pengaruh luas. Banyak pelajaran penting didapat dari Gempa dan Tsunami Aceh. Penanganan kebencanaan menjadi core ACT MRI, maka wajar bila bencana dan ACT MRI seperti dua mata uang.

Dari semua cluster kerelawanan, pilihan terhadap cluster kebencanaan masih yang tertinggi diantara cluster lainnya. Selain lebih menantang, kegiatan pelatihan relawan bencana ternyata jauh lebih banyak dan lebih massif.

Volunteer Camp  batch 17 masih berkisar tentang  ranah kebencanaan, Materi Total Disaster Management (TDM). Diberikan langsung oleh narasumber yang kompeten. Seorang trainer dari Disasater Management Institute Indonesia (DMII), Ubaidillah.

Selain itu Volunteer Camp Batch 17 juga memberikan materi tentang First Aider (FA) yang diberikan langsung seorang trainer dan praktisi,  Krisdiansyah. Materi ini merupakan materi dasar dan wajib dimiliki seorang relawan. Apalagi bila relawan ini memilih cluster kebencanaan. Maka, materi FA harus dikuasai dengan baik.

Materi water rescue yang menjadi bekal relawan untuk menolong korban pada bencana banjir . Seperti diketahui Jakarta merupakan wilayah yang sering terpapar banjir. Bahkan ada mitos Banjir besar lima tahunan. Maka, materi water rescure menjadi ketrampilan yang banyak diminati relawan.

Mendayung perahu, mengevakuasi korban dari air atau SAR air merupakan bagian dari latihan yang diberikan. Relawan diharapkan mampu menjadi tim rescue  bila dibutuhkan. Titik banjir di Jabotabek terbilang cukup banyak. Tersebar hingga ditiap wilayah. Mulai Jakarta Selatan, timur, pusat, utara hingga barat. Selain Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Bogor juga memiliki titik-titik banjir.

Banjir memang menjadi momok yang menjadi perhatian relawan MRI Jakarata Raya. Untuk itu Volunteer Camp Batch 17 memberikan perhatian khusus untuk jenis pelatihan ini.

Lukman Sholehudin dari Disaster Emergency Respon Management (DERM) memberikan teori  tentang Water Rescue, selain teori , pelatihan langsung diadakan di Pulau Situ Gintung dengan pemateri seorang praktisi rescue dari Kota Sukabumi, Siti Mariam yang juga kordinator daerah MRI Sukabumi.

Materi pendirian tenda, wajib dikuasai relawan (dok : MRI Jakray)

Selain Water Rescue, Volunteer Camp Batch 17 Jakarta Raya juga memeberikan ketrampilan Fire Rescue. Bahaya kebakaran merupakan bencana yang paling sering menghantui Jakarta yang padat. Pemukiman yang rapat, bahan bangunan yang mudah terbakar hingga kelalaian dalam instalasi listrik seringkali menjadi pemicu bencana kebakaran di Jakarta.

Materi Fire Rescue diberikan langsung oleh Gamal Abdul Nasser. Seorang trainer yang berpengalaman dibidang pemadaman api menggunakan APAR (alat pemadam api ringan) dan karung basah.

Metode ini memang lebih cocok digunakan pada perumahan dan pemadaman skala kecil. Karena api besar selalu dimulai dari api kecil. Dengan memahami penanggulan kebakaran maka diharapkan relawan mampu mempraktekkan dalam keadaan emergensi ditempatnya masing masing.

Social Development , ketrampilan untuk Relawan Urban

Volunteer Camp Batch 17, rupanya ingin memberikan ketrampilan urban social development. Ketrampilan yang bisa digunakan untuk relawan pemberdayaan dilingkungannya. Jakarta sebagai kota megapolitan punya masalah sosial yang cukup rentan.

Kemiskinan, kesenjangan, pengangguran, kekerasan rumah tangga hingga masih adanya kantong pemukiman kumuh di Jakarta menjadi tantangan tersendiri. Relawan social development menjadi garda terdepan untuk masuk dan melakukan kegiatan social development untuk memberikan solusi, ketrampilan hingga penguatan ekonomi.

Ditengah derasnya kehidupan kota besar yang egois, tertutup dan eksklusif. Relawan social development bisa memberikan ketrampilan alternatif kepada wilayah kumuh dan miskin. Menjadi solusi bagi kehidupan marjinal kota. Bukan tidak mungkin relawan akan menjadi salah satu alternatif penyelesai masalah kemiskinan kota .

Materi sosial development diberikan langsung oleh praktisi lingkungan dan Bank Sampah, Iwan Setiawan. Diharapkan relawan memahami metode sosial development dengan pendekatan perkotaan (urban).

Volunteer Camp Batch 17 telah berakhir , namun semangatnya tak akan padam. Relawan tangguh telah lahir kembali. (RN)